Tragedi Kolaborasi Maut Hantavirus dan Leptospirosis di Bandung: Kronologi Lengkap dan Penjelasan Kemenkes
Rabu, 20 Mei 2026 11:04 WIB
Kabarmalam.com — Dunia kesehatan tanah air kembali dikejutkan dengan kabar duka dari Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Seorang pria berusia 49 tahun dilaporkan mengembuskan napas terakhirnya setelah berjuang melawan infeksi ganda yang cukup langka, yakni hantavirus dan leptospirosis. Kementerian Kesehatan RI pun bergerak cepat memberikan klarifikasi resmi guna meluruskan simpang siur informasi yang beredar di masyarakat terkait peristiwa tragis ini.
Kronologi Perburukan Kondisi Pasien
Pasien yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh bangunan di kawasan Cibeunying Kolot, Kota Bandung, ini awalnya mengeluhkan gejala yang tampak seperti sakit biasa. Menurut dr. Elisabeth Hutajulu, spesialis penyakit dalam dari RSHS Bandung, gejala awal berupa demam yang hilang timbul mulai dirasakan pasien sekitar enam hari sebelum diputuskan untuk menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Namun, dalam hitungan hari, kondisi fisik pasien menurun dengan kecepatan yang mengejutkan. Tiga hari menjelang masuk rumah sakit, ia mulai merasakan nyeri hebat di perut bagian kanan atas. “Nyeri tersebut disertai dengan perubahan warna pada badan dan mata yang menguning, tepat satu hari sebelum pasien dilarikan ke rumah sakit,” ungkap dr. Elisabeth dalam sebuah sesi sosialisasi daring mengenai hantavirus.
Setibanya di RSHS, tim medis menemukan gejala infeksi yang sangat mengkhawatirkan. Selain demam tinggi dan tanda-tanda penyakit kuning (jaundice), pasien juga mengalami mual, muntah setiap kali mencoba makan atau minum, hingga sesak napas yang kian memberat. Meski tergolong masih muda dan tidak memiliki riwayat penyakit penyerta (komorbid) seperti diabetes atau hipertensi, serangan virus dan bakteri ini terbukti sangat agresif merusak sistem pertahanan tubuhnya.
Diagnosis Ganda: Weil’s Disease dan Hantavirus
Hasil pemeriksaan laboratorium mengungkapkan fakta medis yang kompleks. Pasien tersebut tidak hanya terjangkit satu jenis penyakit, melainkan kombinasi mematikan antara infeksi virus dan bakteri. Perpaduan inilah yang membuat kondisi klinis pasien menjadi sangat kritis dalam waktu singkat hingga pihak keluarga sempat menolak tindakan intubasi di saat-saat terakhir.
Tim medis mendiagnosis pasien mengalami Weil’s disease (bentuk berat dari leptospirosis) yang diperparah dengan infeksi hantavirus, sehingga memicu terjadinya syok sepsis. Selain itu, pasien juga terdeteksi mengalami Acute Kidney Injury (AKI) atau gangguan ginjal akut stadium 3 dengan kadar kalium dalam darah yang melonjak tinggi. Hasil rontgen pun menunjukkan adanya bronkopneumonia serta pembesaran jantung atau kardiomegali.
“Setelah sampel dikirimkan dan diperiksa, pasien dinyatakan positif hantavirus dan leptospirosis. Ini menjelaskan mengapa kondisi pasien begitu berat, dengan kadar trombosit yang sangat rendah dan tingkat peradangan yang tinggi,” tambah dr. Elisabeth menjelaskan temuan medis tersebut.
Klarifikasi Kemenkes: Bukan dari Kapal Pesiar
Menanggapi keresahan yang sempat viral, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, Andi Saguni, menegaskan bahwa kasus ini terjadi pada tahun 2025 dan tidak berkaitan dengan wabah hantavirus yang sempat dikaitkan dengan kapal pesiar MV Hondius.
Ada perbedaan mendasar pada tipe virus yang menjangkiti pasien di Bandung ini. Andi menjelaskan bahwa kasus di RSHS adalah tipe HFRS (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome), yang berbeda dengan tipe HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome) yang ditemukan di kapal MV Hondius. HFRS secara spesifik menyerang fungsi ginjal dan menyebabkan perdarahan, sementara HPS lebih dominan menyerang sistem pernapasan.
Kejadian ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk selalu waspada terhadap kebersihan lingkungan, terutama dalam meminimalkan interaksi dengan hewan pengerat seperti tikus yang menjadi pembawa virus. Deteksi dini terhadap gejala demam yang disertai nyeri perut atau mata menguning sangat krusial untuk mencegah fatalitas di layanan kesehatan.