Ikuti Kami
kabarmalam.com

Menkes Sentil Tren Dokter Indonesia: Berbondong-bondong Kejar Spesialis, Puskesmas Jadi Pilihan Kedua?

Wahid | kabarmalam.com
Selasa, 09 Jun 2026 09:34 WIB
Menkes Sentil Tren Dokter Indonesia: Berbondong-bondong Kejar Spesialis, Puskesmas Jadi Pilihan Kedua?

Kabarmalam.com — Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memberikan sorotan tajam terhadap sebuah anomali yang terjadi di dunia medis tanah air. Dalam pandangannya, Indonesia memiliki fenomena unik sekaligus mengkhawatirkan: hampir seluruh lulusan kedokteran memiliki obsesi besar untuk menjadi dokter spesialis, sementara pengabdian di lini terdepan seperti puskesmas kian ditinggalkan.

Kondisi ini, menurut Menkes, memicu ketimpangan kualitas sumber daya manusia di tingkat pelayanan dasar. Orientasi karier yang terlalu terpaku pada gelar spesialisasi membuat dokter-dokter terbaik enggan menetap di daerah atau melayani masyarakat melalui pusat kesehatan masyarakat. Fenomena ini disampaikan Menkes dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI pada Senin (8/6/2026) lalu.

Stigma ‘Kelas Dua’ bagi Dokter Puskesmas

Menkes Budi mengungkapkan keresahannya mengenai persepsi publik dan kalangan medis sendiri yang seolah menempatkan dokter di puskesmas pada posisi yang lebih rendah. Padahal, di banyak negara dengan sistem kesehatan yang mapan, dokter layanan kesehatan primer adalah tulang punggung utama yang menentukan derajat kesehatan bangsa.

Baca Juga  Mengenal Nutri Level: Revolusi Label Gizi pada Minuman Kemasan di Indonesia

“Ada fenomena unik di Indonesia. Semua ingin jadi spesialis, sehingga dokter-dokter hebat jarang yang mau bertahan di puskesmas,” ujar Menkes. Ia menekankan bahwa dokter di garis depan sebenarnya adalah pahlawan yang harus mampu mendiagnosis dan menyelesaikan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat sebelum kondisi tersebut memburuk dan memerlukan rujukan ke rumah sakit.

Kementerian Kesehatan kini berkomitmen untuk mengubah paradigma tersebut dengan memperkuat jenjang karier bagi dokter yang memilih jalur pelayanan kesehatan dasar. Tujuannya jelas: agar mereka tidak lagi merasa minder atau dianggap sebagai profesi ‘kelas dua’ dibandingkan rekan sejawat mereka yang bergelar spesialis.

Belajar dari Belanda dan Singapura

Dalam upayanya melakukan transformasi, pemerintah mulai melakukan benchmarking ke beberapa negara yang sukses mengelola sistem kesehatan mereka. Menkes menunjuk Belanda sebagai contoh sukses dalam mengembangkan model family doctor atau dokter keluarga selama dua dekade terakhir. Di sana, dokter primer memiliki peran krusial sebagai gerbang utama kesehatan warga.

Baca Juga  Menkes Budi Tegaskan BPJS Bukan Layanan Komersial: Kaya Maupun Miskin Berhak Atas Perawatan Setara

Selain Belanda, Menkes juga menceritakan diskusinya dengan Menteri Kesehatan Singapura. Ada sebuah sentilan menarik dari pertemuan tersebut. “Menteri Kesehatan Singapura pernah bercanda, biarlah dokter spesialis untuk orang Indonesia saja. Tapi di Singapura, mereka ingin semua masalah kesehatan selesai di level family doctor agar masyarakat tetap sehat tanpa harus ke rumah sakit,” ungkapnya.

Mengejar Ketertinggalan dan Reformasi SDM

Saat ini, kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan dokter berkualitas di puskesmas masih sangat lebar. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sekitar 99,2 persen puskesmas di Indonesia masih membutuhkan penguatan kompetensi tenaga medis di bidang layanan primer.

Pemerintah berencana mempercepat reformasi sistem kesehatan nasional dengan meningkatkan kualitas pendidikan dokter keluarga dan memberikan kepastian masa depan bagi mereka yang bertugas di daerah. Harapannya, transformasi ini dapat menutup celah besar dalam akses kesehatan masyarakat dan menciptakan sistem kesehatan yang lebih efisien dan merata di seluruh pelosok negeri.

Baca Juga  Fenomena Pemasangan Ring Jantung yang 'Belum Perlu', Ini Peringatan Keras Dirut BPJS Kesehatan
Tentang Penulis
Wahid
Wahid