Ikuti Kami
kabarmalam.com

Menghidupkan Spirit Bandung: Refleksi 71 Tahun KAA Sebagai Jembatan Perdamaian Global

Husnul | kabarmalam.com
Minggu, 19 Apr 2026 20:35 WIB
Menghidupkan Spirit Bandung: Refleksi 71 Tahun KAA Sebagai Jembatan Perdamaian Global

Kabarmalam.com — Gema Dasasila Bandung kembali membahana di sudut-sudut historis Kota Kembang. Melalui Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan RI secara resmi menggelar peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA). Agenda besar ini bukan sekadar seremoni pengingat sejarah, melainkan langkah strategis untuk menginjeksikan kembali semangat Bandung ke dalam tatanan global yang kian dinamis.

Bertempat di Hotel Savoy Homann yang legendaris, acara bertajuk “Bandung Spirit: Budaya sebagai Jembatan Perdamaian Dunia” ini menjadi panggung bagi Indonesia untuk mempertegas posisi kebudayaan dalam kancah internasional. Dalam pidato kebudayaannya yang mendalam, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyoroti potret dunia saat ini yang tengah terperangkap dalam ketidakpastian global (uncertain world) dan krisis kepercayaan antarnegara (trust erosion).

Kebudayaan Sebagai Perisai di Tengah Gejolak Geopolitik

Fadli Zon mengungkapkan kegelisahannya terhadap eskalasi konflik, persaingan geopolitik yang kian memanas, hingga perlombaan persenjataan yang mengancam eksistensi kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa dalam setiap konflik, warisan budaya kerap menjadi korban yang paling rapuh. Kerusakan situs-situs bersejarah bukan hanya soal fisik bangunan, melainkan hilangnya jejak peradaban yang tak ternilai harganya.

Baca Juga  Skandal Chat Mesum Mahasiswa Hukum UI: Dekanat Turun Tangan, Rektorat Beri Peringatan Keras

“Jika kita ingin membangun perdamaian yang berkelanjutan, maka kita harus melindungi kebudayaan. Kita harus memastikan bahwa tidak ada perang yang menghapus sejarah suatu bangsa, tidak ada dominasi yang membungkam identitas, dan tidak ada sistem global yang mengabaikan suara mereka yang lemah,” tegas Fadli Zon dengan nada lugas.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia akan tetap konsisten berada di jalur politik luar negeri non-blok. Semangat ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan nasional melalui pembangunan sumber daya manusia dan ketahanan pangan demi mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.

Dialog Lintas Perspektif dan Visi UNESCO

Peringatan ini juga dimeriahkan dengan dialog kebudayaan bertajuk “Refleksi Nilai Historis Konferensi Asia Afrika dalam Perspektif Kebudayaan”. Diskusi yang dipandu oleh Staf Ahli Menteri Kebudayaan, Masyitoh Annisa Ramadhani Alkatiri, menghadirkan perspektif dari berbagai sudut pandang, mulai dari Duta Besar Mesir untuk Indonesia Yasser Hassan Farag Elshemy, anggota Komisi X DPR RI Ledia Hanifa, hingga akademisi Universitas Paramadina Anton Aliabbas.

Baca Juga  Dendam dan Harta: Kronologi Bang Tile Tega Habisi Mantan Istri di Serpong Utara

Menariknya, momentum ini juga dimanfaatkan oleh Pemerintah Kota Bandung untuk melangkah lebih jauh. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyampaikan inisiatif ambisius untuk mengusulkan kawasan Simpang Lima, menyusuri sepanjang Jalan Asia Afrika hingga Otista, sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga identitas visual dan nilai historis Kota Bandung agar tidak tergerus zaman.

Merekam Sejarah Melalui Narasi Visual

Sebagai bentuk dokumentasi yang otentik, Kementerian Kebudayaan juga meluncurkan buku berjudul “Konferensi Asia Afrika dalam Gambar”. Buku ini menyajikan kronologi visual yang membawa pembaca kembali ke masa-masa krusial tahun 1955.

“Album ini bercerita tentang bagaimana mulai dari kedatangan para peserta, suasana sidang, bahkan suasana diskusi, sampai dengan acara-acara kebudayaan, yang menggambarkan secara kronologis bagaimana peristiwa KAA terjadi di Bandung,” papar Fadli Zon saat menjelaskan isi buku tersebut.

Baca Juga  Respons Cepat Laporan Warga, Polres Kampar Hanguskan 6 Rakit Penambangan Emas Ilegal

Tak berhenti di sana, pameran foto dan narasi sejarah bertajuk “71 Tahun KAA” turut dihadirkan dengan pendekatan kuratorial yang edukatif. Melalui perayaan ini, pemerintah mempertegas komitmennya untuk menjadikan diplomasi budaya sebagai instrumen utama dalam merawat jati diri bangsa, memperkuat kedaulatan, dan tentu saja, menjadi jembatan bagi perdamaian dunia yang hakiki.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul