Ikuti Kami
kabarmalam.com

Menilik Bedah Bariatrik: Bukan Sekadar Jalan Pintas, Ini Kriteria Medis untuk Pasien Obesitas

Wahid | kabarmalam.com
Kamis, 07 Mei 2026 10:34 WIB
Menilik Bedah Bariatrik: Bukan Sekadar Jalan Pintas, Ini Kriteria Medis untuk Pasien Obesitas

Kabarmalam.com — Fenomena penurunan berat badan secara drastis melalui prosedur medis kini tengah menjadi sorotan publik. Berawal dari deretan figur publik yang membagikan kisah sukses mereka, istilah operasi bariatrik mendadak menjadi perbincangan hangat. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah transformasi selebgram Shindy Samuel, yang berhasil memangkas bobot dari 171 kg menjadi 67 kg.

Namun, di balik narasi kesuksesan tersebut, muncul sebuah miskonsepsi besar: banyak yang menganggap bariatrik adalah ‘jalan pintas’ instan untuk mendapatkan tubuh ideal. Padahal, secara medis, prosedur ini adalah intervensi serius yang hanya ditujukan bagi mereka dengan kondisi kesehatan tertentu.

Memahami Akar Masalah: Mengapa Diet Saja Kadang Tidak Cukup?

Dokter spesialis bedah digestif, Handy Wing, menjelaskan bahwa bariatrik sebenarnya adalah bagian dari terapi penyakit metabolik. Menurutnya, obesitas bukanlah sekadar masalah nafsu makan yang tidak terkontrol, melainkan berkaitan erat dengan perubahan metabolisme tubuh dalam jangka panjang.

Baca Juga  Bahaya Kesepian bagi Jantung: Mengapa Isolasi Sosial Bisa Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan?

Gaya hidup modern menjadi pemicu utama. Konsumsi ultra processed food (UPF), tingginya asupan gula dan lemak, serta minimnya aktivitas fisik menciptakan lingkaran setan. Belum lagi faktor kurang tidur dan stres kronis yang membuat tubuh beradaptasi secara negatif. “Dalam kondisi ini, tubuh menganggap berat badan yang tinggi sebagai sebuah ‘normal baru’, sehingga meski pasien sudah berusaha diet ketat, timbangan sering kali sulit bergeming,” ungkap dr. Handy.

Siapa yang Memenuhi Syarat untuk Operasi Bariatrik?

Bariatrik tidak bisa dilakukan secara sembarangan atas dasar keinginan kosmetik semata. Ada kriteria ketat berdasarkan Indeks Massa Tubuh (BMI) dan kondisi penyerta yang harus dipenuhi pasien:

  • BMI di atas 27,5: Khusus untuk pasien yang menderita penyakit diabetes melitus yang sulit terkontrol.
  • BMI di atas 30: Diperuntukkan bagi pasien dengan penyakit penyerta (komorbid) seperti hipertensi atau gangguan metabolik lainnya.
  • BMI di atas 35: Dapat dipertimbangkan bagi pasien meskipun tanpa memiliki komorbid, jika berat badan tersebut sudah masuk kategori obesitas ekstrem yang berisiko tinggi bagi kesehatan.
Baca Juga  Mitos atau Fakta? Mengonsumsi Buah Setelah Makan Manis dan Berlemak Tak Benar-benar 'Menetralkan'

Intinya, operasi ini diprioritaskan bagi mereka yang risiko kesehatannya akibat kelebihan berat badan jauh lebih berbahaya dibandingkan risiko dari prosedur operasi itu sendiri.

Bukan Solusi Ajaib: Perubahan Anatomi dan Tantangan Pascaoperasi

Cara kerja operasi bariatrik adalah dengan mengubah struktur anatomi saluran pencernaan. Langkah ini bertujuan untuk mengontrol rasa lapar, mengurangi kapasitas penyerapan kalori, serta memperbaiki respons hormonal yang berkaitan dengan metabolisme tubuh. Namun, ini barulah awal dari perjuangan panjang.

Pascaoperasi, pasien diwajibkan melakukan adaptasi gaya hidup yang radikal. Dengan ukuran lambung yang jauh lebih kecil, pola makan harus berubah total. Fokus utama beralih pada kecukupan asupan protein dan cairan, serta pencegahan defisiensi vitamin dan mineral. Tanpa pendampingan tim medis multidisiplin, hasil operasi tidak akan optimal dan justru bisa membahayakan pasien.

Baca Juga  Geger Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius, WHO Buka Suara Terkait Ancaman Kasus Baru

Sisi Psikologis yang Sering Terabaikan

Selain perubahan fisik, aspek mental memegang peranan krusial. Data dari PubMed menunjukkan fakta mengejutkan bahwa sekitar 15 persen pasien bariatrik mengalami depresi setelah operasi. Hal ini dipicu oleh perubahan hormon yang drastis serta tekanan psikologis saat beradaptasi dengan bentuk tubuh dan gaya hidup yang baru.

Oleh karena itu, kesehatan mental menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pemulihan. Skrining psikologis sebelum tindakan dan pendampingan emosional setelahnya sangat dianjurkan agar pasien tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga stabil secara mental dalam menjalani kehidupan barunya.

Bariatrik memang menawarkan harapan baru bagi pengidap obesitas morbid, namun edukasi yang tepat tetap menjadi kunci agar prosedur ini tidak disalahpahami sebagai sekadar tren kecantikan semata.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid