Ikuti Kami
kabarmalam.com

MGBKI Soroti Kematian Myta Aprilia Azmy, Tegaskan Dokter Internship Bukan Buruh Murah

Wahid | kabarmalam.com
Minggu, 03 Mei 2026 19:34 WIB
MGBKI Soroti Kematian Myta Aprilia Azmy, Tegaskan Dokter Internship Bukan Buruh Murah

Kabarmalam.com — Kabar duka yang menyelimuti wafatnya Myta Aprilia Azmy, seorang dokter muda yang tengah menjalani masa pengabdian di Jambi, memicu gelombang kritik tajam terhadap tata kelola program internship di Indonesia. Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia (MGBKI) secara tegas menyuarakan kegelisahan mereka, memperingatkan bahwa program ini seharusnya menjadi kawah candradimuka pendidikan, bukan kedok untuk mengeksploitasi tenaga medis dengan biaya rendah.

Bukan Sekadar Tenaga Murah

Ketua MGBKI, Prof dr Budi Iman Santoso, SpOG(K), dalam pernyataan resminya menekankan bahwa ruh utama dari program dokter internship adalah pemantapan profesi. Ia menyayangkan jika praktik di lapangan justru bergeser menjadi mekanisme penyediaan tenaga kerja murah bagi fasilitas kesehatan.

Baca Juga  Keamanan Terjamin, AB Plastic Surgery Korea Resmi Kantongi Akreditasi Internasional KAHF

“Tugas internship untuk dokter muda itu harus dikembalikan sebagai proses pendidikan profesi, bukan mekanisme penyediaan tenaga murah,” tegas Prof Budi dalam konferensi pers yang digelar pada Minggu (3/5/2026). Ia menambahkan bahwa kualitas lulusan sangat bergantung pada standar input yang ketat, proses yang manusiawi, serta evaluasi yang dilakukan secara jujur dan transparan.

Alarm Kegagalan Tata Kelola

MGBKI melihat adanya celah besar dalam perlindungan terhadap peserta didik kedokteran. Menurut Prof Budi, jika aspek kemanusiaan dan standar pendidikan diabaikan, tragedi serupa Myta Aprilia Azmy berpotensi besar untuk terulang kembali di masa depan. Kementerian Kesehatan pun didesak untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem yang ada.

Baca Juga  Tragedi Kematian Dokter Internship: IDI Desak Reformasi Total Jam Kerja dan Standar Gaji Layak

Dalam pernyataan sikapnya, MGBKI menolak keras segala bentuk eksploitasi. Beberapa poin krusial yang disorot meliputi:

  • Beban kerja yang melampaui batas kemampuan fisik dan mental.
  • Jam kerja yang tidak manusiawi bagi para dokter muda.
  • Penugasan medis tanpa supervisi yang adekuat dari dokter senior.
  • Pembiaran atau pengabaian terhadap kondisi kesehatan peserta didik yang tengah sakit.

“Kondisi-kondisi tersebut adalah bentuk nyata dari kegagalan tata kelola yang tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun,” lanjutnya.

Rekomendasi Strategis bagi Wahana Pendidikan

Sebagai langkah konkret untuk mencegah jatuhnya korban berikutnya, MGBKI melayangkan lima poin rekomendasi kebijakan bagi setiap wahana pendidikan kedokteran di seluruh Indonesia. Salah satu poin yang paling ditekankan adalah urgensi penerapan early warning system atau sistem peringatan dini.

Baca Juga  Bukan Sekadar Trauma Biasa, Inilah Alasan Mengapa Otak Korban Pelecehan Mengalami Perubahan Permanen

Sistem ini diharapkan mampu memantau kondisi kesehatan peserta didik secara proaktif. Selain itu, MGBKI mewajibkan adanya dokter supervisor yang aktif, sistem eskalasi klinis 24 jam, serta penyediaan kanal pelaporan anonim yang menjamin perlindungan bagi pelapor. Dengan adanya proteksi ini, diharapkan para dokter internship tidak lagi merasa terintimidasi atau melakukan praktik di bawah tekanan yang membahayakan nyawa mereka sendiri.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid