Dilema Ubi Cream Cheese yang Sedang Viral: Antara Tren Kuliner dan Target Diet Sehat
Jumat, 15 Mei 2026 10:34 WIB
Kabarmalam.com — Gelombang tren kuliner kembali menyapu media sosial, dan kali ini, ubi cream cheese muncul sebagai primadona yang diburu banyak kalangan. Pemandangan antrean panjang di berbagai supermarket demi mendapatkan kudapan manis ini menjadi bukti betapa kuatnya daya tarik ubi cilembu yang dipadukan dengan keju krim yang lembut. Namun, di balik kelezatannya, muncul pertanyaan besar bagi mereka yang tengah menjaga berat badan: apakah camilan ini benar-benar aman untuk diet?
Meskipun ubi dikenal sebagai sumber karbohidrat kompleks yang jauh lebih sehat dibandingkan tepung terigu atau dessert konvensional lainnya, konsumsinya tetap memerlukan kendali. Menurut dokter spesialis gizi klinik, dr. Tjandraningrum, SpGK, kunci utama dalam menikmati ubi cream cheese adalah pada porsi dan tambahan bahan pendukungnya.
Porsi Ideal untuk Menjaga Kalori
Dalam sebuah kesempatan, dr. Tjandra menjelaskan bahwa satu porsi ubi cream cheese yang dianggap wajar berada di kisaran 100 hingga 150 gram per satu kali makan. Jumlah ini setara dengan porsi karbohidrat untuk mengganti satu piring nasi putih.
“Porsi wajar itu sebenarnya ubi ini berfungsi sebagai pengganti nasi. Jadi, sekitar 100-150 gram, tergantung dari total kebutuhan kalori harian masing-masing individu,” jelasnya. Keunggulan utama ubi dibandingkan nasi adalah kandungan seratnya yang tinggi, yang secara alami memberikan rasa kenyang lebih lama sehingga cocok untuk program menurunkan berat badan.
Waspadai ‘Jebakan’ Topping Berlebih
Meski ubi dasarnya menyehatkan, manfaat tersebut bisa sirna seketika jika ditambahkan dengan topping yang tinggi gula dan lemak jenuh secara berlebihan. Cream cheese, yang menjadi daya tarik utama menu ini, memiliki kandungan lemak yang cukup tinggi. Dr. Tjandra menyarankan agar penggunaan keju ini hanya diberikan tipis-tipis saja.
“Untuk cream cheese-nya, usahakan jangan terlalu banyak, tipis saja. Sekitar 20 hingga 30 gram masih dalam batas yang bisa ditoleransi,” tambahnya. Ia juga memberikan peringatan keras terhadap tambahan lain yang sering menyertai camilan viral ini, seperti susu kental manis, gula tambahan, hingga mentega (butter). Komponen-komponen tersebut secara signifikan akan melambungkan angka kalori dalam satu porsi kecil ubi tersebut.
Kelompok yang Harus Ekstra Hati-hati
Tidak semua orang bisa dengan bebas mengikuti tren camilan viral ini. Dr. Tjandra menekankan bahwa penderita penyakit kronis tertentu harus lebih waspada atau bahkan menghindari konsumsi cream cheese yang berlebihan. Kelompok tersebut mencakup pengidap diabetes, hipertensi, stroke, hingga penyakit jantung.
“Bagi mereka yang memiliki riwayat diabetes atau penyakit jantung, penggunaan cream cheese ini sebaiknya dikurangi atau jika perlu dihindari sepenuhnya demi menjaga profil lemak dan gula darah tetap stabil,” tegasnya.
Moderasi adalah Kunci
Agar tetap bisa menikmati kelezatan ubi cream cheese tanpa merusak progres hidup sehat, dr. Tjandra menyarankan agar kudapan ini tidak dijadikan sebagai rutinitas harian. Konsumsi seminggu sekali atau dua minggu sekali dianggap sudah cukup untuk sekadar memenuhi rasa penasaran tanpa memberikan beban berlebih pada metabolisme tubuh.
Pada akhirnya, menikmati makanan kekinian adalah hal yang manusiawi, namun kebijakan dalam memilih porsi dan frekuensi tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga kesehatan jangka panjang. Jangan sampai tren sesaat justru menjadi penghalang bagi target kesehatan Anda.