Fenomena Ubi Cream Cheese Viral: Antara Tren Lezat dan Warning Pakar Gizi Soal Kalori
Jumat, 15 Mei 2026 08:34 WIB
Kabarmalam.com — Jagat kuliner tanah air kembali dihebohkan dengan kehadiran kudapan yang memadukan unsur tradisional dan modern: ubi cream cheese. Pantauan di berbagai pusat perbelanjaan, mulai dari ibu kota hingga kawasan Tangerang, menunjukkan antusiasme masyarakat yang luar biasa. Tak jarang, pengunjung rela berdiri dalam antrean panjang demi mencicipi ubi panggang dengan balutan keju krim yang lumer di mulut tersebut.
Tren ini bukan sekadar soal rasa. Banyak konsumen memilih ubi cream cheese karena dianggap sebagai pilihan dessert yang lebih aman bagi kesehatan dibandingkan kue atau roti manis lainnya. Ubi dipandang sebagai ‘real food’ yang kaya akan nutrisi alami. Namun, di balik kelezatannya yang menggiurkan, para pakar gizi justru memberikan catatan kritis yang patut kita simak.
Ilusi Camilan Sehat Menurut Pakar
Dokter spesialis gizi klinik, dr. Raissa E Djuanda, SpGK, menjelaskan bahwa bahan dasar ubi memang memiliki reputasi kesehatan yang baik. Ubi mengandung karbohidrat kompleks dan serat yang tinggi. Namun, status ‘sehat’ ini bisa seketika luntur akibat penambahan topping yang berlebihan.
“Karena bahan utamanya ubi, seakan-akan ini menjadi dessert atau snack sehat,” tutur dr. Raissa. Ia memperingatkan bahwa tambahan cream cheese yang tinggi lemak dan gula justru dapat melonjakkan total kalori secara signifikan. Masyarakat diminta untuk tidak terjebak dalam persepsi bahwa makanan ini bebas dikonsumsi dalam jumlah besar hanya karena label ‘ubi’ di depannya.
Lemak Jenuh dan Gula yang Tersembunyi
Senada dengan dr. Raissa, dr. Tjandraningrum, SpGK, juga menyoroti bagaimana proses pengolahan kekinian dapat mengurangi manfaat alami dari ubi. Meskipun ubi diserap lambat oleh saluran cerna—yang sebenarnya baik untuk menjaga stabilitas energi—kehadiran cream cheese membawa risiko tersendiri.
“Cream cheese memiliki kandungan lemak yang cukup tinggi, terutama lemak jenuh. Bagi sebagian orang, asupan lemak jenuh yang berlebihan dapat memicu gangguan kesehatan kronis,” jelas dr. Tjandraningrum.
Selain lemak dari keju, dokter juga menyoroti penggunaan susu kental manis yang kerap menjadi pelengkap. Kombinasi ini membuat dominasi nutrisi bergeser: ubi yang seharusnya menjadi sumber serat justru ‘kalah’ oleh dominasi lemak jenuh dan gula tambahan.
Menikmati Tren dengan Bijak
Pesan utama dari para ahli kesehatan ini bukan melarang konsumsi dessert kekinian, melainkan mengajak kita untuk lebih sadar akan apa yang masuk ke dalam tubuh. Menikmati ubi cream cheese sesekali tentu tidak masalah, namun menjadikannya camilan rutin dengan anggapan bahwa itu adalah makanan diet bisa menjadi bumerang bagi kesehatan.
Bagi Anda yang ingin tetap mengikuti tren tanpa mengabaikan pola makan sehat, kuncinya adalah moderasi. Pastikan untuk tetap mengontrol porsi dan memahami bahwa setiap tambahan topping manis maupun gurih selalu membawa konsekuensi kalori yang harus diseimbangkan dengan aktivitas fisik harian.