Ikuti Kami
kabarmalam.com

Komitmen Menkes Budi Gunadi Sadikin: Pulihkan Trauma dan Wajah Korban Penyekapan Bandung Lewat Operasi Rekonstruksi

Wahid | kabarmalam.com
Selasa, 23 Jun 2026 17:34 WIB
Komitmen Menkes Budi Gunadi Sadikin: Pulihkan Trauma dan Wajah Korban Penyekapan Bandung Lewat Operasi Rekonstruksi

Kabarmalam.com — Tragedi kemanusiaan yang menimpa YTR (29), seorang wanita di Bandung yang menjadi korban penyekapan serta penganiayaan brutal selama tiga tahun, memicu respons mendalam dari pemerintah pusat. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin secara khusus memberikan atensi besar terhadap proses pemulihan kesehatan korban yang saat ini tengah berjuang melewati masa-masa kritisnya.

Menkes Budi mengonfirmasi bahwa YTR kini berada dalam penanganan intensif di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Seluruh rangkaian prosedur medis, mulai dari perawatan fisik hingga tindakan lanjut, akan dikawal langsung oleh Kementerian Kesehatan guna memastikan korban mendapatkan layanan terbaik tanpa terkendala apa pun.

“Untuk korban kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di Bandung, dari sisi kesehatan, yang bersangkutan saat ini sudah dirawat di rumah sakit milik Kementerian Kesehatan, yaitu RSHS Bandung,” ujar Budi Gunadi saat memberikan keterangan kepada awak media di Sespolwan Lemdiklat Polri, Jakarta Selatan.

Baca Juga  Menkes Budi Gunadi Pasang Badan: Iuran BPJS Kesehatan Tak Akan Naik Meski Dihantui Defisit Rp 2 Triliun

Prioritas Operasi Rekonstruksi Wajah

Luka yang diderita YTR bukan sekadar luka fisik biasa. Mengingat kekejaman yang dialaminya selama bertahun-tahun, struktur wajah korban dilaporkan mengalami kerusakan yang cukup signifikan. Menanggapi hal tersebut, Menkes menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya akan mengobati luka luar, melainkan juga melakukan tindakan rekonstruksi wajah secara menyeluruh.

“Kami akan merawatnya hingga tahap rekonstruksi. Ini menjadi krusial karena kondisi wajah korban memang memerlukan tindakan bedah rekonstruktif agar fungsinya bisa kembali normal,” ungkap Menkes dengan nada prihatin.

Langkah ini diambil mengingat dampak penganiayaan yang menyebabkan bibir korban sobek hingga terjadi penurunan fungsi penglihatan. Penanganan medis ini diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan diri serta fungsi organ tubuh korban yang sempat rusak akibat tindakan keji kekasihnya tersebut.

Baca Juga  Buntut Viral Insiden Bayi Nyaris Tertukar di RSHS Bandung, Manajemen Ambil Langkah Tegas Nonaktifkan Perawat

Kolaborasi Lintas Sektoral untuk Pemulihan Total

Menkes Budi juga menjelaskan bahwa penanganan kasus ini melibatkan sinergi antarlembaga. Pemulihan YTR tidak hanya dilihat dari kacamata medis, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan ekonomi. Koordinasi ketat dilakukan bersama Pemerintah Daerah Jawa Barat serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA).

“Masalah ekonomi ditangani oleh pemerintah daerah, sementara aspek sosial dan perlindungannya dikelola oleh Kementerian PPA. Kami bertiga sudah berkoordinasi secara intensif,” tutur Budi. Ia juga menambahkan rasa sedih yang mendalam atas peristiwa ini dan berjanji akan memberikan upaya maksimal dalam proses penyembuhan kesehatan mental dan fisik korban.

Kondisi Terkini: Fokus pada Stabilisasi Fisik

Berdasarkan informasi terbaru, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jawa Barat, Siska Gerfianti, mengungkapkan bahwa kondisi YTR mulai menunjukkan kemajuan. Meski sudah mulai bisa berkomunikasi, korban masih membutuhkan waktu istirahat yang cukup panjang sebelum memasuki meja operasi.

Baca Juga  Kebakaran Apartemen Mediterania Jakarta Barat: Mengenal Bahaya Smoke Inhalation di Balik Kepulan Asap

“Korban sudah bisa berkomunikasi, meski belum banyak. Fokus utama saat ini adalah memulihkan kondisi fisik dan psikisnya terlebih dahulu,” jelas Siska. Terkait rencana bedah plastik rekonstruktif, ia menyebutkan bahwa teknologi kedokteran saat ini sangat mumpuni untuk memperbaiki kerusakan struktur wajah tersebut.

Namun, Siska mengingatkan bahwa proses ini tidak bisa dilakukan secara instan. “Mungkin perlu beberapa tahapan operasi dan waktu yang tidak sebentar. Begitu kondisi fisiknya sudah siap dan stabil, tim dokter baru akan melaksanakan tindakan rekonstruksi tersebut,” pungkasnya.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid