Ikuti Kami
kabarmalam.com

Menjaga Napas Seni Ukir Nusantara: Strategi Lestari Moerdijat Melahirkan Maestro Kelas Dunia

Husnul | kabarmalam.com
Rabu, 29 Apr 2026 20:04 WIB
Menjaga Napas Seni Ukir Nusantara: Strategi Lestari Moerdijat Melahirkan Maestro Kelas Dunia

Kabarmalam.com — Seni ukir bukan sekadar torehan motif di atas kayu atau komoditas pasar semata. Di balik setiap lekuk pahatannya, tersimpan denyut nadi identitas bangsa serta warisan filosofi leluhur yang harus terus dijaga keberlangsungannya. Pandangan mendalam inilah yang ditekankan oleh Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, saat membuka diskusi daring bertajuk ‘Menciptakan Maestro Seni Ukir Kelas Dunia’ yang diinisiasi oleh Forum Diskusi Denpasar 12.

Dalam forum yang dimoderatori oleh Eva Kusuma Sundari tersebut, Lestari menyoroti langkah besar yang tengah ditempuh untuk membawa seni ukir Jepara agar diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Menurut sosok yang akrab disapa Rerie ini, dokumentasi dan transmisi pengetahuan dari para maestro kepada generasi muda menjadi kunci utama agar pengakuan internasional tersebut dapat terwujud.

Baca Juga  Frustrasi Birokrasi Berujung Horor: Pria di India Nekat Bawa Kerangka Sang Adik ke Bank

Regenerasi dan Sentuhan Modernitas

Lestari mengungkapkan kekhawatirannya mengenai tantangan pelestarian di era modern. Indonesia memang kaya akan seniman jenius, namun proses pewarisan keahlian tersebut seringkali terhambat oleh zaman. Ia mendorong adanya integrasi antara nilai tradisional dan sentuhan modern tanpa menghilangkan esensi seni itu sendiri.

“Kita harus memastikan bahwa warisan ini tidak berhenti di satu generasi. Perlu ada upaya kolektif agar warisan budaya kita dipahami secara utuh oleh generasi penerus,” tegas Lestari dalam keterangannya.

Membangun Ekosistem bagi Sang Maestro

Senada dengan hal tersebut, kurator seni Suwarno Wisetrotomo memberikan perspektif menarik mengenai sosok maestro. Baginya, seorang maestro telah mencapai level ‘bakti yoga’—sebuah dedikasi total pada profesinya hingga menjadi teladan bagi sekitarnya. Namun, sosok hebat tidak lahir di ruang hampa.

Baca Juga  Bikin Ibadah Makin Seru! Ini 10 Ide Kegiatan Isra Miraj 1447 H yang Penuh Makna dan Edukatif

“Kita tidak bisa memimpikan lahirnya banyak maestro tanpa membangun ekosistem seni yang sehat. Hal ini membutuhkan tangan dingin dan kolaborasi dari berbagai pihak,” ujar Suwarno. Di sisi lain, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, memaparkan bahwa pemerintah kini fokus pada dua pilar: pengembangan SDM dan edukasi masyarakat. Tanpa apresiasi masyarakat yang baik, karya hebat para maestro tidak akan mendapatkan tempat yang layak.

Gagasan Padepokan sebagai Kawah Candradimuka

Diskusi semakin tajam saat wartawan senior Saur Hutabarat melontarkan gagasan konkret. Ia mengusulkan penerapan konsep ‘padepokan’ sebagaimana yang ada pada dunia seni tari. Di padepokan ini, calon maestro tidak hanya belajar teknis memahat, tetapi juga menyelami aspek filosofis yang menjadi jiwa dari sebuah karya ukir.

Baca Juga  "Disalibkan" oleh Tuduhan Korupsi LNG, Hari Karyuliarto Klaim Tak Curi Sepeser pun Uang Pertamina

Beberapa poin penting yang menjadi catatan dalam diskusi ini antara lain:

  • Pentingnya grand design pengembangan seni budaya agar setiap langkah yang diambil tepat sasaran.
  • Peran negara dalam ‘memupuk’ dan ‘merawat’ seniman, bukan sekadar ‘memanen’ hasil saat mereka sudah populer.
  • Integrasi ekonomi yang realistis agar ekosistem ekonomi kreatif berbasis seni ukir tetap berkelanjutan.
  • Digitalisasi pendataan kebudayaan untuk mempermudah transmisi pengetahuan antargenerasi.

Melalui penguatan ekosistem dan komitmen regenerasi yang kuat, diharapkan seni ukir Indonesia tidak hanya menjadi pajangan masa lalu, tetapi tetap relevan dan diakui sebagai mahakarya di kancah global.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul