Ikuti Kami
kabarmalam.com

Inovasi Pangan Lapas Garut: Dari Pakan Mandiri Hingga Telur Berkualitas, Jadi Role Model Nasional

Husnul | kabarmalam.com
Kamis, 14 Mei 2026 23:37 WIB
Inovasi Pangan Lapas Garut: Dari Pakan Mandiri Hingga Telur Berkualitas, Jadi Role Model Nasional

Kabarmalam.com — Langkah nyata dalam mendukung program ketahanan pangan nasional terus diperlihatkan oleh jajaran pemasyarakatan. Terbaru, Sekretaris Jenderal Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Sekjen Kemenimipas), Asep Kurnia, melakukan kunjungan kerja ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Garut untuk meninjau langsung keberhasilan pembinaan kemandirian di sana.

Dalam kunjungannya yang didampingi oleh Kakanwil Ditjenpas Jawa Barat, Kusnali, Asep memberikan apresiasi tinggi terhadap ekosistem produktif yang dibangun di balik jeruji besi. Fokus utamanya adalah sektor ketahanan pangan yang dinilai sangat maksimal dan terintegrasi dengan baik, menunjukkan bahwa penjara bisa bertransformasi menjadi pusat produksi yang berdaya guna.

Kemandirian di Balik Jeruji: Memproduksi Pakan Sendiri

Salah satu poin krusial yang mencuri perhatian Sekjen Kemenimipas adalah unit peternakan ayam petelur. Berbeda dengan peternakan konvensional, Lapas Garut telah mencapai level kemandirian yang luar biasa dalam hal penyediaan pakan.

Baca Juga  Kemenimipas Sukses Tekan Overkapasitas Lapas Jadi 85%, Fokus Bersih-Bersih Narkoba dan Reformasi Penjara

“Ada hal yang sangat menonjol di sini. Peternakan ayam petelurnya tidak lagi bergantung pada pakan pabrikan dari luar. Seluruh kebutuhan pakan dibuat sendiri oleh para warga binaan,” ujar Asep Kurnia dalam keterangannya. Ia menambahkan bahwa produksi pakan mandiri ini melibatkan warga binaan yang telah dibekali keahlian khusus. Selain memberikan penghematan biaya, aktivitas ini juga memberikan keuntungan ekonomis langsung bagi para narapidana berupa premi atau upah atas kerja keras mereka.

Kejutan ‘Double Yolk’ dan Kualitas Produk

Tak sekadar melihat dari jauh, Asep Kurnia sempat masuk langsung ke dalam kandang untuk mengecek kualitas hasil ternak. Ada momen unik yang menarik perhatiannya saat ia mencoba mengambil dan memecahkan telur hasil produksi Lapas Garut.

“Saya sempat penasaran dan langsung menuju kandang. Saat saya ambil dan pecahkan dua butir telur, ternyata salah satunya berisi dua kuning telur (double yolk). Jadi dari dua telur, saya dapat tiga kuning telur yang sangat segar. Ukurannya pas, tidak terlalu besar atau kecil, dan sangat enak saat dikonsumsi,” kenangnya dengan nada kagum.

Baca Juga  Amukan Si Jago Merah di Gandamekar Bekasi: Permukiman Padat Hangus Dilalap Api

Kepemimpinan yang Menginspirasi

Kesuksesan ini tentu tidak lepas dari manajemen yang solid. Asep Kurnia secara khusus memuji dedikasi Kalapas Garut yang dinilai sangat peduli dan memiliki visi yang jelas dalam pembinaan. Ia bahkan tidak ragu menyebut Kalapas Garut sebagai sosok role model di lingkungan pemasyarakatan Indonesia.

“Kalapas di sini sangat luar biasa dan penuh dedikasi. Saya sering meminta Kalapas dari daerah lain untuk datang berkunjung ke Garut guna melakukan studi banding, terutama mengenai bagaimana mengelola manajemen ketahanan pangan yang efektif. Itu bukan perkara mudah,” tegasnya.

Bekal Keahlian untuk Masa Depan

Program ini bukan hanya soal mengisi waktu luang atau mengejar target produksi. Lebih jauh, Sekjen Kemenimipas menekankan bahwa tujuan utamanya adalah pemberdayaan manusia. Dengan memiliki keahlian teknis dalam bidang peternakan dan pembuatan pakan, serta tabungan dari premi yang mereka kumpulkan, para warga binaan diharapkan memiliki masa depan yang lebih cerah.

Baca Juga  Langkah Strategis Polri: Ribuan Satuan Pelayanan Gizi Siap Sokong Program Makan Bergizi Gratis

“Kita ingin ketika mereka bebas nanti, mereka tidak hanya membawa surat bebas, tetapi juga membawa keahlian nyata dan sedikit modal hasil keringat mereka sendiri. Inilah esensi dari proses pemasyarakatan yang sebenarnya,” pungkas Asep. Melalui integrasi antara ketertiban keamanan dan pembinaan produktif, Lapas Garut membuktikan bahwa mereka mampu menjadi rujukan nasional dalam pelaksanaan tugas dan fungsi pemasyarakatan.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul