Ketergantungan Moskow: Mengurai Benang Merah Dominasi Ekonomi China atas Rusia
Selasa, 19 Mei 2026 18:36 WIB
Kabarmalam.com — Narasi tentang kemitraan “tanpa batas” yang pernah digaungkan oleh Vladimir Putin dan Xi Jinping sesaat sebelum invasi Ukraina meletus pada Februari 2022, kini tampak mulai kehilangan keseimbangannya. Di balik jabat tangan hangat di panggung diplomasi, sebuah realitas pahit mulai muncul: hubungan ini tidak lagi simetris. Rusia, yang kini terkunci dalam isolasi global, perlahan-lahan bertransformasi menjadi junior dalam aliansi ekonomi yang kini justru lebih banyak dikendalikan oleh Beijing.
Meskipun fluktuasi harga minyak sempat menggoyang nilai perdagangan tahun lalu, arus barang dari Moskow ke Negeri Tirai Bambu justru melonjak hampir dua kali lipat sejak genderang perang ditabuh. Sepanjang tahun 2024 saja, nilai ekspor Rusia ke China menembus angka fantastis $129 miliar atau setara Rp2.050 triliun. Komoditas utama seperti minyak mentah, batu bara, dan gas alam mengalir deras ke Timur, namun dengan harga diskon yang menggiurkan bagi Beijing. Data dari Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih mencatat bahwa China telah menggelontorkan lebih dari $372 miliar (Rp5.700 triliun) untuk bahan bakar fosil Rusia sejak konflik dimulai, memberikan nafas buatan bagi mata uang ekonomi Rusia untuk terus membiayai mesin perangnya di tengah hujan sanksi Barat.
Vakum Teknologi yang Diisi Beijing
Terputusnya akses terhadap teknologi Barat menjadi titik balik paling krusial bagi Kremlin. Ketika Amerika Serikat dan sekutunya melarang ekspor semikonduktor serta peralatan mesin presisi, Rusia berada di ambang kelumpuhan industri pertahanan. Namun, Beijing hadir mengisi celah tersebut. Berdasarkan laporan terkini, China kini memasok sekitar 90% impor teknologi Rusia yang terkena sanksi, meningkat signifikan dari tahun-tahun sebelumnya.
Barang-barang dengan fungsi ganda (dual-use) yang dikirim China—meski bukan senjata langsung—memiliki peran vital dalam perakitan rudal dan teknologi militer nirawak. Ironisnya, untuk mendapatkan akses ini, Moskow harus menempuh jalur distribusi yang rumit dan membayar harga yang jauh lebih mahal, sering kali mencapai 90% di atas harga normal prapandemi. Ini bukan sekadar perdagangan; ini adalah ketergantungan absolut pada garis hidup teknologi yang kini dipegang sepenuhnya oleh Xi Jinping.
Fenomena Yuanisasi: Ketika Dolar Bukan Lagi Raja
Sanksi perbankan melalui sistem SWIFT dan pembekuan cadangan devisa senilai miliaran dolar memaksa Rusia melakukan langkah radikal: meninggalkan Dolar dan Euro. Sebagai gantinya, muncullah fenomena “Yuanisasi”. Menteri Keuangan Rusia, Anton Siluanov, mengungkapkan bahwa hampir 99% perdagangan bilateral kedua negara kini diselesaikan dalam mata uang Rubel dan Yuan. Langkah dedolarisasi ini memang memberikan perlindungan dari sanksi sekunder AS, namun sekaligus menciptakan jeratan baru.
Rusia kini sering menghadapi kelangkaan likuiditas Yuan dan harus menanggung biaya pinjaman yang lebih tinggi. Dengan menjadikan Yuan sebagai pilar utama transaksi luar negerinya, Moskow secara tidak langsung menyerahkan kedaulatan finansialnya kepada kebijakan moneter Beijing. China, di sisi lain, menggunakan momentum ini untuk memperkuat pengaruh global Yuan tanpa harus terburu-buru menggantikan dominasi Dolar secara frontal.
Pipa Energi dan Pertaruhan Masa Depan
Masa depan ekonomi Rusia kini sangat bergantung pada keberhasilan proyek infrastruktur raksasa seperti pipa gas Power of Siberia 2. Proyek yang diproyeksikan mampu menyalurkan 50 miliar meter kubik gas per tahun ini adalah kartu as Putin untuk menggantikan pasar Eropa yang telah hilang. Namun, Beijing sadar betul akan posisi tawarnya. Mereka tidak terburu-buru, menunggu detail teknis dan harga yang paling menguntungkan.
Di sisi lain, Beijing juga memiliki agenda strategis tersendiri. Pasokan energi darat yang stabil dari Rusia sangat krusial bagi China sebagai cadangan jika sewaktu-waktu terjadi ketegangan di Selat Taiwan yang memicu blokade laut oleh AS. Pada akhirnya, pertemuan tingkat tinggi antara Putin dan Xi bukan lagi sekadar reuni dua sahabat lama, melainkan pengukuhan posisi China sebagai penentu arah kebijakan geopolitik global, sementara Rusia harus belajar menari mengikuti irama yang dimainkan oleh sang Naga.