Ikuti Kami
kabarmalam.com

Ancaman Senyap di Singapura: Kasus Penyakit Ginjal Kronis Melonjak Tajam, Lebih dari 200 Ribu Warga Terdampak

Wahid | kabarmalam.com
Senin, 11 Mei 2026 12:35 WIB
Ancaman Senyap di Singapura: Kasus Penyakit Ginjal Kronis Melonjak Tajam, Lebih dari 200 Ribu Warga Terdampak

Kabarmalam.com — Singapura tengah menghadapi tantangan besar di sektor kesehatan setelah Yayasan Ginjal Nasional (NKF) setempat melaporkan lonjakan kasus penyakit ginjal kronis yang mengkhawatirkan. Dalam kurun waktu empat tahun terakhir, diperkirakan lebih dari 200 ribu warga di Negeri Singa tersebut baru saja didiagnosis mengidap Chronic Kidney Disease (CKD), sebuah kondisi yang memicu kekhawatiran akan terjadinya ledakan jumlah pasien gagal ginjal di masa depan.

Lonjakan Prevalensi yang Signifikan

Berdasarkan data terbaru dari Survei Kesehatan Penduduk Nasional (NPHS) yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Singapura pada Oktober 2025, angka prevalensi CKD pada penduduk usia 18 hingga 74 tahun meroket menjadi 13,9 persen pada periode 2023-2024. Angka ini menunjukkan kenaikan yang sangat tajam jika dibandingkan dengan periode 2019-2020 yang hanya berada di angka 8,7 persen.

Baca Juga  Tragedi Kapal Pesiar MV Hondius: Dua Warga Singapura Diisolasi Akibat Ancaman Hantavirus

Menteri Kesehatan Singapura, Ong Ye Kung, menyoroti bahwa meskipun tren penyakit penyerta seperti diabetes dan hipertensi relatif stabil, jumlah pasien yang membutuhkan tindakan cuci darah terus merangkak naik. Fenomena ini diperparah oleh struktur populasi Singapura yang semakin menua, di mana lansia memiliki risiko lebih tinggi terhadap penurunan fungsi organ vital.

Mengenal CKD: Kerusakan Bertahap yang Tak Terlihat

Direktur Medis National Kidney Foundation, Dr. Jason Choo, menjelaskan bahwa CKD bukanlah kondisi yang terjadi secara mendadak, melainkan kerusakan jangka panjang yang menurunkan fungsi penyaringan ginjal secara bertahap. Penyakit ini terbagi dalam lima stadium:

  • Stadium 1: Kerusakan ginjal ringan, sering kali ditandai dengan adanya protein dalam urine, namun fungsi organ masih berjalan normal.
  • Stadium 5: Kondisi gagal ginjal stadium akhir, di mana pasien mutlak memerlukan dialisis (cuci darah) atau transplantasi ginjal untuk bertahan hidup.
Baca Juga  Belajar dari Kasus Viktor Axelsen, Waspadai Ancaman Saraf Kejepit Saat Berolahraga

Saat ini, diperkirakan total pengidap CKD di Singapura mencapai 500 ribu orang. Dr. Choo memperingatkan bahwa jika hanya 5 persen saja dari jumlah tersebut yang kondisinya memburuk hingga stadium akhir, maka akan ada 25.000 pasien baru yang membutuhkan dialisis—angka yang dua kali lipat lebih besar dari kapasitas layanan saat ini.

Langkah Strategis Pemerintah dan Pentingnya Deteksi Dini

Menyikapi urgensi ini, pemerintah Singapura memperluas program Holistic Approach in Lowering and Tracking Chronic Kidney Disease (HALT-CKD). Hingga awal 2026, sekitar 1.100 klinik swasta di bawah jaringan Healthier SG telah dilibatkan untuk memantau pasien sejak dini.

Dr. Jonathan Yeo, Direktur Chinatown Family Medicine Clinic, menekankan bahwa peran dokter umum sangat krusial dalam memberikan protokol perawatan yang seragam. Menurutnya, tantangan terbesar adalah sifat CKD yang sering kali “tanpa gejala” atau asymptomatic hingga mencapai tahap kronis.

Baca Juga  Seret Nama ke Pusaran Hoaks 750 Dapur MBG, Uya Kuya Ambil Langkah Tegas ke Jalur Hukum

“Banyak orang keliru menganggap bahwa gangguan ginjal harus disertai nyeri punggung. Padahal, pada saat mereka menyadari ginjal melemah, kerusakannya sering kali sudah tidak dapat dipulihkan lagi,” tegas Dr. Yeo. Oleh karena itu, pemeriksaan rutin terhadap kadar gula darah dan tekanan darah menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan ginjal agar terhindar dari komplikasi yang lebih berat.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid