Ikuti Kami
kabarmalam.com

Amarah di Teheran: Lautan Massa di Pemakaman Ali Khamenei Serukan Aksi Balas Dendam Terhadap Trump

Husnul | kabarmalam.com
Minggu, 05 Jul 2026 22:03 WIB
Amarah di Teheran: Lautan Massa di Pemakaman Ali Khamenei Serukan Aksi Balas Dendam Terhadap Trump

Kabarmalam.com — Atmosfer duka yang menyelimuti Teheran kini berubah menjadi gelombang kemarahan yang membuncah. Ribuan pelayat yang membanjiri prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei pada Minggu (5/7/2026) tidak hanya datang untuk memberikan penghormatan terakhir, tetapi juga menyuarakan tuntutan balas dendam yang provokatif terhadap mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Lautan manusia berpakaian serba hitam tampak menyemut di sepanjang jalan protokol, membawa spanduk-spanduk berisi kecaman dan bendera yang berkibar di tengah isak tangis. Jumlah massa yang hadir dilaporkan melonjak drastis dibandingkan hari sebelumnya, menciptakan pemandangan yang mencekam sekaligus emosional di jantung ibu kota Iran tersebut.

Seruan Balas Dendam yang Menggema

Di tengah kerumunan yang memadati lokasi, narasi kebencian terhadap Donald Trump terdengar nyaring. Para pelayat secara terang-terangan menuntut nyawa pemimpin AS tersebut sebagai tebusan atas kepergian sang pemimpin tertinggi mereka. Salah seorang pelayat, Gholamreza Sabooni (29), seorang pekerja toko kelontong yang hadir dengan emosi meluap, menyatakan bahwa duka ini tidak akan selesai tanpa tindakan nyata.

Baca Juga  Siasat Licin Penyelundupan 325 Kg Sabu Thailand-Aceh: Peran Tekong Hingga Pengendali Darat Terbongkar

“Kami datang ke sini bukan sekadar untuk menangis, tapi untuk berteriak dan menuntut keadilan. Mereka telah merenggut imam kami, maka sudah sepatutnya kita membalas dengan membunuh pemimpin mereka, Trump,” tegas Sabooni dengan nada getir sebagaimana dikutip dari laporan lapangan.

Ketegangan yang Berakar dari Sejarah Kelam

Kemarahan kolektif ini bukanlah api yang baru tersulut. Sejak lama, otoritas keamanan Amerika Serikat telah memantau potensi ancaman dari Iran yang secara konsisten menargetkan Trump serta jajaran pejabat pemerintahannya. Benih dendam ini tertanam kuat sejak operasi militer AS pada tahun 2020 yang menewaskan Jenderal Qassem Soleimani, pemimpin Pasukan Quds Garda Revolusi yang sangat dihormati.

Kini, dengan kepergian Khamenei, sentimen anti-Barat di kalangan warga sipil semakin mengental. Mohammad Reza Sharifi, pelayat lainnya, mengkritik apa yang ia anggap sebagai kelemahan dalam jalur diplomasi negara. Menurutnya, Iran harus mengambil posisi yang jauh lebih agresif di panggung dunia.

Baca Juga  Bara Api di Timur Tengah: Diplomasi Buntu, AS dan Iran Terjebak dalam Siklus Serangan Balik

“Kebijakan luar negeri kita seharusnya tidak dibentuk sedemikian rupa sehingga darah pemimpin kita yang gugur dinodai begitu saja. Negara-negara lain tidak boleh merasa mampu melakukan hal seperti itu tanpa adanya respons militer dan diplomatik yang menghancurkan dari pihak kita,” ungkap Sharifi dengan penuh keyakinan.

Absennya Delegasi Barat di Tengah Konflik

Di tengah eskalasi retorika yang kian memanas, ketidakhadiran perwakilan dari negara-negara Barat semakin mempertegas jurang pemisah antara Teheran dan dunia internasional. Dilaporkan bahwa Amerika Serikat beserta sekutu-sekutunya tidak mengirimkan delegasi resmi ke upacara pemakaman tersebut. Langkah ini seolah menambah bara dalam hubungan bilateral yang memang sudah berada di titik nadir, memicu kekhawatiran akan pecahnya konflik regional baru yang lebih besar di masa depan.

Baca Juga  Diplomasi Damai vs Retorika Politik: Jawaban Berkelas Paus Leo XIV Atas Serangan Donald Trump
Tentang Penulis
Husnul
Husnul