Kurs Rupiah Melemah Picu ‘Mental Break’? Ini Panduan Psikiater Agar Tetap Tangguh Hadapi Gejolak Ekonomi
Minggu, 17 Mei 2026 06:34 WIB
Kabarmalam.com — Fluktuasi nilai tukar mata uang bukan sekadar angka yang terpampang di layar bursa saham. Bagi masyarakat luas, anjloknya nilai tukar rupiah membawa beban psikologis yang nyata. Mulai dari bayang-bayang kenaikan harga pangan hingga isu pemutusan hubungan kerja (PHK), ketidakpastian ini perlahan mulai mengusik ketenangan batin banyak orang.
Psikiater dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, mengungkapkan bahwa fenomena ekonomi yang tidak stabil memang memiliki korelasi langsung dengan kesehatan mental. Rasa aman yang terusik membuat banyak individu terjebak dalam pusaran kecemasan yang mendalam.
“Situasi ekonomi yang terasa tidak menentu memang dapat memicu masyarakat mengalami cemas, khawatir, bahkan frustrasi. Berita tentang kurs yang tak menentu, harga kebutuhan pokok yang melonjak, hingga ketidakpastian masa depan menciptakan rasa tidak aman secara psikologis,” tutur dr. Lahargo dalam sebuah dialog mendalam.
Alarm Tubuh yang Terus Berbunyi
Menurut dr. Lahargo, otak manusia secara alami dirancang untuk sangat sensitif terhadap segala bentuk ancaman. Ketika seseorang terus-menerus terpapar informasi negatif mengenai kondisi ekonomi global, tubuh akan secara otomatis mengaktifkan ‘mode alarm’.
Kondisi waspada ini memicu reaksi fisik yang nyata. Jantung berdetak lebih cepat, napas memburu, otot menjadi tegang, dan pikiran mulai terjebak dalam labirin overthinking. Dampaknya, kualitas tidur terganggu dan emosi menjadi lebih rentan meledak bahkan karena hal-hal kecil.
“Jika keadaan ini berlangsung dalam jangka waktu yang lama, seseorang berisiko mengalami stres kronis, gangguan kecemasan, hingga rasa putus asa (hopelessness) yang akhirnya melumpuhkan fungsi serta produktivitas sehari-hari,” tambahnya memperingatkan.
Strategi Menjaga Kewarasan di Tengah Krisis
Meski situasi makro ekonomi berada di luar kendali individu, dr. Lahargo menegaskan bahwa kita tetap memiliki kendali penuh atas respons emosional kita. Berikut adalah beberapa langkah konkret untuk memitigasi dampak psikologis dari lesunya ekonomi:
- Hentikan Kebiasaan Doom Scrolling: Dr. Lahargo menyarankan agar masyarakat tidak terlalu sering memantau pergerakan kurs setiap jam. Mengonsumsi berita secara berlebihan di media sosial justru akan memperbesar rasa takut secara tidak rasional.
- Pilih Sumber Informasi yang Kredibel: Alih-alih terjebak dalam rumor, pilihlah satu atau dua sumber berita tepercaya dan batasi waktu membacanya agar mental tidak kelelahan.
- Fokus pada Hal yang Bisa Dikendalikan: Daripada meratapi kondisi global, lebih baik alokasikan energi untuk mengatur ulang pengeluaran rumah tangga, menabung dengan lebih bijak, serta meningkatkan keterampilan (upskilling).
- Perkuat Dukungan Sosial: Jangan memendam kecemasan sendirian. Berdiskusi dengan pasangan atau anggota keluarga yang suportif terbukti menjadi faktor pelindung paling kuat dalam menghadapi stres berat.
Menjaga kesehatan jiwa di masa sulit adalah investasi yang sama pentingnya dengan menjaga aset finansial. Dengan menjaga pikiran tetap jernih, kita akan lebih mampu mengambil keputusan yang tepat di tengah badai ekonomi yang sedang melanda.