Ikuti Kami
kabarmalam.com

Menguak Sosok ‘Pasien Nol’ di Balik Wabah Hantavirus MV Hondius: Sang Ahli Burung dari Belanda

Wahid | kabarmalam.com
Senin, 11 Mei 2026 13:05 WIB
Menguak Sosok 'Pasien Nol' di Balik Wabah Hantavirus MV Hondius: Sang Ahli Burung dari Belanda

Kabarmalam.com — Tabir misteri yang menyelimuti identitas ‘pasien nol’ atau zero patient dalam tragedi wabah hantavirus mematikan di kapal pesiar MV Hondius akhirnya terkuak ke publik. Sosok tersebut teridentifikasi sebagai Leo Schilperoord, seorang pria berusia 70 tahun asal Haulerwijk, Belanda, yang mendedikasikan hidupnya sebagai seorang ornitolog atau ahli yang mempelajari ilmu tentang burung.

Kisah tragis ini bermula ketika Schilperoord dan istrinya, Mirjam Schilperoord (69), melakukan perjalanan panjang mengelilingi Amerika Selatan sejak awal tahun 2026. Sebagai pengamat burung yang berpengalaman, pasangan ini menjelajahi wilayah Argentina, Chile, hingga Uruguay sebelum akhirnya menaiki MV Hondius pada 1 April untuk sebuah pelayaran melintasi Atlantik Selatan. Namun, hobi yang mereka cintai itu justru menjadi pintu gerbang bagi munculnya wabah hantavirus yang mengguncang dunia medis.

Baca Juga  Bukan Kebiri! Ini Penjelasan Medis Mengapa Vasektomi Tidak Mengurangi Kejantanan Pria

Titik Penularan: Antara Hobi dan Bahaya Tersembunyi

Penyelidikan mendalam yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama otoritas kesehatan di Argentina dan Chile mengarah pada satu lokasi spesifik sebagai asal mula infeksi. Diduga kuat, pasangan ini terpapar virus Andes saat mengunjungi lokasi pembuangan sampah di pinggiran Ushuaia, Patagonia.

Tempat yang tampak kumuh tersebut justru menjadi magnet bagi para pengamat burung karena merupakan habitat spesies langka seperti Caracara Darwin. Sayangnya, area itu juga diketahui menjadi habitat subur bagi hewan pengerat pembawa virus. Partikel dari urine atau kotoran tikus yang terhirup saat mereka sedang asyik mendokumentasikan burung-burung langka diyakini menjadi cara virus tersebut masuk ke tubuh Schilperoord.

Kronologi Tragedi di Tengah Samudra

Hanya berselang kurang dari satu minggu setelah kapal mulai berlayar, gejala awal mulai merongrong kesehatan Leo. Pada 6 April, ia mulai mengeluhkan demam tinggi, sakit kepala hebat, dan gangguan pencernaan. Situasi di atas kapal sempat diliputi ketidakpastian karena gejalanya menyerupai penyakit pernapasan biasa. Kondisi Leo memburuk dengan sangat cepat hingga ia mengembuskan napas terakhir di atas kapal pada 11 April.

Baca Juga  IDAI: Ancaman Campak dan Difteri Jauh Lebih Mendesak Dibanding Isu Hantavirus

Nasib malang tak berhenti di situ. Sang istri, Mirjam, yang mulanya tampak kuat, mulai menunjukkan penurunan kondisi saat kapal bersandar di Saint Helena pada 24 April. WHO melaporkan bahwa Mirjam sempat mengalami gangguan pencernaan sebelum akhirnya kondisinya kritis dalam penerbangan menuju Johannesburg, Afrika Selatan. Ia dinyatakan meninggal dunia pada 26 April di sebuah klinik setempat, menyusul sang suami dalam waktu yang sangat singkat.

Ancaman Penularan Antarmanusia

Apa yang membuat kasus di MV Hondius ini menjadi perhatian serius bagi otoritas kesehatan global adalah jenis virus yang terlibat. Berbeda dengan mayoritas hantavirus lainnya yang umumnya hanya menular dari hewan ke manusia, virus Andes memiliki kemampuan langka untuk menular antarmanusia melalui kontak dekat yang berkepanjangan.

Baca Juga  Waspada Hantavirus: Mengintip Jejak Sebaran dan Risiko Kasusnya di Indonesia

Hingga saat ini, proses pelacakan kontak internasional masih terus dilakukan secara masif. Penumpang dari Amerika Serikat dan Eropa yang sempat berada dalam satu pelayaran kini berada dalam pemantauan ketat untuk mendeteksi kemungkinan munculnya gejala baru. Tragedi yang menimpa keluarga Schilperoord ini kini menjadi fokus utama dalam memahami penyebaran penyakit menular di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid