Antara Nyawa dan Isi Piring: Nelayan Pandeglang Tetap Melaut Meski Status Gunung Anak Krakatau Siaga III
Minggu, 05 Jul 2026 17:03 WIB
Kabarmalam.com — Gemuruh dari arah Selat Sunda tidak lantas memadamkan nyali para pelaut di pesisir Banten. Meski status Gunung Anak Krakatau (GAK) kini telah ditingkatkan menjadi Level III atau Siaga, denyut nadi kehidupan di dermaga Kabupaten Pandeglang tampak tak banyak berubah. Para nelayan tetap memilih memacu kapal mereka menuju perairan terbuka demi menyambung hidup keluarga.
Pemandangan ini menjadi potret keteguhan sekaligus ironi di tengah ancaman alam. Wakil Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Ranting Labuan, Jumami, mengungkapkan bahwa hingga saat ini, aktivitas melaut tetap berjalan normal. Menurutnya, belum ada kendala berarti yang menghalangi para nelayan untuk mencari ikan di perairan yang dekat dengan gunung berapi aktif tersebut.
Suara dari Dermaga: Melaut Adalah Keharusan
“Nelayan mah biasa saja, tetap beraktivitas seperti hari-hari sebelumnya. Sejauh ini belum ada kendala teknis di lapangan,” ujar Jumami saat memberikan keterangan pada Minggu (5/7/2026). Ia menegaskan bahwa meski status Siaga III telah ditetapkan, belum ada surat edaran resmi yang melarang total aktivitas penangkapan ikan di kawasan tersebut.
Meski demikian, HNSI tetap proaktif memberikan edukasi kepada para anggotanya. Kewaspadaan menjadi kunci utama bagi setiap orang yang menggantungkan hidup di laut. “Kami terus mengimbau agar mereka tetap berhati-hati. Waspada itu wajib karena sudah ada imbauan dari pihak berwenang, tapi tuntutan ekonomi membuat mereka tetap melaut,” tambahnya dengan nada getir.
Dilema Ekonomi di Tengah Ancaman Erupsi
Pertanyaan retoris terlontar dari Jumami saat ditanya mengenai alasan tetap melaut di tengah bahaya. Bagi para nelayan di Pandeglang, berhenti melaut berarti berhenti mengepulkan asap dapur. “Kalau dilarang melaut, lalu siapa yang akan menjamin kebutuhan hidup keluarga nelayan? Inilah realita pahit yang kami hadapi di lapangan,” ucapnya.
Rasa khawatir bukannya tidak ada. Bayang-bayang sejarah erupsi Anak Krakatau tetap menghantui setiap kali mata memandang ke ufuk laut. Namun, bagi masyarakat pesisir, dinamika alam ini sudah menjadi bagian dari siklus hidup. Mereka telah berteman dengan risiko dan belajar dari pengalaman erupsi-erupsi sebelumnya yang sudah berkali-kali terjadi dalam beberapa dekade terakhir.
Masa Paceklik yang Lebih Menakutkan
Menariknya, tantangan terbesar bagi nelayan saat ini bukanlah sekadar status gunung, melainkan fenomena paceklik yang sedang melanda. Jumami memaparkan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, hasil tangkapan ikan justru mengalami penurunan signifikan, berkisar antara 5 hingga 10 persen. Penurunan pendapatan ini dirasa lebih mencekik dibandingkan kekhawatiran terhadap aktivitas vulkanik di tengah laut.
Imbauan BPBD Pandeglang: Tetap Tenang dan Berpatokan pada Data
Di sisi lain, Kepala Pelaksana BPBD-PK Pandeglang, Riza Ahmad Kurniawan, meminta warga pesisir untuk tidak menelan mentah-mentah informasi yang beredar di media sosial yang belum tentu kebenarannya. Ia menekankan pentingnya merujuk pada data resmi yang dikeluarkan oleh BPBD, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), serta Kementerian ESDM.
“Masyarakat di wilayah pesisir kami minta untuk tetap tenang dan tidak terpancing provokasi. Jangan mudah percaya dengan isu liar yang menyebut erupsi Gunung Anak Krakatau akan memicu tsunami seketika. Silakan beraktivitas seperti biasa, namun tetap pasang mata dan telinga terhadap informasi resmi dari otoritas terkait,” tegas Riza. Pihaknya memastikan akan terus memantau perkembangan aktivitas gunung tersebut guna menjamin keselamatan warga di zona rawan.