Kulit Panas Tapi Tidak Berkeringat? Waspadai Heatstroke, Ancaman Serius Saat Cuaca Ekstrem
Selasa, 19 Mei 2026 17:34 WIB
Kabarmalam.com — Fenomena cuaca ekstrem yang melanda berbagai wilayah belakangan ini membawa risiko kesehatan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Salah satu ancaman paling fatal adalah heatstroke atau serangan panas, sebuah kondisi darurat di mana tubuh kehilangan kendali atas sistem pengatur suhunya sendiri. Masalah ini tidak mengenal usia, mulai dari anak-anak hingga lansia memiliki risiko yang sama besarnya jika terpapar panas berlebih dalam durasi lama.
Mengenal ‘Termostat’ Alami Tubuh
Ketua Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Darmawan Budi Setyanto, SpA, Subsp Respi(K), mengungkapkan bahwa tubuh manusia sebenarnya dibekali dengan mekanisme canggih bernama termoregulasi. Mekanisme ini berfungsi layaknya termostat yang menjaga suhu inti tubuh agar tetap berada di rentang optimal, yakni antara 36 hingga 37 derajat celsius.
“Heatstroke ini adalah serangan panas dari tubuh kita. Masalah muncul ketika tubuh terpapar suhu lingkungan yang sangat tinggi secara ekstrem, sehingga kemampuan sistem pengatur suhu tersebut mengalami malfungsi atau gangguan,” jelas dr Darmawan dalam sebuah sesi konferensi pers daring.
Risiko Bagi Jemaah Haji di Tanah Suci
Kondisi ini menjadi perhatian khusus bagi para jemaah haji yang sedang beribadah di Arab Saudi. Suhu ekstrem di wilayah tersebut menjadi tantangan berat bagi fisik manusia. Paparan panas yang menyengat di padang pasir dapat dengan cepat merusak kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri, sehingga potensi terjadinya serangan panas di sana sangatlah tinggi.
Gejala Unik: Panas yang Terperangkap
Salah satu gejala heatstroke yang paling mencolok dan harus segera diwaspadai adalah lonjakan suhu tubuh yang sangat drastis, sering kali melampaui angka 40 derajat celsius dalam waktu singkat. Namun, ada satu ciri unik yang membedakannya dengan rasa gerah biasa: penderita justru tidak mengeluarkan keringat sama sekali meskipun kulitnya terasa sangat panas saat disentuh.
Secara medis, berkeringat adalah cara alami tubuh membuang panas ke lingkungan luar. Namun pada kasus heatstroke, sistem ini gagal total. dr Darmawan memberikan analogi yang menarik dengan membandingkannya seperti efek rumah kaca. “Panas dari luar terus masuk ke dalam tubuh, tetapi tidak ada jalan keluar. Akibatnya, panas terperangkap dan suhu di dalam meningkat dengan sangat cepat,” ungkapnya.
Dampak Fatal pada Fungsi Otak
Jika tidak segera mendapatkan pertolongan medis secara intensif, penumpukan panas ini akan mulai menyerang organ vital, terutama otak. Dalam fase yang berat, pasien bisa mengalami komplikasi serius seperti kejang-kejang hingga kehilangan kesadaran atau koma.
Selain itu, masyarakat diminta memperhatikan pola napas seseorang yang dicurigai terkena serangan panas. Biasanya, penderita akan menunjukkan tanda-tanda napas yang sangat cepat namun dangkal. Mengingat risikonya yang bisa berujung pada kematian, deteksi dini dan tindakan cepat menurunkan suhu tubuh menjadi kunci utama keselamatan saat menghadapi cuaca panas yang membara.