Ikuti Kami
kabarmalam.com

Gejolak di Jantung Intelijen AS: Tulsi Gabbard Mundur di Tengah Pusaran Perang Iran

Husnul | kabarmalam.com
Sabtu, 23 Mei 2026 21:36 WIB
Gejolak di Jantung Intelijen AS: Tulsi Gabbard Mundur di Tengah Pusaran Perang Iran

Kabarmalam.com — Kabar mengejutkan datang dari koridor kekuasaan Washington D.C. Tulsi Gabbard, sosok sentral yang menjabat sebagai Direktur Intelijen Nasional (DNI) Amerika Serikat, secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan prestisius tersebut. Meski alasan kemanusiaan menjadi narasi utama di balik keputusan ini, aroma ketegangan politik dengan Presiden Donald Trump terkait eskalasi militer di Timur Tengah sulit untuk diabaikan.

Gabbard dijadwalkan menanggalkan posisinya pada 30 Juni mendatang. Dalam surat emosional yang diunggahnya ke platform X, mantan anggota Kongres ini mengungkapkan bahwa fokus utamanya saat ini adalah mendampingi sang suami, Abraham Williams, yang tengah berjuang melawan penyakit kanker tulang yang sangat langka. Williams, seorang sinematografer yang melamar Gabbard dalam suasana romantis saat berselancar di Hawaii, kini menghadapi masa-masa sulit dalam perawatannya.

Baca Juga  Skandal Gratifikasi Kementerian PU: Eks Dirjen SDA Ditahan Atas Dugaan Suap Rp 2 Miliar dan Mobil Mewah

“Saat ini, saya harus menarik diri dari pengabdian publik demi mendampingi dan mendukung penuh perjuangannya,” tulis Gabbard. Keputusan ini mendapatkan apresiasi publik dari Presiden Donald Trump melalui saluran Truth Social. Trump menyebut kinerja Gabbard selama memimpin 18 badan intelijen AS sebagai sesuatu yang luar biasa dan menyatakan dukungannya atas keputusan Gabbard untuk memprioritaskan keluarga.

Teka-teki di Balik Meja Perundingan

Namun, di balik narasi kesetiaan keluarga, berhembus kabar burung mengenai adanya tekanan dari Gedung Putih. Sejumlah sumber internal membisikkan bahwa hubungan antara Gabbard dan Trump merenggang akibat perbedaan pandangan tajam soal strategi militer melawan Iran. Sebagai penganut paham anti-intervensi, Gabbard kerap berseberangan dengan kebijakan agresif yang diambil pemerintahan Donald Trump.

Baca Juga  Tensi Memanas: Trump Ancam 'Kiamat' Peradaban, Iran Tegaskan Siap Hadapi Skenario Terburuk

Ketegangan ini mencapai puncaknya ketika Gabbard dilaporkan absen dalam pertemuan krusial di Ruang Oval sesaat sebelum AS meluncurkan serangan ke Iran pada Februari lalu. Sejak perang pecah, Gabbard tampak sangat berhati-hati dan enggan memberikan dukungan terbuka terhadap klaim pemerintah mengenai ancaman nuklir Teheran. Ia bahkan secara berani menyatakan bahwa data intelijen menunjukkan Iran tidak membangun kembali fasilitas pengayaan nuklir yang telah hancur—pernyataan yang langsung ditepis oleh Trump.

Eksodus Pejabat di Kabinet Trump

Mundurnya Gabbard menambah panjang daftar pejabat wanita yang meninggalkan lingkaran dalam Trump. Sebelum ini, publik telah menyaksikan pencopotan Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem dan Jaksa Agung Pam Bondi. Mundurnya Gabbard juga menyusul langkah Joe Kent, penasihat utamanya, yang lebih dulu hengkang karena memprotes arah kebijakan perang Iran yang dianggap tidak tepat.

Baca Juga  Misi Penting di Beijing: Trump dan Xi Jinping Jamin Selat Hormuz Tetap Terbuka Demi Stabilitas Energi Dunia

Untuk menjaga stabilitas keamanan nasional, posisi Direktur Intelijen Nasional sementara akan diisi oleh Aaron Lukas sebagai Pelaksana Tugas (Plt). Publik kini menanti, apakah transisi kepemimpinan di badan intelijen ini akan mengubah peta strategi Amerika Serikat dalam menghadapi konflik global yang kian memanas, ataukah ini sekadar babak baru dari dinamika internal yang tak kunjung usai di Washington.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul