Debat Viral Sarden Kalengan: Menakar Ulang Stigma ‘UPF Tidak Sehat’ Bersama Pakar IPB
Sabtu, 23 Mei 2026 08:04 WIB
Kabarmalam.com — Jagat media sosial baru-baru ini diramaikan oleh diskusi hangat mengenai label ultra-processed food (UPF). Perhatian publik tertuju pada sarden kalengan, yang mendadak ‘naik kasta’ dan dipuji-puji setelah muncul penjelasan bahwa produk tersebut tidak masuk dalam kategori UPF. Pergeseran opini ini seolah menciptakan narasi tunggal: jika sebuah produk bukan UPF, maka ia otomatis menyehatkan, dan sebaliknya.
Namun, benarkah realitanya sesederhana itu? Fenomena ini memicu kekhawatiran di kalangan ilmuwan pangan karena adanya penyederhanaan berlebih terhadap kualitas makanan sehat di mata masyarakat. Banyak orang mulai memusuhi produk kemasan seperti mi instan, nugget, hingga sosis secara membabi buta hanya karena embel-embel ‘terlalu diproses’.
Kritik Pakar: Bahaya di Balik Bias Istilah UPF
Menanggapi polemik ini, Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, pakar teknologi pangan terkemuka dari IPB University, mengajak masyarakat untuk lebih jernih dalam melihat masalah ini. Menurutnya, konsep UPF sendiri sebenarnya masih menjadi ladang perdebatan di dunia ilmiah karena definisinya yang dinilai kurang kokoh dan sering kali memicu multitafsir.
“Masalah utamanya adalah istilah UPF ini belum terdefinisi dengan baik secara ilmiah. Akibatnya, penerapannya di lapangan sering kali bias dan tidak konsisten,” ungkap Prof. Purwiyatno. Ia menyoroti bagaimana sebuah produk sering kali langsung mendapat stigma negatif begitu dicap sebagai UPF, tanpa melihat kandungan nutrisi yang sebenarnya ada di dalamnya.
Jangan Terjebak Label, Lihat Kandungan Gizinya
Lebih lanjut, Prof. Purwiyatno menjelaskan bahwa banyak produk pangan olahan yang sebenarnya memiliki kontribusi positif terhadap asupan nutrisi masyarakat namun justru terkena getah dari stigma ini. Teknologi pangan modern sejatinya diciptakan untuk menjaga keamanan dan kualitas nutrisi dalam jangka waktu lama.
“Sangat disayangkan jika produk yang aman dan bergizi, seperti susu UHT, pangan fortifikasi, bahkan produk-produk lokal dari UMKM, ikut terseret ke dalam sentimen negatif ‘UPF itu jahat’. Padahal, produk-produk tersebut telah memenuhi standar keamanan pangan yang ketat,” tambahnya. Ia menekankan bahwa kualitas sebuah hidangan tidak bisa hanya diukur dari panjang atau pendeknya daftar bahan di label kemasan.
Panduan Bijak Menilai Kualitas Pangan
Alih-alih hanya terpaku pada apakah sebuah makanan masuk kategori UPF atau tidak, Prof. Purwiyatno menyarankan agar konsumen melihat gambaran besar dari pola makan mereka. Ada beberapa poin krusial yang harus diperhatikan untuk menjaga kesehatan tubuh:
- Keamanan Pangan: Pastikan produk telah teruji dan aman dari kontaminasi.
- Komposisi Nutrisi: Perhatikan keseimbangan protein, vitamin, dan mineral di dalamnya.
- Porsi dan Frekuensi: Sehat atau tidaknya sebuah makanan sangat bergantung pada seberapa banyak dan seberapa sering kita mengonsumsinya.
- Konteks Pola Makan: Apakah makanan tersebut dikonsumsi bersama sumber gizi lain yang beragam?
Pada akhirnya, manfaat kesehatan dari sebuah produk pangan, termasuk sarden kalengan, sangat bergantung pada keseimbangan pola makan secara menyeluruh. “Dampak kesehatan tidak bisa dinilai secara parsial hanya dari satu kategori. Yang terpenting adalah keberagaman pangan dan porsi yang wajar, bukan sekadar pelabelan yang kaku,” pungkasnya. Dengan pemahaman yang lebih mendalam, diharapkan masyarakat tidak lagi terjebak dalam tren kesehatan yang bersifat musiman namun kurang landasan ilmiah.