Misi Kemanusiaan Berujung Duka: Dokter AS Terinfeksi Ebola di Kongo, Dievakuasi ke Jerman
Kamis, 21 Mei 2026 17:34 WIB
Kabarmalam.com — Kabar mengejutkan datang dari garis depan perjuangan medis di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo). Seorang dokter berkebangsaan Amerika Serikat dilaporkan positif terinfeksi virus Ebola setelah berjuang menyelamatkan nyawa pasien di meja operasi. Kejadian tragis ini menimpa Dr. Peter Stafford, seorang tenaga medis yang telah mengabdikan dirinya di wilayah konflik tersebut sejak tahun 2023.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Dr. Stafford diduga kuat terpapar virus Ebola saat sedang menjalankan prosedur pembedahan di Rumah Sakit Nyankunde, yang terletak di wilayah Bunia, bagian timur Kongo. Kabar ini dikonfirmasi langsung oleh US Center of Disease Control and Prevention (CDC) dan kelompok misionaris medis Serge pada Senin (18/5/2026) waktu setempat. Mengingat kondisi medisnya yang memerlukan penanganan khusus, ia kini telah dievakuasi ke Jerman untuk menjalani perawatan intensif di bawah pengawasan ketat ahli epidemiologi.
Varian Langka Tanpa Vaksin
Laporan medis menyebutkan bahwa Dr. Stafford terinfeksi varian Bundibugyo, sebuah jenis virus Ebola yang tergolong langka. Berbeda dengan varian Zaire yang lebih umum ditemukan dan sudah memiliki vaksin penangkal, varian Bundibugyo hingga saat ini belum memiliki vaksin maupun metode pengobatan khusus yang disetujui secara luas. Hal inilah yang memicu kekhawatiran global terhadap penyebaran wabah ebola kali ini.
Direktur Eksekutif Serge, Matt Allison, mengungkapkan bahwa meskipun dalam kondisi sakit, Peter menunjukkan semangat untuk pulih. “Kondisi Peter secara umum stabil. Namun, tentu saja ada kesedihan mendalam karena ia harus terpisah jauh dari keluarganya demi mendapatkan perawatan medis terbaik yang tersedia saat ini,” tutur Allison dalam sebuah pernyataan resmi.
Keluarga dan Rekan Sejawat Menjalani Isolasi
Nasib serupa juga membayangi keluarga sang dokter. Istrinya, Dr. Rebekah Stafford, yang juga merupakan bagian dari tim misionaris medis, kini harus menjalani isolasi mandiri bersama keempat anak mereka. Selain keluarga, Dr. Patrick LaRochelle yang bekerja bersama tim Serge juga dalam pemantauan ketat untuk mengantisipasi munculnya gejala. Pihak lembaga saat ini tengah menyusun strategi evakuasi yang aman bagi keluarga Stafford di tengah situasi yang sangat dinamis dan sensitif ini.
Serge menegaskan bahwa seluruh tenaga kesehatan yang bertugas di wilayah tersebut telah mematuhi standar protokol internasional dengan sangat disiplin. Namun, risiko tinggi memang selalu mengintai mereka yang bekerja di episentrum wabah, terutama saat melakukan tindakan medis darurat seperti operasi.
Krisis Kesehatan di Kongo Semakin Menghawatirkan
Data terbaru dari Kementerian Kesehatan RD Kongo menunjukkan situasi yang kian mencekam. Menteri Kesehatan, Samuel Roger Kamba, mencatat sedikitnya 131 jiwa telah melayang akibat wabah terbaru ini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyoroti bahwa kasus pertama yang dicurigai muncul sejak 24 April, yang ironisnya juga menimpa seorang pekerja medis di Bunia.
Para pejabat kesehatan dunia mengkhawatirkan mobilitas penduduk yang tinggi di kawasan perkotaan dan gangguan keamanan akibat serangan kelompok bersenjata dapat mempercepat penyebaran virus ke wilayah lain. Ebola sendiri dikenal sebagai penyakit yang sangat mematikan, menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita seperti darah, muntah, atau air mani.
Masyarakat diingatkan untuk mewaspadai gejala awal yang meliputi demam tinggi, kelelahan hebat, nyeri otot, hingga sakit tenggorokan. Jika tidak segera ditangani, penyakit ini dapat berkembang menjadi gangguan organ serius hingga pendarahan internal yang berujung pada kematian. Hingga saat ini, pemantauan ketat di perbatasan terus dilakukan guna mencegah meluasnya wabah dari Kongo ke negara-negara tetangga.