Kelalaian Fatal Paramedis: Salah Tekan Tombol Defibrillator Berujung Cedera Otak Permanen bagi Wanita Ini
Jumat, 15 Mei 2026 13:34 WIB
Kabarmalam.com — Kesalahan sekecil apa pun dalam prosedur medis darurat dapat berujung pada tragedi yang mengubah hidup selamanya. Itulah yang dialami oleh Meg Fozzard, seorang wanita yang harus menelan pil pahit berupa kerusakan otak permanen hanya karena petugas medis menekan tombol yang salah pada perangkat penyelamat nyawa saat ia mengalami serangan jantung.
Peristiwa memilukan ini bermula pada April 2019 silam di kediamannya di Walworth, London Selatan. Meg yang kala itu baru menginjak usia 26 tahun tiba-tiba jatuh pingsan, mengalami kejang hebat, dan kesulitan bernapas. Sang pasangan, Xander Font Freide, dengan sigap menghubungi layanan darurat dan segera melakukan tindakan penyelamatan pertama atau CPR sesuai instruksi petugas melalui telepon.
Rangkaian Kelalaian yang Berakibat Fatal
Harapan Meg untuk pulih sempat membuncah saat ambulans tiba di lokasi. Namun, situasi justru memburuk akibat serangkaian kesalahan teknis yang dilakukan petugas. Alih-alih memasang bantalan khusus defibrillator yang mampu memberikan kejutan listrik, paramedis justru memasang kabel pemantau detak jantung biasa.
Tak berhenti di situ, drama berlanjut ketika petugas mencoba mengoperasikan alat bermerek LifePak tersebut. Akibat salah memencet tombol, mode darurat baru bisa diaktifkan empat menit kemudian. Rentetan kesalahan ini menyebabkan penundaan krusial selama delapan menit sebelum jantung Meg akhirnya mendapatkan kejutan listrik yang sangat ia butuhkan.
Dampak Kerusakan Otak yang Mengubah Hidup
Keterlambatan pasokan oksigen ke otak selama delapan menit tersebut meninggalkan bekas yang mendalam. Meg didiagnosis menderita cedera otak yang membuatnya kehilangan kemampuan bicara secara normal, sering mengalami kelelahan ekstrem, hingga harus bergantung pada kursi roda untuk mobilitasnya sehari-hari.
“Sangat sulit bagi saya untuk menemukan kata-kata yang tepat guna menggambarkan betapa hancurnya perasaan saya saat harus menerima kenyataan ini,” ungkap Meg. Selain kesulitan fisik, ia juga bergulat dengan fenomena ‘brain fog’, hilangnya ketangkasan motorik, hingga kejang yang tak terkendali pada anggota tubuhnya.
Titik Balik dan Harapan di Tengah Keterbatasan
Meskipun harus menempuh jalan yang terjal, Meg enggan menyerah pada keadaan. Melalui bantuan hukum yang menjamin biaya perawatan jangka panjang, ia mendapatkan dukungan penuh dari tim ahli, mulai dari terapis wicara, fisioterapis, hingga terapis okupasi. Kerja kerasnya membuahkan hasil yang luar biasa.
Kini di usianya yang ke-33, Meg menunjukkan kemajuan yang signifikan. Ia sudah mampu berdiri hingga satu jam dan kemampuan komunikasinya meningkat drastis. Ia pun kini aktif bekerja paruh waktu sebagai produser lepas yang mendedikasikan dirinya pada isu hak-hak penyandang disabilitas.
“Meski perjalanan saya masih sangat panjang, saya mulai merasa bisa kembali menjadi diri saya yang dulu. Namun, rasa kecewa atas layanan medis yang saya terima tidak akan pernah hilang. Sangat penting bagi saya untuk menyuarakan ini demi meningkatkan standar keselamatan pasien agar tragedi serupa tidak menimpa orang lain,” pungkasnya.