Diplomasi Beijing: Donald Trump Klaim Xi Jinping Siap Turun Tangan Amankan Selat Hormuz
Jumat, 15 Mei 2026 04:33 WIB
Kabarmalam.com — Hubungan diplomatik antara dua kekuatan besar dunia, Amerika Serikat dan China, tampaknya menemukan titik temu baru di tengah kemelut Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa dalam kunjungannya ke Beijing, Presiden Xi Jinping secara terbuka menawarkan bantuan untuk meredakan ketegangan di Selat Hormuz yang menjadi urat nadi energi dunia.
Dalam laporan yang dihimpun pada Jumat (15/5/2026), Trump menyebut tawaran Xi muncul sebagai respons atas konflik berkepanjangan antara Washington dan Teheran yang hingga kini belum menemukan solusi permanen. Dalam sebuah sesi wawancara dengan Fox News, Trump menceritakan momen di mana Xi menyatakan keinginannya untuk melihat sebuah kesepakatan damai segera tercapai demi kestabilan kawasan.
Kepentingan Energi China di Balik Diplomasi
“Beliau (Xi Jinping) memang menawarkan bantuan. Dia berkata, ‘Jika saya dapat membantu, saya ingin membantu’,” ujar Trump mengenang percakapan tersebut. Trump menilai bahwa inisiatif Beijing ini bukan tanpa alasan. Sebagai salah satu importir minyak terbesar dari Iran, China memiliki kepentingan strategis agar jalur logistik di Selat Hormuz tetap beroperasi secara normal tanpa gangguan militer.
Logikanya cukup sederhana; siapapun yang membeli minyak dalam volume masif seperti China, pasti memiliki kedekatan diplomatik tertentu dengan pemasoknya. Oleh karena itu, Trump memandang China sebagai mediator yang potensial dalam konflik geopolitik ini. Gedung Putih pun mengonfirmasi bahwa kedua pemimpin telah menyepakati satu visi penting: Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk mendukung arus energi yang bebas ke seluruh penjuru dunia.
Bara dalam Sekam di Perairan Strategis
Situasi di kawasan tersebut memang sempat mencapai titik didih sejak meletusnya perang antara AS-Israel melawan Iran pada akhir Februari lalu. Pemerintah Teheran mengambil langkah ekstrem dengan memblokir perlintasan di Selat Hormuz—jalur krusial yang biasanya dilalui oleh seperlima dari total pengiriman minyak dan gas global. Langkah provokatif ini memicu respons keras dari Washington berupa blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Iran.
Meskipun gencatan senjata yang rapuh telah berlaku sejak 8 April lalu, namun ketidakpastian masih menyelimuti jalur pelayaran tersebut. Upaya diplomasi Xi Jinping diharapkan mampu menjadi jembatan komunikasi untuk menstabilkan kembali kawasan tersebut, mengingat posisi tawar China yang sangat kuat di mata Teheran dibandingkan negara-negara Barat.
Pertemuan tingkat tinggi di Beijing ini dipandang sebagai langkah krusial bagi peta politik dunia. Tak hanya soal pasokan energi, stabilitas di Selat Hormuz kini menjadi ujian nyata bagi kepemimpinan Trump dan Xi Jinping dalam meredam potensi konflik yang lebih besar di masa depan.