Ikuti Kami
kabarmalam.com

Sudan Berdarah: Ratusan Warga Sipil Gugur dalam Teror Serangan Drone di Tengah Krisis Hebat

Husnul | kabarmalam.com
Selasa, 14 Apr 2026 18:04 WIB
Sudan Berdarah: Ratusan Warga Sipil Gugur dalam Teror Serangan Drone di Tengah Krisis Hebat

Kabarmalam.com — Bayang-bayang kematian seolah tak pernah beranjak dari tanah Sudan. Laporan terbaru yang dirilis oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyajikan potret kelam mengenai eskalasi kekerasan di negara tersebut. Tercatat, hampir 700 nyawa warga sipil melayang akibat rentetan serangan drone yang terjadi sejak awal Januari tahun ini. Fenomena ini mempertegas betapa mengerikannya perang saudara yang kini telah memasuki tahun keempat.

Konflik yang melibatkan militer Sudan dan kelompok paramiliter Pasukan Pendukung Cepat (RSF) ini bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan sebuah tragedi kemanusiaan yang menghancurkan sendi-sendi kehidupan. PBB dengan tegas melabeli situasi ini sebagai krisis kemanusiaan terbesar di dunia saat ini. Betapa tidak, puluhan ribu jiwa telah menjadi korban, sementara lebih dari 11 juta orang terpaksa angkat kaki dari rumah mereka demi mencari keselamatan.

Baca Juga  Gebrakan Ekonomi Kerakyatan: DPRD Surabaya Dorong Koperasi Merah Putih Jadi Ujung Tombak Pasar Murah

Langit Sudan yang Menakutkan

Tom Fletcher, Kepala Bantuan PBB, mengungkapkan bahwa dalam tiga bulan pertama tahun 2026 saja, tercatat sekitar 700 warga sipil tewas akibat serangan pesawat nirawak atau drone. Serangan-serangan ini telah menjadi rutinitas harian yang meneror warga di berbagai wilayah, terutama di Kordofan Selatan yang kini menjadi titik panas pertempuran, serta wilayah Darfur yang berada di bawah kendali RSF.

“Jutaan orang terusir, komunitas-komunitas kosong, dan keluarga-keluarga harus berpindah berkali-kali tanpa arah yang pasti,” ujar Fletcher dalam pernyataan resminya. Ia juga memperingatkan bahwa konflik Sudan ini membawa risiko besar terhadap stabilitas regional yang lebih luas jika tidak segera ditangani secara serius oleh dunia internasional.

Baca Juga  Tragedi Bita Hemmati: Jejak Kelam Wanita Iran Pertama yang Terancam Eksekusi Mati Pasca-Protes

Jeritan di Tengah Kelaparan dan Kekerasan

Dampak perang ini jauh melampaui statistik kematian di medan tempur. Sekitar 34 juta orang, atau setara dengan dua pertiga populasi Sudan, kini sangat bergantung pada bantuan internasional untuk bertahan hidup. Ironisnya, ancaman kelaparan semakin nyata seiring datangnya musim paceklik. Ratusan ribu anak kini menderita gizi buruk akut, dan jutaan lainnya terputus dari akses pendidikan, kehilangan masa depan mereka di bawah dentuman senjata.

Kekejaman perang ini juga menyasar kelompok paling rentan. Laporan PBB menyebutkan bahwa perempuan dan anak perempuan di Sudan menghadapi ancaman kekerasan seksual yang sistemik dan brutal sebagai bagian dari dampak buruk perang yang berkepanjangan.

Baca Juga  Alarm Keamanan Global: IAEA Soroti Lonjakan Pesat Produksi Senjata Nuklir Korea Utara

Dunia yang Seolah Menutup Mata

Meskipun kebutuhan akan bantuan sangat mendesak, respons internasional justru terasa sangat lamban. Denise Brown, Koordinator Tetap PBB di Sudan, menyoroti ketimpangan pendanaan yang terjadi. Dari target dana sebesar US$ 2,9 miliar yang dibutuhkan untuk tahun ini, baru sekitar 16 persen yang terkumpul. Menurunnya kontribusi dari negara-negara anggota menjadi kendala utama dalam menyalurkan bantuan PBB kepada mereka yang paling membutuhkan.

“Dunia seolah gagal menghadapi ujian kemanusiaan di Sudan,” pungkas Fletcher. PBB mendesak agar kekerasan segera dihentikan, akses bagi pekerja kemanusiaan dibuka lebar, dan pendanaan segera dipenuhi guna mencegah jatuhnya lebih banyak korban jiwa dalam serangan drone maupun bencana kelaparan yang terus mengintai.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul