Ikuti Kami
kabarmalam.com

Ancaman ‘Mother of Disease’: Alasan Banyak Orang Terlambat Menyadari Diabetes Hingga Masuk Tahap Kritis

Wahid | kabarmalam.com
Selasa, 23 Jun 2026 16:36 WIB
Ancaman 'Mother of Disease': Alasan Banyak Orang Terlambat Menyadari Diabetes Hingga Masuk Tahap Kritis

Kabarmalam.com — Istilah ‘Mother of Disease’ atau induk dari segala penyakit bukanlah sekadar julukan menakutkan tanpa alasan. Diabetes melitus kini menjadi ancaman nyata yang bergerak dalam bayang-bayang, sering kali baru menampakkan wujudnya saat organ tubuh sudah mengalami kerusakan permanen. Di Indonesia, data dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: satu dari sepuluh warga berusia di atas 40 tahun kini harus berjuang melawan kondisi ini.

Mengapa disebut induk penyakit? Jawabannya terletak pada cara kerja kadar gula darah yang tinggi. Secara perlahan namun pasti, glukosa yang berlebih merusak pembuluh darah dan jaringan saraf di seluruh tubuh. Inilah yang memicu rentetan komplikasi mematikan, mulai dari serangan jantung, stroke, gagal ginjal, hingga kebutaan dan risiko amputasi anggota gerak. Fenomena ini tidak hanya menyerang lansia, namun mulai merambah ke usia produktif dengan kecepatan yang mencemaskan.

Alarm Bahaya dari Negara Tetangga

Kondisi serupa juga menjadi sorotan tajam di Malaysia. Dalam agenda Diabetes Conference 2026 yang digelar di Kuala Lumpur baru-baru ini, terungkap bahwa ledakan kasus gula darah tinggi telah mengancam produktivitas kerja dan ketahanan ekonomi jangka panjang. Berdasarkan National Health and Morbidity Survey (NHMS), sekitar 15,6 persen orang dewasa di Malaysia hidup dengan diabetes, namun yang lebih mengerikan adalah 5,9 persen lainnya tidak sadar bahwa kadar glukosa mereka sudah di ambang batas berbahaya.

Baca Juga  Strategi Menyiapkan Bekal Sekolah Praktis: Rahasia Nutrisi Terjaga dan Tetap Segar Sepanjang Hari

Banyak dari mereka merasa tubuhnya sehat-sehat saja, padahal fakta klinis menunjukkan bahwa lebih dari separuh populasi dewasa di sana mengalami obesitas atau kelebihan berat badan. Hal ini membuktikan bahwa perasaan ‘baik-baik saja’ sering kali menjadi jebakan batman yang menunda deteksi dini.

Salah Kaprah Mengenai Vonis Dokter

Murad Zaidi, seorang pakar transformasi fisik dan pendiri Badcave Training Facility, memberikan perspektif yang membuka mata. Ia menekankan bahwa banyak orang keliru dalam memahami garis waktu penyakit ini. “Orang berpikir diabetes dimulai ketika vonis dokter ditegakkan. Padahal tidak. Diagnosis itu sering kali hanyalah momen ketika masalah tersebut akhirnya terdeteksi setelah sekian lama menggerogoti tubuh,” tegas Murad.

Menurutnya, diabetes adalah titik puncak dari disfungsi metabolisme jangka panjang yang berjalan secara senyap. Saat seorang pasien akhirnya datang ke klinik dengan keluhan, biasanya tubuh mereka sudah lama menderita resistensi insulin, kelelahan kronis, hingga penumpukan lemak perut yang memicu peradangan sistemik.

Baca Juga  Kisah Inspiratif Dr. Gia Pratama: Melawan Obesitas 100 Kg Setelah 'Ditegur' Maut di Ruang IGD

Target Utama: Pekerja Kantoran dan Profesional Urban

Tim Kabarmalam.com mencatat bahwa kelompok profesional yang bekerja di kota-kota besar merupakan sasaran empuk bagi penyakit diabetes. Gaya hidup yang serba cepat namun minim gerak (sedentary lifestyle), ditambah dengan tekanan stres tinggi dan kurang tidur, menciptakan lingkungan yang sempurna bagi rusaknya metabolisme.

Murad mengingatkan bahwa fluktuasi gula darah yang tidak stabil secara klinis langsung menghancurkan performa kerja seseorang. “Jika gula darah Anda tidak stabil, tidur Anda buruk, energi Anda tidak konsisten, dan komposisi tubuh Anda memburuk, maka hal itu memengaruhi cara Anda berpikir (brain fog), cara Anda memimpin, hingga kualitas kehadiran Anda di tengah keluarga,” jelasnya.

Waspadai Gejala ‘Sederhana’ Berikut Ini:

  • Penumpukan Lemak Perut: Penambahan berat badan yang berfokus pada area pinggang dan perut (obesitas sentral).
  • Food Coma: Rasa kantuk atau lemas yang luar biasa sesaat setelah mengonsumsi makanan berat.
  • Brain Fog: Kesulitan berkonsentrasi, mendadak lupa, atau pikiran terasa ‘berkabut’.
  • Sugar Craving: Keinginan kuat yang terus-menerus untuk mengonsumsi makanan manis atau karbohidrat tinggi.
  • Pemulihan Lambat: Tubuh memerlukan waktu sangat lama untuk pulih setelah beraktivitas fisik atau kelelahan.
Baca Juga  Waspada! Deretan Makanan Berlabel Sehat yang Diam-Diam Memicu Lonjakan Gula Darah

Langkah Nyata Memperbaiki Metabolisme

Mengatasi ancaman ini tidak bisa dilakukan secara instan atau hanya bergantung pada suplemen mahal. Dibutuhkan pendekatan kesehatan metabolisme yang menyeluruh. Perbaikan harus dimulai dari manajemen stres yang baik, pengaturan pola tidur, hingga komitmen untuk bergerak aktif setiap hari.

Pemerintah mungkin menyediakan program kesehatan, namun tanggung jawab utama ada pada diri sendiri. Seperti yang ditegaskan oleh Murad, tidak ada dokter atau pelatih manapun yang bisa menyelamatkan seseorang jika gaya hidup harian mereka terus merusak tubuh. Kesadaran untuk melakukan deteksi dini melalui pemeriksaan laboratorium rutin menjadi kunci utama agar kita tidak menjadi bagian dari statistik ‘Mother of Disease’ di masa depan.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid