Getar Emosi Megawati Soekarnoputri Sambut Dubes Palestina: Narasi Duka dan Keteguhan Diplomasi Indonesia
Senin, 25 Mei 2026 21:04 WIB
Kabarmalam.com — Suasana haru menyelimuti kediaman Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Dalam sebuah pertemuan yang sarat akan makna simbolis dan kemanusiaan, Megawati menerima kunjungan Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah AK Alsattari, yang membawa kabar duka sekaligus harapan dari tanah para nabi.
Pertemuan yang berlangsung pada Senin tersebut menjadi panggung bagi Dubes Alsattari untuk menumpahkan realita pahit yang sedang dihadapi rakyatnya. Ia memaparkan betapa agresi yang terjadi telah melumat puluhan ribu bangunan dan merenggut nyawa warga sipil yang tak berdosa. Narasi yang disampaikan bukan sekadar angka statistik, melainkan tentang hilangnya masa depan anak-anak dan ketangguhan para ibu yang harus bertahan di tengah reruntuhan.
“Puluhan ribu rumah musnah, rakyat menderita, dan mayoritas korbannya adalah ibu serta anak-anak. Hal yang memilukan, sekitar 200 jurnalis juga gugur saat mencoba mewartakan kebenaran. Israel sedang berupaya menghancurkan harapan rakyat Palestina,” ujar Alsattari dengan nada berat.
Lebih lanjut, Dubes Alsattari menepis klaim bahwa serangan yang dilakukan hanya menyasar kelompok tertentu. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa fasilitas publik seperti rumah sakit, sekolah, hingga tempat ibadah turut menjadi sasaran brutal. Ia menyampaikan apresiasi mendalam atas konsistensi Megawati dalam menyuarakan hak-hak kemerdekaan Palestina di kancah internasional.
Isak Tangis dan Warisan Bung Karno
Mendengar penuturan tersebut, Megawati Soekarnoputri tak mampu membendung air matanya. Ketua Umum PDI Perjuangan ini terisak saat mengenang kembali memori sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan yang pernah diceritakan oleh ayahandanya, Sang Proklamator Bung Karno. Baginya, penderitaan Palestina adalah luka yang juga dirasakan oleh Indonesia.
Ia menegaskan bahwa semangat Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung tahun 1955 masih tetap menyala. Megawati mengingatkan dunia bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan Indonesia memegang teguh prinsip untuk tidak membuka hubungan diplomatik dengan Israel selama Palestina belum berdaulat penuh di tanah mereka sendiri.
“Israel mungkin bisa menghancurkan fisik bangunan, namun saya yakin di setiap dada rakyat Palestina mengalir semangat yang takkan pernah padam. Persis seperti sejarah Indonesia, saya percaya suatu saat kemerdekaan paripurna itu akan tercapai,” tegas Megawati dengan penuh keyakinan.
Seruan Reformasi PBB dan Simbol Kemenangan
Dalam kesempatan tersebut, Megawati juga melontarkan kritik tajam terhadap dinamika geopolitik global. Ia mendesak agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera melakukan reformasi struktural guna meningkatkan perannya dalam meredam turbulensi politik dunia yang kian memanas.
Sebagai penutup pertemuan yang emosional itu, Dubes Alsattari menyampirkan kafiyeh merah di bahu Megawati. Ia juga mengangkat jari membentuk simbol ‘V’ atau victory sebagai simbol doa untuk kemenangan Palestina. Megawati pun memberikan pesan singkat namun sarat penguatan: “Be strong.”
Pertemuan tingkat tinggi ini turut dihadiri oleh jajaran petinggi PDIP, di antaranya Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto, Ketua DPP Ahmad Basarah, Direktur Hubungan Luar Negeri Hanjaya Setiawan, serta politikus muda M. Guntur Romli.