Lika-liku Keiko Fujimori: Putri Sang Diktator yang Kini Jadi Orang Nomor Satu di Peru
Minggu, 05 Jul 2026 18:34 WIB
Kabarmalam.com — Lembaran baru dalam sejarah politik Peru akhirnya terbuka dengan ditetapkannya Keiko Fujimori sebagai presiden terpilih. Langkah ini menandai babak krusial bagi negara yang dalam satu dekade terakhir terus dirundung ketidakstabilan pemerintahan. Keiko, yang kini berusia 51 tahun, bukan sekadar politisi biasa; ia adalah pewaris dinasti yang paling dicintai sekaligus dibenci di negeri berjuluk ‘Tanah Inka’ tersebut.
Bayang-bayang Alberto Fujimori dan Warisan ‘Tangan Besi’
Lahir sebagai putri dari mendiang Alberto Fujimori, Keiko mewarisi nama besar yang penuh kontradiksi. Ayahnya dikenal sebagai pemimpin yang memerintah Peru dengan tangan besi sepanjang dekade 1990-an. Di satu sisi, Alberto dipuja karena keberhasilannya menumpas pemberontak Maois dan menjinakkan hiperinflasi yang sempat melumpuhkan ekonomi negara. Namun di sisi lain, reputasinya hancur akibat skandal suap masif yang melibatkan kepala intelijennya, hingga ia harus melarikan diri ke Jepang.
Sebagai bagian dari dinasti politik Fujimori, Keiko telah merasakan pahit manisnya kekuasaan sejak usia sangat muda. Di umur 19 tahun, ia sudah memikul beban sebagai First Lady atau Ibu Negara Peru pada 1994, menggantikan ibunya, Susana Higuchi, yang berpisah dengan sang ayah setelah secara terbuka mengkritik korupsi di lingkungan pemerintahan suaminya sendiri.
Ketangguhan di Tengah Badai Hukum dan Kekalahan Beruntun
Perjalanan Keiko menuju kursi kepresidenan tidaklah mulus. Ia sempat merasakan dinginnya jeruji besi selama hampir satu setengah tahun antara 2018 hingga 2020 akibat penyelidikan terkait pendanaan kampanye. Meskipun penyelidikan tersebut akhirnya dibatalkan tahun lalu, stigma hukum sempat melekat erat pada dirinya.
Tak hanya itu, Keiko sering dijuluki sebagai ‘peserta abadi’ dalam Pilpres Peru. Ia sempat melaju ke putaran final pada 2011, namun kalah. Kegagalan serupa terulang kembali pada tahun 2016 dan 2021. Namun, pepatah yang mengatakan bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil tampaknya berlaku baginya di tahun 2026 ini.
Kemenangan Tipis yang Menentukan
Berdasarkan data dari Kantor Proses Pemilu Nasional Peru, partai yang dipimpin Keiko, Kekuatan Populer (Fuerza Popular), berhasil unggul tipis atas kandidat sayap kiri Roberto Sánchez. Selisih suaranya sangat dramatis, hanya terpaut 49.641 suara dari total sekitar 18 juta pemilih yang berpartisipasi. Keiko mengantongi 50,13% suara sah, mengungguli Sánchez yang meraih 49,86%.
Keiko dijadwalkan akan dilantik pada 28 Juli mendatang untuk masa jabatan lima tahun ke depan. Ia akan didampingi oleh Luis Fernando Galarreta sebagai Wakil Presiden pertama dan Miguel Ángel Torres Morales sebagai Wakil Presiden kedua. Penobatan ini secara resmi menjadikannya presiden kesembilan Peru hanya dalam kurun waktu 10 tahun.
Tantangan Berat Menyatukan Bangsa yang Terbelah
Menjadi presiden di Peru saat ini seperti memegang ‘bola api’. Keiko harus menghadapi realitas negara yang sangat terpolarisasi. Skandal korupsi masa lalu dan ketimpangan ekonomi yang lebar antara ibu kota Lima dengan daerah pedesaan menjadi tantangan nyata.
Apalagi, basis pendukung lawannya, Roberto Sánchez, sangat kuat di wilayah pedalaman yang sering menjadi pusat protes massa. Dengan Kongres yang cenderung fragmentaris dan memiliki sejarah sering menggulingkan presiden, Keiko dituntut untuk memiliki kemampuan diplomasi tingkat tinggi guna menjaga stabilitas nasional dan meredam gejolak sosial yang sempat menewaskan puluhan orang pada periode pemerintahan sebelumnya.