Kemenkes Ungkap Jejak Hantavirus di Indonesia: Sudah Ada Sejak 1991, Kenali Perbedaan Tipenya
Senin, 11 Mei 2026 15:05 WIB
Kabarmalam.com — Ancaman hantavirus di Indonesia ternyata bukan merupakan fenomena baru dalam peta persebaran penyakit menular di tanah air. Berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI), virus ini sejatinya telah terdeteksi kehadirannya di Indonesia sejak tahun 1991. Hal ini menunjukkan bahwa kewaspadaan terhadap virus yang dibawa oleh hewan pengerat ini telah menjadi perhatian serius selama lebih dari tiga dekade.
Mengenal HFRS: Varian Hantavirus yang Ada di Indonesia
Tipe hantavirus yang ditemukan di Indonesia dikategorikan sebagai Haemorrhagic Fever With Renal Syndrome (HFRS). Jenis ini umumnya tersebar luas di wilayah Asia dan Eropa. Berdasarkan hasil penelitian mendalam, seluruh kasus konfirmasi HFRS yang terjadi di tanah air berasal dari strain Seoul Virus.
Dalam penjelasannya, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengungkapkan bahwa keberadaan hantavirus ini terdeteksi melalui studi Rikhus Vektora yang dilakukan di 29 provinsi. Virus ini ditemukan pada tikus celurut serta tikus got di kawasan perkotaan, serta beberapa area pertanian dan semi-alami.
Perbedaan Tegas dengan Klaster MV Hondius
Kemenkes juga memberikan klarifikasi penting terkait temuan kasus pada klaster kapal pesiar MV Hondius. Berbeda dengan tipe yang ada di Indonesia, kasus di kapal tersebut merupakan tipe Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) dengan strain Andes Virus.
“Tipe hantavirus di Indonesia berbeda dengan yang ditemukan di MV Hondius. Di sana terkonfirmasi tipe HPS jenis Andes Virus yang lazimnya tersebar di Benua Amerika. Hingga saat ini, tipe HPS tersebut belum pernah dilaporkan ditemukan di Indonesia, baik pada manusia maupun tikus,” tegas Andi Saguni.
Waspadai Gejala: Perbandingan HFRS dan HPS
Masyarakat diimbau untuk mengenali gejala penyakit agar dapat segera melakukan tindakan medis jika diperlukan. Terdapat perbedaan klinis yang signifikan antara HFRS yang ditemukan di Indonesia dengan HPS yang ditemukan di Amerika.
Gejala HFRS (Tipe di Indonesia)
- Demam tinggi yang muncul tiba-tiba.
- Sakit kepala dan nyeri badan (malaise).
- Kondisi ikterik atau jaundice (tubuh dan mata menguning).
- Masa inkubasi sekitar 1 hingga 2 minggu.
- Tingkat kematian (Case Fatality Rate) berkisar antara 5 hingga 15 persen.
Gejala HPS (Tipe Amerika/Andes Virus)
- Demam dan nyeri otot yang parah.
- Gangguan pernapasan akut dan sesak napas.
- Batuk kering.
- Masa inkubasi lebih panjang, yakni 1 hingga 8 minggu (bisa mencapai 42 hari).
- Memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi, mencapai 60 persen.
Dengan memahami karakteristik dan jenis hantavirus yang ada, pola hidup sehat serta menjaga kebersihan lingkungan dari sarang tikus menjadi kunci utama dalam mencegah penularan virus ini di lingkungan masyarakat.