Ikuti Kami
kabarmalam.com

Tetap Masuk di Hari Libur Nasional? Ini Panduan Lengkap Perhitungan Upah Lembur dan Hak Pekerja

Husnul | kabarmalam.com
Kamis, 14 Mei 2026 16:34 WIB
Tetap Masuk di Hari Libur Nasional? Ini Panduan Lengkap Perhitungan Upah Lembur dan Hak Pekerja

Kabarmalam.com — Di saat mayoritas masyarakat menikmati waktu bersama keluarga atau berwisata pada hari libur nasional, tidak sedikit pekerja yang tetap harus bersiaga menjalankan tugas di balik meja kantor maupun di lapangan. Pertanyaan yang kemudian sering muncul di benak para “pejuang tanggal merah” ini adalah: apakah aktivitas tersebut secara otomatis tergolong lembur, dan bagaimana hak kompensasi yang seharusnya diterima?

Berdasarkan regulasi yang dipertegas oleh Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), setiap pengusaha yang mempekerjakan karyawannya pada hari libur resmi wajib memberikan upah lembur. Hal ini bukan sekadar kebijakan internal perusahaan, melainkan amanat undang-undang yang memiliki konsekuensi hukum serius jika diabaikan.

Sanksi Tegas Bagi Perusahaan yang Melanggar

Pemerintah menunjukkan komitmen kuat dalam melindungi hak pekerja melalui aturan yang ketat. Merujuk pada Pasal 81 angka 68 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023, pengusaha yang lalai atau sengaja tidak membayarkan upah lembur dapat dijatuhi sanksi pidana maupun denda administratif yang tidak sedikit.

  • Pidana Kurungan: Sanksi mulai dari yang paling singkat satu bulan hingga maksimal 12 bulan penjara.
  • Denda Materiil: Nominal denda mulai dari Rp10.000.000 hingga mencapai angka Rp100.000.000.
Baca Juga  Kabar Gembira bagi Warga Sumbar, Andre Rosiade Pastikan Anggaran 165 Penjaga Perlintasan KA Aman Hingga 2026

Penting untuk digarisbawahi bahwa pemberian hari libur pengganti (off day) sebagai pengganti pembayaran lembur pada hari libur nasional tidak diatur dalam ketentuan perundang-undangan. Dengan kata lain, kewajiban utama perusahaan adalah membayarkan kompensasi dalam bentuk uang tunai sesuai rumus yang telah ditetapkan.

Skema Perhitungan Upah Lembur di Hari Libur

Mekanisme penghitungan kesejahteraan karyawan melalui upah lembur dibedakan berdasarkan sistem waktu kerja yang berlaku di masing-masing perusahaan:

1. Perusahaan dengan 6 Hari Kerja (40 Jam per Minggu)

Apabila Anda bekerja dengan skema 7 jam sehari selama 6 hari dalam seminggu, maka simulasinya adalah:

  • Jam ke-1 hingga jam ke-7: Dibayar 2 kali upah per jam.
  • Jam ke-8: Dibayar 3 kali upah per jam.
  • Jam ke-9 hingga jam ke-11: Dibayar 4 kali upah per jam.
Baca Juga  Visi Besar Menkop Ferry Juliantono: Jadikan Kopdit Obor Mas NTT Sebagai Mercusuar Ekonomi Rakyat Nasional

2. Perusahaan dengan 5 Hari Kerja (40 Jam per Minggu)

Bagi Anda yang bekerja dengan skema 8 jam sehari selama 5 hari dalam seminggu, perhitungannya adalah sebagai berikut:

  • Jam ke-1 hingga jam ke-8: Dibayar 2 kali upah per jam.
  • Jam ke-9: Dibayar 3 kali upah per jam.
  • Jam ke-10 hingga jam ke-12: Dibayar 4 kali upah per jam.

Cara Menghitung Nilai Nominal Upah Per Jam

Untuk mengetahui berapa nilai rupiah dari lembur Anda, langkah pertama adalah menentukan besaran “upah per jam”. Rumus standarnya adalah 1/173 dikalikan upah sebulan. Angka 173 ini didapat dari rata-rata jam kerja per bulan dalam satu tahun.

Mengenai komponen gaji yang digunakan sebagai dasar hitungan:

  • Jika penghasilan Anda terdiri dari upah pokok dan tunjangan tetap, maka dasar perhitungannya adalah 100% dari total upah tersebut.
  • Jika terdapat tunjangan tidak tetap, dan total upah pokok plus tunjangan tetap Anda ternyata kurang dari 75% dari total gaji keseluruhan, maka dasar perhitungan lembur ditetapkan minimal sebesar 75% dari total upah Anda.
Baca Juga  Kabar Gembira! Pendaftaran Sertifikasi Magang Nasional 2026 Diperpanjang, Simak Cara dan Syaratnya

Memahami aturan ini sangat krusial agar tercipta transparansi dan hubungan industrial yang sehat antara pihak pemberi kerja dan penerima kerja. Jangan ragu untuk memastikan hak Anda terlindungi dengan memantau kebijakan terbaru dari Kementerian Ketenagakerjaan agar dedikasi Anda di hari libur tetap dihargai secara layak.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul