Ikuti Kami
kabarmalam.com

Menkes Ingatkan Bahaya ‘Garam Tersembunyi’ di Kecap Manis, Ancaman Hipertensi bagi Tim Soto dan Penyetan

Wahid | kabarmalam.com
Selasa, 23 Jun 2026 08:34 WIB
Menkes Ingatkan Bahaya 'Garam Tersembunyi' di Kecap Manis, Ancaman Hipertensi bagi Tim Soto dan Penyetan

Kabarmalam.com — Bagi banyak masyarakat Indonesia, menyantap semangkuk soto hangat, bakso, atau ayam penyet rasanya belum lengkap tanpa kucuran kecap manis yang melimpah. Perpaduan rasa manis dan gurihnya memang selalu berhasil menggugah selera. Namun, di balik kelezatan yang memanjakan lidah tersebut, tersimpan risiko kesehatan yang sering kali luput dari radar konsumen, yakni kandungan natrium atau garam yang sangat tinggi.

Kecap manis selama ini lebih identik dengan kandungan gula. Padahal, bumbu penyedap berwarna hitam kental ini membawa ‘garam tersembunyi’ yang bisa memicu lonjakan tekanan darah jika dikonsumsi secara berlebihan. Hal inilah yang menjadi perhatian serius Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin.

Satu Sendok Kecap, Ratusan Miligram Natrium

Melalui sebuah edukasi yang dibagikan lewat akun Instagram pribadinya, Menkes Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai kandungan nutrisi dalam kecap manis. Ia menekankan bahwa masyarakat perlu lebih waspada terhadap asupan natrium, bukan sekadar memperhatikan kadar gula saat mengonsumsi kecap.

Baca Juga  Sering Dikira Masuk Angin Biasa, Waspada Gejala Serangan Jantung yang Bisa Berakibat Fatal

“Teman-teman yang kalau makan soto atau penyetan selalu dikecapin, yang perlu hati-hati itu bukan gulanya. Saya tidak menyangka kalau kecap manis ini sangat tinggi natriumnya. Satu sendok makan kecap manis itu mengandung sekitar 350 sampai 500 miligram natrium,” ujar Menkes seperti dikutip oleh Kabarmalam.com.

Angka ini tergolong fantastis jika dibandingkan dengan batasan konsumsi harian yang disarankan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sebagai informasi, WHO merekomendasikan batas asupan natrium maksimal hanya 2.000 miligram per hari, atau setara dengan satu sendok teh garam dapur.

Risiko Penyakit Kardiovaskular Mengintai

Mari kita berhitung secara logis. Jika seseorang memiliki kebiasaan menuangkan hingga empat sendok makan kecap manis ke dalam makanannya, maka dalam satu kali makan saja, ia telah mengonsumsi sekitar 1.400 hingga 2.000 miligram natrium. Jumlah ini hampir atau bahkan sudah melampaui batas aman harian, belum termasuk natrium dari garam di masakan itu sendiri atau camilan lain yang dikonsumsi sepanjang hari.

Baca Juga  MGBKI Soroti Kematian Myta Aprilia Azmy, Tegaskan Dokter Internship Bukan Buruh Murah

Menkes juga mengingatkan para pencinta kuliner khas daerah yang menggunakan banyak kecap, seperti gudeg atau bacem. Kandungan natrium yang menumpuk secara perlahan namun pasti akan meningkatkan risiko hipertensi.

“Kalau satu sendok makan berisi 350 sampai 500 mg natrium, empat sendok makan saja sudah mendekati bahkan bisa melewati batas harian. Natrium yang tinggi ini pelan-pelan bisa membuat tekanan darah meningkat,” tambahnya memperingatkan.

Secara medis, pola makan tinggi natrium yang tidak terkontrol merupakan faktor risiko utama terjadinya penyakit jantung dan gangguan kardiovaskular lainnya. Tekanan darah tinggi memaksa jantung bekerja lebih keras, yang dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah di seluruh tubuh.

Baca Juga  Terjebak Lingkaran Overwork: Kisah Pekerja yang Kehabisan Energi dan Terancam Kesehatan Mentalnya

Membangun Kebiasaan Makan yang Lebih Sehat

Meskipun kecap manis sudah menjadi bagian dari budaya kuliner, Kabarmalam.com mengimbau agar masyarakat mulai lebih bijak dalam penggunaannya. Transisi menuju gaya hidup sehat tidak harus berarti menghentikan konsumsi secara total, melainkan dengan cara membatasi porsi dan lebih sadar akan apa yang masuk ke dalam tubuh.

Pesan dari Menkes ini menjadi pengingat penting bahwa ancaman kesehatan sering kali tidak datang dari hal-hal besar yang terlihat mata, melainkan dari tambahan-tambahan kecil di piring makan kita setiap hari. Mari mulai menjaga kesehatan jantung kita dengan lebih cermat memerhatikan label kemasan dan mengontrol penggunaan bumbu tambahan mulai sekarang.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid