Belajar dari Kasus Viktor Axelsen, Waspadai Ancaman Saraf Kejepit Saat Berolahraga
Jumat, 17 Apr 2026 05:35 WIB
Kabarmalam.com — Kabar mengejutkan datang dari jagat tepok bulu dunia. Sang legenda asal Denmark, Viktor Axelsen, akhirnya memutuskan untuk menyudahi karier profesionalnya di usia 32 tahun. Keputusan berat ini diambil bukan karena kehilangan api kompetisi, melainkan akibat perjuangan panjang melawan cedera punggung kronis dan masalah saraf kejepit yang kian mengganggu kualitas hidupnya.
Tragedi yang menimpa Axelsen ini menjadi alarm bagi kita semua. Bahwa di balik tubuh yang bugar dan prestasi gemilang, tersimpan risiko kesehatan yang nyata, bahkan bagi para pegiat olahraga amatir sekalipun. Menanggapi hal ini, dr. Faisal M, SpBS, seorang spesialis bedah saraf dari RS Lamina Jakarta Selatan, memberikan pemaparan mendalam mengenai bahaya saraf kejepit atau dalam istilah medis disebut Hernia Nucleus Pulposus (HNP).
Mengapa Punggung Menjadi Titik Lemah Saat Berolahraga?
Menurut dr. Faisal, pemicu cedera tulang belakang bisa sangat bervariasi. Bagi mereka yang baru memulai rutinitas olahraga atau pemula, risiko biasanya muncul akibat penggunaan otot yang berlebihan (overuse) serta postur yang salah saat melakukan gerakan tertentu.
“Hal yang terlihat sepele, seperti kesalahan teknik saat mendarat setelah melompat, bisa memberikan tekanan langsung yang berbahaya pada tulang belakang,” jelas dr. Faisal. Ketidaksiapan otot penopang dalam menerima beban kejut inilah yang seringkali berujung fatal.
Kondisinya berbeda dengan para atlet profesional. Bagi mereka, cedera bukan terjadi secara mendadak, melainkan hasil dari akumulasi trauma mikro yang terjadi berulang kali selama bertahun-tahun. Aktivitas fisik dengan intensitas tinggi yang dilakukan tanpa henti menyebabkan bantalan tulang belakang mengalami keausan sebelum waktunya.
Pencegahan: Mendengarkan Sinyal dari Tubuh
Lantas, apakah kita harus menghindari aktivitas fisik? Tentu tidak. Olahraga tetap menjadi kunci utama kebugaran. Namun, dr. Faisal menekankan pentingnya kesadaran akan batas kemampuan diri atau self-awareness.
“Misalnya Anda baru pertama kali mencoba lari atau latihan angkat beban, kuncinya adalah jangan terlalu memaksakan diri. Lakukan sesuai kapasitas tubuh saat itu,” pesannya dengan tegas. Mengenali sinyal nyeri dan memberikan waktu istirahat yang cukup adalah investasi terbaik untuk kesehatan jangka panjang.
Kisah pensiunnya Axelsen mengingatkan kita bahwa tubuh manusia memiliki limit. Menjaga kesehatan bukan hanya tentang seberapa keras kita berlatih, tetapi juga seberapa bijak kita merawat aset fisik yang kita miliki agar tetap berfungsi optimal di masa tua nanti.