Ketegangan di Yerusalem Timur: Menteri dan Puluhan Pemukim Israel Terjang Kompleks Masjid Al-Aqsa
Kamis, 14 Mei 2026 15:35 WIB
Kabarmalam.com — Suasana di Yerusalem Timur kembali mencekam setelah gelombang pemukim Israel, yang didampingi oleh pejabat tinggi pemerintahan, dilaporkan merangsek masuk ke dalam kompleks suci Masjid Al-Aqsa pada Kamis (14/5) pagi waktu setempat. Aksi provokatif ini memicu kecaman luas karena dilakukan di bawah pengawalan ketat pasukan keamanan bersenjata lengkap.
Ritual Talmud di Tengah Kawalan Ketat
Berdasarkan laporan yang dihimpun tim redaksi dari sumber lapangan, puluhan pemukim Israel terpantau memasuki area halaman Masjid Al-Aqsa secara berkelompok. Tidak hanya sekadar melintas, mereka secara terang-terangan melakukan ritual keagamaan Talmud di area yang seharusnya menjadi zona sakral umat Muslim tersebut. Kehadiran pasukan keamanan Israel di lokasi justru terlihat memberikan perlindungan bagi kelompok pemukim tersebut, alih-alih meredam situasi.
Insiden ini bukan merupakan kejadian tunggal. Sehari sebelumnya, eskalasi sudah mulai terasa ketika Menteri Urusan Negev dan Galilea, Yitzhak Wasserlauf, melakukan kunjungan serupa. Wasserlauf, yang dikenal sebagai tokoh dari partai sayap kanan Otzma Yehudit, sengaja mendatangi kompleks tersebut hanya dua hari menjelang peringatan pendudukan Israel atas Yerusalem.
Ambisi Sayap Kanan dan Ancaman Status Quo
Partai Otzma Yehudit, yang dipimpin oleh Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir, memang kerap menunjukkan sikap agresif terkait klaim atas situs-situs suci di wilayah tersebut. Kunjungan Wasserlauf dan para pemukim ini diyakini sebagai bagian dari seruan organisasi sayap kanan Israel untuk menunjukkan eksistensi mereka menjelang pawai bendera besar-besaran yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis malam.
Palestina memandang tindakan ini sebagai pelanggaran serius terhadap perjanjian status quo yang telah berlaku selama puluhan tahun. Berdasarkan aturan tersebut, umat Yahudi memang diperbolehkan berkunjung sebagai wisatawan, namun dilarang keras untuk melakukan aktivitas ibadah atau ritual doa di dalam kompleks situs suci tersebut.
Upaya Sistematis Mengubah Identitas Yerusalem
Bagi warga Palestina, peningkatan frekuensi kunjungan pemukim ini—yang tercatat terjadi sebanyak 30 kali sepanjang bulan April lalu—adalah upaya sistematis untuk melakukan “Yahudisasi” terhadap Yerusalem Timur. Mereka khawatir Israel sedang mencoba menghapus identitas Arab dan Islam dari Masjid Al-Aqsa, yang merupakan situs tersuci ketiga di dunia bagi umat Islam.
Hingga saat ini, komunitas internasional terus memantau perkembangan di konflik Israel-Palestina ini. Palestina tetap pada pendiriannya bahwa Yerusalem Timur adalah ibu kota masa depan negara mereka, merujuk pada resolusi internasional yang tidak mengakui aneksasi wilayah tersebut oleh Israel sejak tahun 1967 dan 1980.
Tindakan provokatif di area sensitif seperti Al-Aqsa dikhawatirkan dapat memicu gelombang kekerasan baru di kawasan Timur Tengah yang saat ini situasinya masih sangat rentan.