Israel Siaga Tempur: Menanti ‘Lampu Hijau’ Amerika untuk Melumpuhkan Infrastruktur Vital Iran
Jumat, 24 Apr 2026 03:09 WIB
Kabarmalam.com — Eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah memasuki babak baru yang kian mengkhawatirkan. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, secara terbuka menegaskan bahwa militer Israel kini berada dalam posisi siaga penuh untuk melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Iran. Namun, langkah ofensif tersebut masih tertahan sembari menantikan restu atau ‘lampu hijau’ dari Amerika Serikat (AS).
Katz mengungkapkan bahwa seluruh persiapan militer, baik dari sisi defensif maupun ofensif, telah dimatangkan secara presisi. Sejumlah target strategis di tanah Iran dilaporkan sudah masuk dalam bidikan radar militer Israel. Pernyataan provokatif ini disampaikan Katz melalui sebuah rekaman video yang menyoroti ambisi Tel Aviv untuk mengakhiri pengaruh dinasti Khamenei di kawasan tersebut.
Rencana Melumpuhkan Ekonomi dan Infrastruktur Iran
Tidak sekadar ancaman lisan, Katz membeberkan visi destruktifnya terhadap Teheran. Ia menyebutkan bahwa Israel berambisi mengembalikan Iran ke ‘Zaman Batu’ atau era kegelapan dengan menghancurkan fasilitas energi, jaringan listrik utama, hingga melumpuhkan fondasi ekonomi nasional Iran. Upaya ini dipandang Israel sebagai langkah krusial untuk membongkar kekuatan infrastruktur lawan secara permanen.
“Kami sedang menunggu sinyal dari Amerika Serikat. Fokus utama kami adalah menyelesaikan penghapusan dinasti Khamenei dan memastikan Iran kehilangan kemampuan infrastrukturnya melalui serangan yang akan jauh lebih mematikan dari sebelumnya,” ujar Katz dengan nada tegas.
Paradoks Diplomasi: Antara Gencatan Senjata dan Blokade
Di tengah ancaman yang kian nyata, dinamika politik di Washington menambah kompleksitas situasi. Donald Trump sebelumnya sempat mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran dalam upaya meredam gejolak konflik Timur Tengah. Meski demikian, kebijakan tersebut tampak kontradiktif karena militer AS diperintahkan untuk tetap melanjutkan blokade ketat di pelabuhan-pelabuhan strategis Iran.
Trump menyatakan bahwa militer AS harus tetap berada dalam posisi siap tempur untuk merespons segala kemungkinan yang terjadi di Selat Hormuz. Ketidakpastian ini pun membuat upaya mediasi yang dilakukan oleh Pakistan sebagai penengah berada di ambang kegagalan, sementara krisis kemanusiaan terus menghantui wilayah Iran dan Lebanon.
Respon Keras Teheran: Taktik Mengulur Waktu
Pihak Teheran tidak tinggal diam menanggapi manuver AS dan Israel. Mahdi Mohammadi, Penasihat Ketua Parlemen Iran, menilai bahwa pengumuman gencatan senjata sepihak oleh Trump hanyalah sebuah retorika kosong yang tidak memiliki nilai tawar di mata Iran. Menurutnya, langkah tersebut hanyalah taktik militer untuk mengulur waktu demi mempersiapkan serangan mendadak.
“Perpanjangan gencatan senjata itu tidak berarti apa-apa bagi kami. Ini jelas taktik pengecut untuk mengumpulkan kekuatan sebelum melancarkan agresi. Sekarang saatnya bagi Iran untuk mengambil inisiatif dan menentukan langkah strategis kami sendiri,” pungkas Mohammadi sebagaimana dikutip dari berbagai sumber diplomatik.
Hingga saat ini, dunia internasional terus memantau dengan cemas apakah ‘lampu hijau’ dari Gedung Putih akan benar-benar menyala, yang diprediksi bakal memicu deflagrasi perang yang lebih luas dan mengguncang stabilitas dunia.