Ikuti Kami
kabarmalam.com

Dilema Sang Mediator: Menakar Langkah Berani Pakistan di Tengah Pusaran Konflik AS-Iran

Husnul | kabarmalam.com
Selasa, 14 Apr 2026 14:05 WIB
Dilema Sang Mediator: Menakar Langkah Berani Pakistan di Tengah Pusaran Konflik AS-Iran

Kabarmalam.com — Upaya Islamabad untuk memosisikan diri sebagai jembatan perdamaian dalam konflik global kembali menjadi sorotan. Meski perundingan tingkat tinggi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang digelar pada 11–12 April lalu di Islamabad belum membuahkan kesepakatan final, langkah proaktif Pakistan dalam memediasi kedua negara tersebut menuai apresiasi luas dari panggung internasional.

Apresiasi tidak hanya datang dari delegasi Teheran yang menyampaikan rasa terima kasihnya atas fasilitas perundingan tersebut. Mantan Presiden AS, Donald Trump, bahkan secara terbuka melayangkan pujian bagi Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, dan Marsekal Lapangan Asim Munir. Trump menyebut mereka sebagai sosok luar biasa yang berperan penting dalam mencegah eskalasi militer yang lebih besar di kawasan tersebut.

Kebuntuan dan Syarat Nuklir

Saat ini, meja negosiasi antara Teheran dan Washington memang masih menemui jalan buntu. Namun, harapan belum sepenuhnya pupus. Kabar yang beredar menyebutkan adanya peluang untuk menghidupkan kembali pembicaraan sebelum tenggat waktu gencatan senjata pada 22 April 2026 mendatang. Fokus utama AS tetap pada isu senjata nuklir.

Baca Juga  Trump Siapkan Regu Tembak dan Kursi Listrik: Babak Baru Eksekusi Mati Federal di Amerika Serikat

“Kami membutuhkan komitmen yang tidak bisa diganggu gugat bahwa mereka tidak akan mengejar kepemilikan senjata nuklir, termasuk menghentikan pembangunan fasilitas pendukungnya,” tegas Wakil Presiden AS, JD Vance, saat memimpin delegasi di Islamabad. Ketegasan ini menunjukkan betapa tingginya standar yang dipasang Washington dalam upaya normalisasi hubungan diplomatik tersebut.

Ironi di Perbatasan: Bayang-bayang Afganistan dan India

Di balik perannya sebagai juru damai internasional, Pakistan menghadapi tantangan kredibilitas akibat hubungan yang memanas dengan para tetangganya. Sejumlah pengamat menilai, untuk menjadi mediator yang disegani, Pakistan harus terlebih dahulu membereskan konflik di halaman rumahnya sendiri, terutama dengan Afganistan dan India.

Hubungan dengan rezim Taliban di Kabul terus memburuk sejak 2021, bahkan sempat memuncak pada konflik terbuka di tahun 2025 ketika Angkatan Udara Pakistan menargetkan apa yang mereka sebut sebagai sarang militan di wilayah Afganistan. Di sisi lain, rivalitas abadi dengan India juga belum mendingin pasca-eskalasi militer di Kashmir.

Baca Juga  Ketegangan di Teluk: UEA Kritik Keras Lemahnya Solidaritas Negara Arab Hadapi Agresi Iran

Farooq Sulehria, seorang pakar politik, memberikan catatan kritis. Menurutnya, ada kontradiksi ideologis ketika Pakistan mencoba menjadi pendamai global sementara hubungannya dengan negara tetangga justru diwarnai ketegangan. “Sangat ironis melihat Pakistan berperan sebagai mediator internasional, sementara di saat yang sama Cina justru harus turun tangan menjadi tuan rumah perundingan antara Kabul dan Islamabad untuk menghentikan permusuhan mereka,” ujar Sulehria.

Strategi Dua Wajah: Diplomasi dan Keamanan

Namun, perspektif berbeda disampaikan oleh Fatemeh Aman dari Atlantic Council. Menurutnya, apa yang dilakukan Pakistan bukanlah standar ganda, melainkan respons yang disesuaikan dengan jenis tekanan yang berbeda. Mediasi antara AS dan Iran dipandang sebagai manuver diplomasi berisiko rendah untuk meningkatkan relevansi Pakistan di mata dunia.

Baca Juga  Trump Tarik Mundur Utusan dari Pakistan: Diplomasi dengan Iran Masih Menemui Jalan Buntu

“Situasi di Afganistan adalah masalah keamanan mendesak yang melibatkan militansi dan stabilitas perbatasan secara langsung. Jadi, Islamabad sedang menjalankan dua pendekatan berbeda: memperluas pengaruh di luar negeri melalui diplomasi, sambil berusaha keras mengendalikan stabilitas di dalam negeri,” jelas Aman.

Tantangan Domestik dan Citra Global

Selain persoalan luar negeri, stabilitas internal Pakistan turut menjadi faktor penentu. Tekanan terhadap oposisi politik, seperti partai PTI yang dipimpin Imran Khan, serta operasi militer di Balochistan dan Khyber Pakhtunkhwa, dianggap bisa mereduksi citra Pakistan sebagai negara yang mengedepankan dialog.

Pakar politik Raza Rumi menekankan bahwa kebijakan luar negeri merupakan cerminan dari situasi politik domestik. Tanpa demokrasi yang berfungsi sehat dan rekonsiliasi internal, langkah Pakistan untuk diakui sebagai juru damai sejati akan terus menghadapi kendala struktural yang rumit. Kini, dunia menanti apakah Islamabad mampu menyelaraskan ambisi diplomatiknya dengan realitas keamanan yang ada di depan mata.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul