Ikuti Kami
kabarmalam.com

Waspada Hantavirus: Infeksi Mematikan yang Sering Tersamar Sebagai Demam Biasa

Wahid | kabarmalam.com
Senin, 11 Mei 2026 16:34 WIB
Waspada Hantavirus: Infeksi Mematikan yang Sering Tersamar Sebagai Demam Biasa

Kabarmalam.com — Kabar mengenai kemunculan Hantavirus belakangan ini kembali mencuat dan mencuri perhatian publik setelah adanya laporan wabah Hantavirus jenis virus Andes di kapal pesiar mewah MV Hondius. Meski terdengar jauh, ancaman ini nyatanya tidak bisa dipandang sebelah mata bagi masyarakat Indonesia. Di tanah air sendiri, varian yang ditemukan adalah Seoul virus, yang meski berbeda jenis, tetap memiliki risiko kesehatan yang sangat serius.

Sering kali, gejala penyakit akibat Hantavirus ini disalahartikan sebagai gangguan kesehatan lain karena kemiripan tandanya dengan penyakit tropis pada umumnya. Padahal, tanpa penanganan yang tepat, virus yang dibawa oleh tikus ini dapat berujung fatal.

Mengenal Dua Wajah Hantavirus yang Berbahaya

Berdasarkan data medis yang dihimpun dari Kementerian Kesehatan dan CDC, Hantavirus setidaknya memicu dua jenis penyakit berat dengan manifestasi klinis yang berbeda, namun keduanya sama-sama mengancam nyawa:

Baca Juga  Mengenal Ancaman Hantavirus: Tragedi Maut di Kapal Pesiar MV Hondius dan Cara Mencegahnya

1. Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS)

Jenis ini lebih sering ditemukan di wilayah Asia dan Eropa. Fokus utama serangan virus ini adalah pembuluh darah dan organ ginjal. Seseorang yang terinfeksi HFRS biasanya akan merasakan serangkaian gejala seperti:

  • Demam tinggi yang disertai menggigil.
  • Sakit kepala yang terasa sangat berat.
  • Nyeri pada area punggung dan perut secara intens.
  • Terjadinya perdarahan pada titik tertentu.
  • Rasa mual hingga gangguan penglihatan (kabur).
  • Dalam kondisi kritis, pasien dapat mengalami gagal ginjal akut.

2. Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS)

Berbeda dengan HFRS, jenis HPS lebih dominan ditemukan di benua Amerika dan menyerang sistem pernapasan atau paru-paru. Tingkat kematian (Case Fatality Rate) pada HPS tergolong sangat tinggi, bahkan bisa mencapai angka 50 persen. Infeksi virus ini ditandai dengan:

  • Sesak napas akut hingga risiko gagal napas.
  • Rasa lelah yang luar biasa (fatigue).
  • Nyeri otot hebat, terutama pada kelompok otot besar seperti paha, pinggul, punggung, dan bahu.
Baca Juga  Waspada Zoonosis! Dinkes Kulon Progo Pastikan Kasus Suspek Hantavirus Negatif

Gejala yang Sering Mengecoh Diagnosis

Salah satu tantangan terbesar dalam menghadapi Hantavirus adalah sifat gejalanya yang menyerupai penyakit lain yang lebih umum di Indonesia, seperti demam berdarah (dengue), tifoid, hingga leptospirosis. Karena tahap awal infeksi hanya berupa demam, nyeri otot, dan mual, banyak kasus yang kemungkinan besar tidak terdeteksi atau mendapatkan diagnosis yang keliru (misdiagnosed).

Mengapa Hantavirus Harus Menjadi Perhatian Serius?

Ada tiga alasan mendasar mengapa masyarakat dan pemangku kebijakan kesehatan perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap virus ini:

  1. Underdiagnosed dan Underrated: Karena gejalanya yang generik, banyak kasus hantavirus yang lewat begitu saja tanpa tercatat secara medis sebagai infeksi Hantavirus.
  2. Reservoir yang Melimpah: Indonesia merupakan rumah bagi setidaknya 15 spesies tikus yang telah dikonfirmasi secara ilmiah sebagai pembawa (reservoir) virus ini. Mobilitas tikus yang tinggi di lingkungan pemukiman meningkatkan risiko penularan ke manusia.
  3. Potensi Fatalitas Tinggi: Dengan tingkat kematian yang bisa mencapai puluhan persen pada kasus berat, Hantavirus bukanlah ancaman yang bisa diremehkan.
Baca Juga  Drama Hantavirus di MV Hondius: WHO Tegaskan Penularan Tak Secepat COVID-19

Menerapkan pola hidup bersih dan memastikan lingkungan rumah bebas dari sarang tikus adalah langkah preventif utama. Jika Anda mengalami demam tinggi yang disertai nyeri otot hebat setelah melakukan kontak dengan area yang dihuni tikus, segera konsultasikan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan dini.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid