Kisah Pilu Endang, Bertahan 10 Jam Terjepit di Tragedi Kereta Bekasi Timur Sambil Menangis Minta Tolong
Selasa, 28 Apr 2026 16:04 WIB
Kabarmalam.com — Di tengah puing-puing besi yang hancur dan mencekamnya suasana malam di Stasiun Bekasi Timur, sebuah perjuangan hidup yang luar biasa terekam di balik tragedi besar. Endang Kuswati (40), salah satu penumpang yang menjadi korban tabrakan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line, harus melewati ujian yang nyaris mustahil. Selama sepuluh jam penuh, ia terjebak di dalam gerbong yang ringsek dalam kondisi terjepit, bertaruh nyawa menunggu tim penyelamat datang menjemputnya.
Kisah heroik sekaligus memilukan ini terungkap dari penuturan sepupu korban, Iqbal. Saat ditemui di RSUD Bekasi pada Selasa (28/4/2026), Iqbal menceritakan bagaimana Endang masih sempat meraih telepon genggamnya di tengah rasa sakit yang tak terbayangkan. Dalam kondisi tubuh tak bisa bergerak, ia menghubungi keluarganya hanya untuk memberikan kabar dan memohon pertolongan agar segera dikeluarkan dari himpitan besi gerbong.
Suara Isak Tangis di Balik Telepon
“Iya, dia masih sempat buka HP dan mengabari keluarga. Dia bilang kalau posisinya ada di dalam kereta yang kecelakaan dan minta tolong untuk segera diselamatkan,” kenang Iqbal dengan nada getir. Tidak sekadar memberi kabar, suara Endang di seberang telepon pecah oleh tangis ketakutan dan rasa perih yang mendalam.
Telepon darurat dari Endang itu diterima keluarga sekitar pukul 22.00 WIB. Mendengar kabar buruk tersebut, pihak keluarga langsung bergegas menuju lokasi kejadian kecelakaan kereta tersebut. Namun, proses pencarian di tengah kekacauan evakuasi tidaklah mudah. Hingga pukul 02.00 dini hari, keluarga masih belum mendapatkan kepastian mengenai keberadaan pasti Endang, apakah sudah dievakuasi ke rumah sakit atau masih tertahan di dalam gerbong yang hancur.
Proses Evakuasi yang Menegangkan
Titik terang baru muncul menjelang subuh. Lewat informasi dari awak media dan foto-foto yang beredar di lokasi, keluarga melihat kondisi Endang yang sudah sangat lemas namun masih bernapas. Dalam dokumentasi tersebut, Endang terlihat sudah diberikan bantuan oksigen oleh tim medis yang berusaha menjangkaunya meski tubuhnya belum bisa dilepaskan dari jepitan struktur kereta.
Endang baru benar-benar bisa dikeluarkan dari gerbong maut itu sekitar pukul 07.00 WIB. “Posisi kakak saya itu agak di bagian belakang, jadi harus menunggu antrean evakuasi penumpang lain yang posisinya lebih mudah dijangkau. Setelah berhasil ditarik keluar, ia langsung dilarikan ke RSUD Bekasi untuk mendapatkan penanganan intensif,” jelas Iqbal.
Kronologi Malam Kelam di Bekasi
Tragedi ini bermula dari sebuah insiden tak terduga saat sebuah taksi Green SM mogok tepat di tengah perlintasan dekat Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam. Taksi tersebut kemudian dihantam oleh KRL yang melaju dari arah Cikarang menuju Jakarta. Akibat tabrakan itu, KRL terhenti di tengah rel dan memancing kerumunan warga untuk membantu proses pembersihan.
Nahas, di saat bersamaan, terdapat KRL lain dari arah Jakarta yang berhenti karena imbas kecelakaan pertama. Di sinilah petaka memuncak ketika KA Argo Bromo Anggrek yang melaju kencang dari arah Jakarta tak mampu menghindari tabrakan dan menghantam bagian belakang KRL yang sedang berhenti tersebut. Dampak benturan yang dahsyat ini mengakibatkan kerusakan parah dan korban jiwa yang cukup banyak.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian melalui Kabid Dokkes Polda Metro Jaya, Kombes Martinus Ginting, mengonfirmasi bahwa jumlah korban meninggal dunia dalam insiden tragis ini telah mencapai 15 orang. Seluruh jenazah kini telah berada di RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi lebih lanjut. Tragedi ini menjadi catatan kelam bagi aspek keselamatan transportasi publik di tanah air.