Ikuti Kami
kabarmalam.com

Terjebak Fenomena FOMO: Saat Gaya Hidup Menjadi Beban dan Kaburnya Skala Prioritas

Husnul | kabarmalam.com
Senin, 18 Mei 2026 14:35 WIB
Terjebak Fenomena FOMO: Saat Gaya Hidup Menjadi Beban dan Kaburnya Skala Prioritas

Kabarmalam.com — Di masa lalu, standar pencapaian seseorang mungkin hanya diukur melalui perbandingan dengan tetangga sebelah rumah. Namun hari ini, dalam hitungan detik saat melakukan scrolling di media sosial, kita bisa merasa tertinggal dari ratusan orang sekaligus. Ada perasaan kalah saat melihat orang lain tampak lebih sukses, lebih mapan, lebih bahagia, atau bahkan terlihat lebih religius dalam balutan konten yang estetik.

Kondisi ini memicu kecemasan kolektif yang sering kali tidak kita sadari, yang populer dengan istilah Fear of Missing Out atau FOMO. Namun jika ditelisik lebih dalam, yang hilang dari masyarakat modern bukan sekadar kesempatan, melainkan hilangnya rasa cukup (qana’ah) dalam menjalani hidup. Dunia digital telah mendistorsi cara pandang kita, di mana hidup tidak lagi dijalani sebagai sebuah amanah yang tenang, melainkan panggung kompetisi yang melelahkan.

Algoritma yang Memancing Kecemasan

Secara teknis, platform digital memang dirancang untuk memikat perhatian kita selama mungkin. Algoritma bekerja dengan menyuguhkan apa yang membuat kita penasaran, iri, atau merasa cemas. Semakin kita merasa perlu memvalidasi diri, semakin lama kita terjebak dalam arus informasi tersebut. Akibatnya, kita terus disuguhi etalase kehidupan yang tampak sempurna, tanpa cela, dan penuh pencapaian.

Baca Juga  Lelah Mental di Tengah Hustle Culture? Temukan Solusi Jitu dalam Webinar Healthy Mind, High Performance

Masalah muncul ketika kita terlalu sibuk menatap etalase kehidupan orang lain hingga lupa mensyukuri apa yang ada di dalam rumah sendiri. Gaya hidup akhirnya tidak lagi didasarkan pada kebutuhan, melainkan pada keinginan untuk tidak dianggap tertinggal oleh lingkaran sosial.

Kaburnya Skala Prioritas: Antara Kebutuhan dan Penghias

Dalam perspektif Islam, para ulama telah lama memetakan tingkat kebutuhan manusia menjadi tiga kategori utama:

  • Dharuriyyat: Kebutuhan primer yang wajib dipenuhi demi kelangsungan hidup (seperti iman, jiwa, akal, keturunan, dan harta).
  • Hajiyyat: Kebutuhan sekunder yang berfungsi memudahkan urusan hidup.
  • Tahsiniyyat: Kebutuhan tersier atau penghias yang berkaitan dengan estetika dan kenyamanan lebih.

Ironisnya, di era FOMO ini, batasan tersebut menjadi sangat kabur. Banyak individu yang rela mengorbankan dharuriyyat demi mengejar tahsiniyyat. Tidak sedikit yang memaksakan diri berutang demi mengikuti tren terbaru, mengutamakan estetika konten daripada keberkahan rezeki, dan lebih takut kehilangan validasi digital daripada kehilangan arah hidup yang sebenarnya.

Baca Juga  Waspada Hantavirus di Jawa Timur: Satu Kasus Terdeteksi, Dinkes Beri Penjelasan Medis

Kebutuhan akan penampilan dan pengakuan sering kali diletakkan di atas ketenangan jiwa dan kesehatan mental. Kita menjadi sibuk mempercantik bungkus kehidupan, namun lupa memperkokoh fondasi di dalamnya.

Menemukan Kembali Rasa Cukup

Islam telah memberikan panduan yang sangat relevan untuk menghadapi badai perbandingan ini. Rasulullah ﷺ mengingatkan kita untuk selalu melihat ke bawah dalam urusan duniawi agar kita tidak meremehkan nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Pesan ini menjadi antitesis bagi budaya media sosial yang justru memaksa kita untuk selalu menengok ke atas.

Menghadapi FOMO bukan sekadar melakukan ‘detoks digital’, melainkan mengubah orientasi hati. Islam memperkenalkan konsep Qana’ah, yaitu merasa cukup dengan apa yang ada tanpa mematikan semangat untuk berikhtiar. Qana’ah adalah kemampuan untuk tetap tenang meski dunia di sekitar kita sedang berlari kencang mengejar tren.

Baca Juga  Waspada! BMKG Ingatkan Hujan Lebat Mengintai NTT, Kota-Kota Ini Juga Kena Dampaknya

Selain itu, konsep Zuhud juga menjadi kunci. Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia atau menjadi anti-sukses, melainkan menempatkan dunia hanya di tangan, bukan di dalam hati. Dengan begitu, ketika pencapaian orang lain melesat, hati kita tetap stabil karena kebahagiaan kita tidak digantungkan pada perbandingan sosial.

Pada akhirnya, persoalan terbesar kita bukanlah kurangnya nikmat, melainkan memudarnya kemampuan untuk menikmati nikmat tersebut. Kita tidak perlu memiliki semua yang dimiliki orang lain untuk bisa bahagia. Kebahagiaan sejati dimulai ketika kita berhenti membandingkan panggung orang lain dengan proses di balik layar kehidupan kita sendiri.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul