Membongkar Mitos ‘No Sugar’: Mengapa Minuman Kekinian Tetap Dapat Rating C-D di Nutri Level?
Sabtu, 16 Mei 2026 06:05 WIB
Kabarmalam.com — Gelombang transparansi gizi kini mulai menyentuh industri minuman kekinian di tanah air melalui penerapan sistem Nutri Level. Namun, sebuah fakta mengejutkan menyeruak ke permukaan: banyak produk yang selama ini dilabeli sebagai ‘no sugar’ atau rendah gula justru mendapatkan predikat C hingga D—kategori yang dalam sistem ini dianggap sebagai kasta kurang sehat.
Fenomena ini tentu menjadi tamparan keras bagi para pemburu minuman sehat yang terbiasa memesan varian less sugar dengan harapan mengurangi asupan kalori. Di balik klaim nol gula tersebut, ternyata tersimpan realitas nutrisi yang selama ini luput dari perhatian mata konsumen awam.
Mengapa Klaim ‘Nol Gula’ Bisa Berakhir di Rating Merah?
Banyak masyarakat bertanya-tanya, bagaimana mungkin sebuah minuman yang diklaim tanpa gula justru masuk dalam kategori tidak sehat? Penjelasan teknis di balik Nutri Level menunjukkan bahwa penilaian tidak hanya didasarkan pada gula tambahan (sucrose), tetapi juga mempertimbangkan total karbohidrat, kandungan lemak jenuh, hingga kadar natrium yang terkandung dalam bahan pelengkap lainnya.
Dalam pengamatan tim redaksi, beberapa faktor yang menyebabkan rating rendah pada minuman ‘no sugar’ antara lain:
- Kandungan Lemak Tinggi: Penggunaan krimer, susu full cream, atau keju (macchiato/cheese foam) menyumbang lemak jenuh yang signifikan.
- Pemanis Buatan: Meski tidak mengandung gula pasir, penggunaan pemanis sintetis dalam jumlah tertentu tetap dipantau dalam regulasi kesehatan.
- Bahan Dasar Olahan: Beberapa bubuk perasa (powder) sudah mengandung pemanis bawaan atau pengawet sebelum dicampurkan oleh barista.
Transparansi untuk Konsumen yang Lebih Cerdas
Penerapan Nutri Level ini diharapkan mampu mengubah peta persaingan bisnis kuliner di Indonesia. Jika selama ini konsumen hanya bisa menebak-nebak kandungan gizi, kini mereka disuguhi data konkret tepat sebelum melakukan transaksi di kasir. Hal ini memicu kesadaran baru bahwa label ‘sehat’ tidak bisa hanya disematkan berdasarkan satu parameter saja.
Tren gaya hidup sehat yang kian menjamur di kota-kota besar seperti Jakarta memaksa para pengusaha minuman untuk lebih jujur dan mulai memformulasi ulang resep mereka. Rating C dan D bukan sekadar label, melainkan peringatan bagi konsumen untuk lebih bijak dalam frekuensi konsumsi.
Seiring dengan semakin ketatnya pengawasan gizi, masyarakat kini didorong untuk tidak sekadar percaya pada jargon pemasaran ‘less sugar’. Memahami apa yang masuk ke dalam tubuh adalah langkah awal untuk menjaga kesehatan jangka panjang di tengah gempuran tren kuliner yang kian beragam.