Ikuti Kami
kabarmalam.com

Kesaksian Pilu Relawan Flotilla: Cerita di Balik Siksaan dan Intimidasi Militer Israel yang Mengguncang Jiwa

Husnul | kabarmalam.com
Minggu, 24 Mei 2026 20:34 WIB
Kesaksian Pilu Relawan Flotilla: Cerita di Balik Siksaan dan Intimidasi Militer Israel yang Mengguncang Jiwa

Kabarmalam.com — Isak tangis pecah di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta pada Minggu sore (24/5/2026) saat sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi relawan kemanusiaan Global Sumud Flotilla akhirnya tiba di tanah air. Namun, kepulangan mereka membawa luka batin dan fisik yang mendalam setelah melewati hari-hari kelam di bawah tekanan militer Israel.

Herman Budianto Sudarson, salah satu relawan, tidak kuasa menahan air mata saat menceritakan kembali horor yang ia dan rekan-rekannya alami selama masa penahanan. Dalam konferensi pers ketibaan, Herman mengungkapkan bahwa kekerasan fisik adalah makanan sehari-hari bagi mereka yang ditangkap. Dari pelanggaran hak asasi manusia hingga penyiksaan fisik yang brutal, semua terekam jelas dalam ingatannya.

Diperlakukan Layaknya Binatang

Herman memaparkan pemandangan memilukan di mana banyak rekan sesama relawan mengalami cedera fatal. Ia menyebutkan ada sekitar 40 orang yang menderita patah tulang rusuk, patah kaki, tangan, hingga hidung. Bahkan, beberapa di antaranya harus menahan rasa sakit akibat luka tembak.

Baca Juga  Misi Kemanusiaan Berujung Kepulangan: 9 Relawan WNI yang Ditahan Israel Tiba di Jakarta Besok Sore

“Kami diperlakukan tidak manusiawi, benar-benar seperti hewan,” ujar Herman dengan suara bergetar. Ia juga menyinggung adanya kasus pelecehan seksual yang dialami baik oleh tahanan laki-laki maupun perempuan selama proses interogasi dan penahanan yang panjang di penjara Israel.

Meski telah melewati trauma hebat, Herman menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa. Baginya, apa yang ia alami belum sebanding dengan penderitaan rakyat di Gaza. “Apa yang kami lakukan ini sangat kecil. Saudara-saudara kita di Palestina jauh lebih menderita. Hal ini tidak lantas membuat kami merasa paling berjasa,” ucapnya sambil terisak.

Siksaan Setrum dan Bilik Interogasi

Pengakuan yang tak kalah mengerikan datang dari Rahendro Heruwibowo. Ia menceritakan bagaimana dirinya menjadi sasaran kemarahan tentara. Rahendro mengaku dipukul berulang kali di bagian kepala dan badan, hingga jatuh tersungkur dan diinjak-injak. Siksaan baru berhenti setelah ia menjerit kesakitan akibat sengatan listrik dari alat setrum militer.

Baca Juga  Dedikasi Membangun Negeri, Direktur Pegadaian Selfie Dewiyanti Sabet Penghargaan Indonesia Leading Women Awards 2026

“Selama perjalanan, perlakuan mereka sangat kasar. Tangan diborgol sangat kencang, sengaja dipermainkan agar sakit. Kalau kita jalan menunduk lalu jatuh, mereka justru menendang kita,” kenang Rahendro. Ia juga menyebut adanya bilik-bilik khusus di daratan yang tampaknya memang disiapkan oleh tentara Israel sebagai ruang penyiksaan bagi para relawan.

Kronologi Penangkapan dan Pemulangan

Insiden ini bermula pada Senin (18/5) ketika kapal-kapal bantuan kemanusiaan dalam misi Global Sumud Flotilla (GSF) dicegat secara paksa oleh angkatan laut Israel di perairan internasional. Setelah melalui proses diplomasi yang alot, sembilan relawan asal Indonesia akhirnya dibebaskan pada Kamis (21/5) dan diterbangkan ke Turki sebelum akhirnya kembali ke Jakarta.

Kedatangan mereka disambut hangat oleh keluarga dan aktivis kemanusiaan yang membawa bendera Palestina serta spanduk dukungan. Suasana haru dan sorakan bangga menggema saat para pahlawan kemanusiaan ini melangkah keluar mengenakan keffiyeh khas Palestina.

Baca Juga  Kisah Haru Kepulangan 9 Relawan Global Sumud Flotilla ke Tanah Air Usai Ditahan Militer Israel

Daftar Relawan WNI yang Menjadi Korban:

Berikut adalah sembilan nama relawan kemanusiaan yang sempat ditahan dan mengalami tindak kekerasan oleh otoritas Israel:

  • Herman Budianto Sudarson (GPCI-Dompet Dhuafa) – Kapal Zapyro
  • Ronggo Wirasanu (GPCI-Dompet Dhuafa) – Kapal Zapyro
  • Andi Angga Prasadewa (GPCI-Rumah Zakat) – Kapal Josef
  • Asad Aras Muhammad (GPCI-Spirit of Aqso) – Kapal Kasr-1
  • Hendro Prasetyo (GPCI-SMART 171) – Kapal Kasr-1
  • Bambang Noroyono (Republika) – Kapal BoraLize
  • Thoudy Badai Rifan Billah (Republika) – Kapal Ozgurluk
  • Andre Prasetyo Nugroho (Tempo) – Kapal Ozgurluk
  • Rahendro Herubowo (Tim Media GPCI dan iNews) – Kapal Ozgurluk

Kisah mereka menjadi pengingat bagi dunia akan risiko besar yang dihadapi para relawan kemanusiaan demi menembus blokade dan menyampaikan bantuan ke wilayah konflik.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul