Ikuti Kami
kabarmalam.com

Kisah Inspiratif Dr. Gia Pratama: Melawan Obesitas 100 Kg Setelah ‘Ditegur’ Maut di Ruang IGD

Wahid | kabarmalam.com
Kamis, 07 Mei 2026 14:35 WIB
Kisah Inspiratif Dr. Gia Pratama: Melawan Obesitas 100 Kg Setelah 'Ditegur' Maut di Ruang IGD

Kabarmalam.com — Siapa sangka, dr. Gia Pratama, sosok influencer kesehatan yang kini dikenal bugar dan energetik, ternyata pernah berjibaku dengan masalah berat badan yang serius. Ia mengungkapkan sebuah fakta mengejutkan bahwa dirinya sempat menyentuh angka 100 kilogram, sebuah kondisi yang menempatkannya pada risiko tinggi penyakit tidak menular, terutama gangguan jantung.

Titik Balik di Ruang Instalasi Gawat Darurat

Pengalaman transformatif dr. Gia tidak datang dari sekadar keinginan untuk tampil menarik, melainkan dari sebuah peristiwa dramatis di tempat kerjanya. Saat bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD), ia menangani seorang pasien yang mengalami serangan jantung tepat di hadapannya. Ironisnya, pasien tersebut memiliki usia dan tanggal lahir yang sama persis dengan dirinya.

“Yang memicu saya harus menurunkan berat badan adalah ketika di IGD menerima pasien serangan jantung di depan muka saya. Umurnya sama, ulang tahunnya sama. Alhamdulillah, saya berhasil menyelamatkan pasien tersebut dengan alat pacu jantung,” kenang dr. Gia dalam sebuah acara bincang-bincang di Kemenkes RI baru-baru ini.

Baca Juga  Mitos 'Tulang Besar' dan Kaitannya dengan Berat Badan: Penjelasan Medis yang Perlu Anda Tahu

Kejadian tersebut menjadi tamparan keras bagi nuraninya. Ia mulai merenungkan nasibnya sendiri jika berada di posisi sang pasien. Ketakutan akan risiko obesitas yang mengintai nyawanya membuat dr. Gia segera mengambil keputusan besar: berkomitmen penuh untuk menjalani diet selama enam bulan demi kesehatan jangka panjang.

Mengenal Musuh Tak Kasat Mata: Kalori Kosong

Menurut dr. Gia, banyak orang tidak menyadari betapa mudahnya berat badan melonjak karena kebiasaan makan yang tidak terkontrol. Seringkali, seseorang merasa hanya makan sedikit, namun jenis makanan yang dikonsumsi memiliki densitas energi yang sangat tinggi tanpa nilai nutrisi yang memadai.

“Seringkali kita tidak sadar diri. Merasa hanya ambil satu gorengan, eh tiba-tiba sudah habis lima,” tuturnya. Fenomena ini sering menjadi penghambat utama bagi mereka yang sedang berupaya melakukan gaya hidup sehat.

Baca Juga  Rahasia Kebugaran Donald Trump: Alergi Olahraga Berat tapi Tetap Energik di Usia Senja

Strategi Diet: Puasa Kalori, Bukan Puasa Nutrisi

Berbeda dengan tren diet ketat yang instan, dr. Gia lebih memilih pendekatan yang logis dan berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya konsistensi dan kesadaran akan apa yang masuk ke dalam tubuh. Prinsip utamanya bukan memangkas nutrisi, melainkan menciptakan defisit kalori.

“Saya yakin bahwa saya menjadi gemuk tidak dalam sehari, maka untuk menjadi langsing pun tidak bisa dalam semalam. Semua butuh proses,” tegasnya. Ia menghindari makanan yang disebutnya sebagai ‘sampah nutrisi’—makanan tinggi kalori namun minim vitamin dan mineral.

Beberapa jenis makanan yang mulai ia batasi secara ketat adalah gorengan dan seblak. Menurutnya, jenis makanan tersebut seringkali hanya menawarkan kalori tinggi tanpa memberikan manfaat bagi sel-sel tubuh. Fokus utama dalam perjalanannya adalah melakukan penurunan berat badan melalui pemilihan makanan yang kaya nutrisi namun tetap menjaga ambang batas kalori harian.

Baca Juga  Mengenal Food Noise: Ketika Pikiran Tetap 'Lapar' Meski Perut Sudah Kenyang

Pesan untuk Masyarakat

Melalui kisahnya, dr. Gia ingin mengingatkan masyarakat bahwa ancaman penyakit jantung dan komplikasi akibat kelebihan berat badan bisa menyerang siapa saja, bahkan seorang tenaga medis sekalipun. Konsistensi dalam menjalani diet sehat dan kesadaran diri adalah kunci utama untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik di masa depan.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid