Ikuti Kami
kabarmalam.com

Bandung Membiru: Membedah Rahasia Psikologis di Balik ‘Collective Euphoria’ Usai Persib Cetak Hat-trick Juara

Wahid | kabarmalam.com
Minggu, 24 Mei 2026 11:36 WIB
Bandung Membiru: Membedah Rahasia Psikologis di Balik 'Collective Euphoria' Usai Persib Cetak Hat-trick Juara

Kabarmalam.com — Kota Bandung seolah berhenti berdenyut untuk urusan lain dan sepenuhnya bertransformasi menjadi lautan biru yang membara. Keberhasilan Persib Bandung mengunci gelar juara Super League musim 2025/2026 tidak hanya menjadi catatan statistik di atas kertas, tetapi juga memicu gelombang emosi yang luar biasa di seluruh sudut kota. Kemenangan ini terasa kian spesial karena sang Maung Bandung berhasil mencatatkan sejarah dengan meraih gelar juara untuk ketiga kalinya secara berturut-turut atau hat-trick.

Atmosfer Juara Sejak Dini Hari

Sejak mentari belum sepenuhnya menampakkan diri, kawasan Jalan Asia Afrika sudah sesak oleh ribuan Bobotoh yang datang dari berbagai penjuru. Meski parade perayaan secara resmi dijadwalkan mulai pukul 07.00 WIB, nyatanya gempita kemenangan sudah pecah sejak dini hari. Suara knalpot, nyanyian kejayaan, dan kibaran bendera kebesaran menjadi pemandangan yang mendominasi jantung Kota Kembang.

Baca Juga  BGN Soroti Vitalnya Peran Chef dan Pengawas Gizi: Nyawa Program Makan Bergizi Gratis Ada di Dapur

Dampak ekonomi dari euforia ini pun langsung terasa. Mang Jek, seorang pedagang bubur ayam yang biasa mangkal di sekitaran Asia Afrika, mengaku kewalahan melayani pembeli yang sudah membanjiri lapaknya jauh lebih awal dari biasanya. “Saya sudah mulai jualan dari jam 6 sore kemarin, lalu lanjut lagi jam 3 subuh tadi. Bobotoh tidak ada habisnya, suasana ramai terus sampai sekarang,” ungkapnya dengan raut wajah lelah namun ikut sumringah menyaksikan kegembiraan massa.

Bedah Psikologis: Mengapa Kita Begitu Fanatik?

Pesta pora dan konvoi besar-besaran yang selalu menyertai kemenangan tim sepak bola besar seringkali memicu pertanyaan: mengapa olahraga mampu menggerakkan massa sedemikian masif? Menanggapi fenomena ini, pakar kesehatan mental sekaligus spesialis kedokteran jiwa, dr. Lahargo Kembaren SpKJ, memberikan penjelasan menarik.

Baca Juga  Kisah Medis Langka: Ketika Gejala Diabetes Ternyata Sembunyikan Serangan Autoimun Ganda APS-2

Menurutnya, sepak bola telah bergeser dari sekadar kompetisi fisik menjadi sebuah pengalaman emosional kolektif yang sangat mendalam. Saat sebuah tim meraih puncak kejayaan, yang dirasakan oleh para pendukungnya bukanlah sekadar rasa senang personal, melainkan sebuah fenomena yang disebut Collective Euphoria.

Dopamin dan Rasa Memiliki

“Secara mendasar, manusia memiliki kebutuhan psikologis untuk menjadi bagian dari sebuah kelompok atau komunitas besar. Dalam dunia psikologi olahraga, fans tidak hanya memposisikan diri sebagai penonton, melainkan merasa ikut ‘hidup’ dan berjuang bersama klub pujaannya,” jelas dr. Lahargo.

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa saat momen juara terjadi, otak manusia secara otomatis melepaskan hormon-hormon kebahagiaan seperti dopamin dan oksitosin. Hormon-hormon inilah yang bertanggung jawab memicu rasa bangga, senang yang meluap-luap, hingga kedekatan sosial antar sesama pendukung yang mungkin sebelumnya tidak saling kenal.

Baca Juga  Seni Intimidasi 'Dingin' Haaland dan Cherki: Mengapa Arsenal Dibuat Gentar di Etihad?

“Inilah alasan mengapa kebahagiaan itu terasa berlipat ganda saat dirayakan bersama-sama melalui konvoi atau nyanyian di jalanan. Ada perasaan bahwa ‘kami telah berjuang dan menunggu bersama’, yang membuat ikatan emosional tersebut menjadi sangat kuat,” tambahnya.

Kini, Bandung tidak hanya sedang merayakan sebuah trofi, tetapi juga merayakan identitas dan kebersamaan yang telah terpupuk lewat loyalitas tanpa batas. Bagi masyarakat Jawa Barat, Persib adalah simbol harga diri, dan euforia kolektif ini adalah cara paling jujur untuk mengekspresikan cinta mereka pada sang pangeran biru.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid