Visi Baru Menbud Fadli Zon: Menjadikan Museum Sebagai Jantung Infrastruktur Ekonomi Budaya Indonesia
Senin, 18 Mei 2026 17:34 WIB
Kabarmalam.com — Di tengah dinamika dunia yang kian terfragmentasi oleh berbagai konflik dan polarisasi, peran museum kini dituntut untuk berevolusi. Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan bahwa museum tidak boleh lagi dipandang sebelah mata hanya sebagai gedung penyimpanan benda kuno yang berdebu. Sebaliknya, museum memiliki posisi strategis sebagai infrastruktur hulu dalam ekosistem ekonomi budaya nasional.
Dalam orasi kebudayaan yang disampaikan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Fadli Zon memaparkan visi besar pemerintah untuk mentransformasi wajah permuseuman tanah air. Momentum ini bertepatan dengan peringatan Hari Museum Internasional yang mengusung tema global ‘Museums Uniting a Divided World’.
Museum Sebagai Ruang Publik dan Pemersatu Bangsa
Menurut Fadli, museum adalah jembatan yang menghubungkan memori kolektif masa lalu dengan imajinasi masa depan. Di tengah masyarakat yang semakin terkoneksi secara digital namun sering kali terpisah secara sosial, museum hadir sebagai ruang publik yang inklusif untuk membangun kembali kepercayaan antarwarga.
“Museum harus hadir sebagai ruang publik yang mempertemukan perbedaan, serta menghubungkan generasi muda dengan sejarah dan warisan peradabannya. Ini bukan sekadar tempat menyimpan benda bersejarah, melainkan bagian dari infrastruktur demokrasi suatu bangsa,” ujar Fadli Zon dalam keterangan resminya.
Menyulap Modal Budaya Menjadi Nilai Ekonomi
Salah satu poin krusial yang ditekankan oleh Menbud adalah konsep cultural capital atau modal budaya. Beliau menilai potensi besar yang tersimpan di dalam 516 museum di seluruh Indonesia harus mampu dikonversi menjadi nilai ekonomi yang berkelanjutan. Sektor budaya dan industri kreatif global sendiri telah berkontribusi sebesar 4,3 triliun dolar AS, dan Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton.
Fadli menjabarkan empat landasan utama dalam kebijakan permuseuman Indonesia ke depan:
- Instrumen Jati Diri: Memperkuat identitas nasional di kancah global.
- Ruang Kewargaan: Mempererat kohesi sosial melalui dialog antarbudaya.
- Pemulihan Kedaulatan Budaya: Menjaga dan merebut kembali narasi sejarah bangsa.
- Infrastruktur Hulu Ekonomi Budaya: Menjadi sumber inspirasi bagi sektor film, animasi, gim, wastra, hingga kuliner.
“Dari museum akan lahir pengetahuan, imajinasi, dan narasi yang menjadi fondasi industri kreatif kita. Kita ingin kunjungan ke museum menjadi sebuah gaya hidup baru, terutama bagi generasi muda,” tambahnya.
Agenda Prioritas dan Inovasi ‘Museum Passport’
Untuk mencapai visi tersebut, Kementerian Kebudayaan tengah menggenjot empat agenda prioritas, mulai dari percepatan transformasi digital hingga penguatan kemitraan lewat skema public-private partnership. Hingga April 2026, tercatat sebanyak 234 museum telah berhasil mencapai standar klasifikasi tipe A, B, atau C.
Sebagai langkah konkret untuk menarik minat generasi milenial dan Gen Z, pemerintah melalui Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya meluncurkan program Museum Passport. Inovasi ini merupakan buku jejak partisipatif yang memungkinkan pengunjung mengumpulkan stempel dari setiap situs warisan budaya yang mereka kunjungi, menciptakan pengalaman eksplorasi yang lebih interaktif dan personal.
Dukungan Lintas Sektor
Acara ini turut dihadiri oleh jajaran tokoh penting, termasuk Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo, tokoh senior Wardiman Djojonegoro, serta para pejabat eselon di lingkungan Kementerian Kebudayaan. Kehadiran para pemangku kepentingan ini mempertegas komitmen kolektif untuk menjadikan museum sebagai pilar masa depan Indonesia.
Kepala BLU Museum dan Cagar Budaya, Esti Nurjadin, menutup dengan pesan mendalam bahwa museum adalah pengingat bahwa keberagaman perspektif bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan sebuah undangan untuk saling melengkapi dalam percakapan yang bermartabat.