Waspada Ebola Jadi Darurat Global, Kemenkes Larang Konsumsi Daging Mentah dan Hewan Liar
Senin, 18 Mei 2026 10:34 WIB
Kabarmalam.com — Gelombang kekhawatiran melanda dunia kesehatan internasional setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mematok status darurat kesehatan masyarakat global terhadap lonjakan kasus Ebola di Kongo dan Uganda. Langkah ini memicu respons cepat dari Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk memperketat benteng pertahanan kesehatan nasional guna mencegah masuknya virus mematikan tersebut ke tanah air.
Alarm Bahaya dari Afrika Tengah
Situasi ini bukan sekadar statistik biasa. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengungkapkan data yang cukup mengkhawatirkan dengan laporan lebih dari 300 kasus suspek dan sedikitnya 88 nyawa telah melayang. Yang membuat kondisi kali ini semakin pelik adalah identifikasi virus Ebola varian Bundibugyo. Varian ini dikenal sangat langka dan hingga saat ini belum memiliki vaksin atau protokol terapi medis yang disetujui secara resmi.
Imbauan Kemenkes: Ubah Pola Konsumsi
Menanggapi situasi yang kian memanas di kancah global, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, memberikan peringatan keras kepada masyarakat Indonesia. Salah satu poin krusial yang ditekankan adalah terkait perilaku konsumsi pangan. Masyarakat diminta untuk benar-benar selektif dan berhati-hati dalam mengolah bahan makanan.
“Masyarakat sangat diimbau untuk hanya mengonsumsi daging yang telah diproses hingga matang sempurna dan menjauhi konsumsi hewan liar,” tegas Aji dalam keterangannya baru-baru ini. Langkah preventif ini diambil mengingat interaksi dengan hewan liar dan konsumsi daging yang kurang matang menjadi salah satu celah utama penularan penyakit zoonosis yang mematikan ini.
Benteng Pertahanan di Pintu Masuk Negara
Meski WHO belum merekomendasikan penutupan perbatasan internasional secara total, Indonesia tidak ingin kecolongan. Kementerian Kesehatan telah menyiagakan alat pemindai suhu (thermal scanner) dan pengamatan visual yang ketat di setiap pintu masuk negara bagi para pelaku perjalanan internasional. Penggunaan aplikasi digital juga dioptimalkan untuk memantau arus masuk orang dari wilayah berisiko tinggi.
Sebagai langkah mitigasi jangka panjang, pemerintah telah menyiapkan infrastruktur medis yang masif. Sebanyak 198 rumah sakit rujukan telah masuk dalam jaringan layanan pengampuan Penyakit Infeksi Emerging (PIE). Selain itu, pengawasan ketat dilakukan melalui 21 rumah sakit sentinel yang tersebar secara strategis di 20 provinsi di Indonesia guna memastikan deteksi dini berjalan efektif.
Edukasi dan Protokol Kesehatan Masyarakat
Selain kesiapan fasilitas medis, Aji mengingatkan bahwa perlindungan terbaik dimulai dari diri sendiri. Penerapan protokol kesehatan tetap menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman global ini. Mencuci tangan secara rutin dengan sabun, menggunakan masker di ruang publik—terutama saat merasa kurang sehat—serta menjaga etika batuk dan bersin adalah langkah sederhana namun berdampak besar.
Pemerintah berjanji akan terus memantau dinamika di tingkat global dan memperkuat kapasitas laboratorium nasional agar mitigasi risiko bisa dilakukan secara akurat. Masyarakat diharapkan tetap tenang namun tetap waspada dengan menghindari kontak langsung dengan individu, hewan, atau benda-benda yang dicurigai telah terkontaminasi virus.