Ikuti Kami
kabarmalam.com

Terjebak Lingkaran Overwork: Kisah Pekerja yang Kehabisan Energi dan Terancam Kesehatan Mentalnya

Wahid | kabarmalam.com
Kamis, 07 Mei 2026 08:34 WIB
Terjebak Lingkaran Overwork: Kisah Pekerja yang Kehabisan Energi dan Terancam Kesehatan Mentalnya

Kabarmalam.com — Fenomena kelelahan ekstrem akibat beban kerja yang berlebihan atau overwork kini bukan lagi sekadar isu sampingan di dunia profesional. Bagi sebagian orang, bekerja bukan lagi sekadar rutinitas mencari nafkah, melainkan sebuah siklus yang menguras habis energi fisik hingga kesehatan mental, meninggalkan rasa cemas yang tak kunjung usai.

Jeritan Hati Pekerja di Balik Layar Monitor

Baru-baru ini, sebuah curhatan emosional di platform Reddit menjadi sorotan publik. Seorang pekerja membagikan pengalamannya terjebak dalam tuntutan pekerjaan yang dianggapnya tidak manusiawi. Ia merasa hidupnya seolah habis hanya untuk urusan kantor, tanpa menyisakan ruang untuk kehidupan pribadi maupun keluarga.

Dalam unggahan yang dikutip dari The Independent Singapore, netizen tersebut menceritakan bahwa meski ia bekerja untuk instansi pemerintahan dengan sistem kerja dari rumah (WFH) selama 5 hari seminggu, tekanan waktunya tetap terasa mencekik. Jadwal resminya memang pukul 08.30 hingga 18.00, namun realitanya ia sudah mulai sibuk sejak pukul 07.00 pagi dan baru benar-benar lepas dari pekerjaan pada pukul 19.00 malam.

“Ketika sampai di rumah, saya merasa benar-benar hancur. Kehabisan energi dan hampir tidak bisa melakukan apa pun, apalagi bersikap positif di depan keluarga. Apakah ini gila? Apakah saya harus menjalani hidup seperti ini selamanya?” tulisnya dengan nada putus asa.

Dilema Antara Karier dan Kebebasan Pribadi

Kondisi ini ternyata berdampak fatal pada kondisi psikisnya. Padahal, ia mengaku baru saja memulai pekerjaan tersebut. Namun, hanya dalam waktu dua bulan, ia terpaksa mengambil cuti sakit karena serangan kecemasan berlebihan yang melanda. Ia mulai mempertanyakan esensi dari mengejar karier jika harus mengorbankan kesejahteraan batin.

Baca Juga  9 Sinyal Bahaya Kamu Terjebak Kepribadian People Pleaser: Berhenti Menyenangkan Semua Orang!

“Apa gunanya mengejar semua ini jika saya bisa merasa bebas dengan mencari pekerjaan yang lebih ringan atau paruh waktu? Tentu, penghasilan mungkin berkurang, tapi saya mendapatkan kembali kebebasan saya. Saya merasa sudah cukup dengan semua tekanan ini,” ungkapnya jujur.

Pro dan Kontra: Realita Pahit Dunia Dewasa?

Unggahan tersebut memicu gelombang diskusi yang cukup masif. Banyak pengguna lain yang bersimpati dan mengakui bahwa mereka merasakan hal yang serupa—rasa lelah yang menyiksa secara mental dan membuat seseorang merasa terasing dari kehidupannya sendiri. Namun, tidak sedikit pula yang memandangnya sebagai bagian dari realita pahit dunia kerja orang dewasa.

Beberapa netizen memberikan saran yang lebih pragmatis. Mereka menyarankan untuk memberikan waktu adaptasi setidaknya selama enam bulan sebelum memutuskan untuk menyerah. Beberapa poin penting yang muncul dalam diskusi tersebut antara lain:

  • Pentingnya melakukan evaluasi apakah pekerjaan tersebut benar-benar sesuai dengan tujuan hidup.
  • Mengambil waktu istirahat sejenak untuk menjernihkan pikiran atau self-healing.
  • Mencari bantuan profesional jika lelah mental mulai mengganggu fungsi sehari-hari.
  • Membangun komunikasi dengan orang terdekat untuk berbagi beban emosional.
Baca Juga  Kursi Besi Minimarket: Ruang 'Healing' Sederhana di Balik Riuhnya Hiruk-Pikuk Kota

Menemukan Titik Keseimbangan

Fenomena ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kesehatan mental adalah aset yang paling berharga. Merasa kewalahan di tengah tuntutan dunia kerja yang kompetitif adalah hal yang manusiawi. Mencari keseimbangan antara profesionalisme dan kebahagiaan pribadi bukanlah sebuah kesalahan, melainkan bentuk pertahanan diri agar tidak hancur di tengah tekanan stres kerja yang berkepanjangan.

Pada akhirnya, pekerjaan hanyalah salah satu bagian dari hidup, bukan keseluruhan hidup itu sendiri. Mengetahui kapan harus melangkah maju dan kapan harus berhenti sejenak adalah kunci untuk bertahan dalam maraton kehidupan yang panjang.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid