Benarkah Minum Es Setelah Makan Daging Bikin Lemak Membeku? Simak Penjelasan Medis Ini
Selasa, 26 Mei 2026 21:34 WIB
Kabarmalam.com — Perayaan hari besar seperti Idul Adha sering kali menjadi ajang pesta kuliner berbahan dasar daging, mulai dari sate yang menggugah selera hingga gulai penuh bumbu. Di tengah kenikmatan tersebut, muncul sebuah kekhawatiran klasik yang kerap menghantui meja makan: benarkah meminum air es atau minuman dingin setelah menyantap makanan berlemak bisa membuat lemak membeku di dalam tubuh?
Anggapan ini begitu populer sehingga banyak orang yang merasa berdosa saat memesan es teh manis sebagai pendamping makan siang mereka. Namun, benarkah secara medis suhu dingin dapat mengubah tekstur lemak dalam saluran pencernaan kita menjadi keras?
Mitos yang Tak Berdasar Secara Medis
Menanggapi fenomena ini, dr. Aru Ariadno, SpPD-KGEH, seorang dokter spesialis penyakit dalam sekaligus konsultan gastroenterologi-hepatologi dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, memberikan pencerahan. Menurutnya, ketakutan akan lemak yang membeku akibat air dingin hanyalah mitos belaka yang tidak didasarkan pada prinsip kesehatan tubuh yang benar.
“Sangat tidak mungkin lemak membeku di dalam tubuh hanya karena kita minum air dingin. Ketika minuman masuk ke kerongkongan hingga ke usus, suhunya tidak akan tetap dingin melainkan langsung menyesuaikan dengan suhu internal tubuh kita,” ungkap dr. Aru dalam sebuah kesempatan diskusi medis.
Kecanggihan Sistem Thermoregulation Tubuh
Tubuh manusia adalah mesin biologis yang sangat canggih. Kita memiliki mekanisme yang disebut sebagai thermoregulation atau pengaturan suhu tubuh secara otomatis. Artinya, apa pun yang kita konsumsi—baik itu es krim yang sangat dingin maupun sup yang sangat panas—suhunya akan segera dinormalkan oleh tubuh agar sesuai dengan suhu inti manusia yang berada di kisaran 36-37 derajat Celcius.
Hal ini diperkuat oleh riset yang dipublikasikan dalam jurnal Gut. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa meskipun suhu di dalam lambung bisa berubah sesaat setelah kita menelan minuman dingin, kondisi tersebut hanya bertahan sekitar 20 hingga 30 menit sebelum akhirnya kembali ke suhu normal tubuh. Dengan kata lain, tidak ada cukup waktu bagi suhu dingin tersebut untuk secara permanen mengubah struktur lemak jahat menjadi beku di dalam sistem pencernaan.
Waspadai Gula, Bukan Suhunya
Menariknya, dr. Aru justru mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada pada aspek lain yang sering terabaikan saat mengonsumsi es teh manis atau minuman segar lainnya sebagai pendamping daging kurban. Masalah utamanya bukanlah pada suhu dinginnya, melainkan pada kandungan glukosa atau gula di dalamnya.
“Yang justru harus diperhatikan bukan esnya, tapi manisnya. Kandungan karbohidrat dan glukosa dalam minuman manis itulah yang sebenarnya berbahaya bagi kesehatan,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa bagi individu yang memiliki risiko diabetes atau kolesterol tinggi, asupan gula berlebih akan diproses oleh tubuh dan disimpan dalam bentuk cadangan lemak.
Jadi, biang kerok dari penumpukan lemak bukanlah segelas air es, melainkan lonjakan kadar gula darah yang kemudian memicu pembentukan jaringan lemak baru. Memperhatikan pola makan secara keseluruhan dan membatasi konsumsi gula jauh lebih krusial daripada merisaukan suhu minuman yang Anda teguk.
Sebagai penutup, menikmati hidangan daging di hari raya tentu boleh-boleh saja, asalkan dilakukan dengan bijak. Pastikan asupan serat tetap terjaga dan kurangi minuman bersoda atau teh dengan gula berlebih agar kesehatan jantung dan pembuluh darah tetap terlindungi.