Bukan Sekadar Makanan Kemasan, Ini 5 Produk yang Sering Keliru Dicap Sebagai UPF
Minggu, 24 Mei 2026 12:34 WIB
Kabarmalam.com — Gelombang diskusi mengenai Ultra-Processed Food (UPF) kian deras mengalir di berbagai platform media sosial. Fenomena ini memicu kekhawatiran kolektif, di mana banyak orang mulai memandang sinis setiap produk dalam kemasan dan melabelinya sebagai makanan tidak sehat. Namun, benarkah semua yang dikemas secara industrial otomatis masuk dalam kategori ‘jahat’ tersebut?
Dunia nutrisi sebenarnya jauh lebih kompleks dari sekadar label kemasan. Banyak produk yang sering dituduh sebagai UPF ternyata masih menyimpan kandungan nutrisi tubuh yang esensial, seperti protein, vitamin, hingga mineral. Penting bagi kita untuk memahami bahwa tidak semua proses pengolahan pangan diciptakan sama.
Meluruskan Stigma: Antara Olahan dan Ultra-Olahan
Untuk memberikan perspektif yang lebih jernih, berikut adalah beberapa produk yang sering menjadi korban salah paham dalam klasifikasi UPF:
1. Ikan Sarden Kalengan
Sering kali sarden kalengan dianggap sebagai makanan rendah nutrisi karena kemasannya. Faktanya, klasifikasi sarden bergantung sepenuhnya pada komposisi bahan di dalamnya. Jika sarden tersebut hanya berisi ikan, garam, minyak, atau saus tomat alami, maka ia lebih tepat masuk dalam kategori processed foods yang masih sangat layak konsumsi. Namun, ceritanya akan berbeda jika produk tersebut telah dibubuhi berbagai pengental, pemanis buatan, atau bahan tambahan pangan lainnya yang kompleks.
2. Susu UHT
Susu UHT (Ultra-High Temperature) sering menjadi bahan perdebatan panjang di kalangan peneliti. Susu UHT varian plain atau tawar umumnya dianggap sebagai produk olahan minimal. Namun, ketika susu tersebut berubah menjadi varian rasa dengan tambahan perisa kimiawi dan pemanis yang tinggi, barulah produk tersebut bergeser statusnya menjadi bagian dari kelompok UPF yang perlu diwaspadai dalam pola gaya hidup sehat.
3. Yogurt
Yogurt sering kali ikut terseret dalam stigma negatif UPF, terutama produk yang dijual di rak-rak supermarket dengan aneka rasa buah. Memang benar, yogurt dengan tambahan pemanis berlebih masuk dalam kategori ultra-olahan. Namun, banyak penelitian menunjukkan bahwa yogurt—bahkan yang diproses sekalipun—memiliki dampak kesehatan yang berbeda dan cenderung lebih positif dibandingkan kelompok UPF lain seperti minuman bersoda.
4. Nugget dan Bakso
Dalam kategori ini, kejujuran label adalah kunci. Sebagian besar nugget dan bakso produksi massal memang masuk dalam kategori UPF karena penggunaan pengikat, pengawet, dan flavoring yang dominan. Meski begitu, bakso tradisional atau olahan rumahan dengan komposisi daging murni yang tinggi dan bahan-bahan sederhana tetap memiliki klasifikasi yang jauh lebih sehat dibanding produk industri massal.
5. Roti Gandum dan Sereal Tertentu
Ini adalah bagian yang paling sering membingungkan konsumen. Berdasarkan sistem klasifikasi NOVA, beberapa jenis roti gandum utuh (whole-grain bread) dan sereal tetap bisa dikategorikan sebagai UPF karena proses formulasinya. Namun, para ahli kesehatan menekankan bahwa dampak kesehatan dari roti gandum tetap jauh lebih baik jika dibandingkan dengan daging olahan atau minuman manis, meskipun keduanya berada di bawah payung UPF yang sama.
Bijak dalam Memilih Konsumsi Daily
Menghindari stigma buta terhadap makanan kemasan adalah langkah awal menuju pola makan yang lebih cerdas. Fokus utama seharusnya bukan hanya pada label ‘kemasan’ atau ‘tidak kemasan’, melainkan pada pemahaman mendalam mengenai daftar bahan yang tertera di balik kemasan tersebut.
Dengan pemahaman yang tepat mengenai kesehatan masyarakat dan nutrisi, kita dapat lebih bijak menentukan mana produk yang benar-benar memberikan manfaat bagi tubuh dan mana yang sekadar menawarkan kepraktisan tanpa nilai gizi yang berarti.