Ikuti Kami
kabarmalam.com

Mengapa Perut Mulas Setelah Minum Susu UHT? Simak Penjelasan Mendalam Pakar IPB

Wahid | kabarmalam.com
Senin, 01 Jun 2026 08:34 WIB
Mengapa Perut Mulas Setelah Minum Susu UHT? Simak Penjelasan Mendalam Pakar IPB

Kabarmalam.com — Pernahkah Anda merasakan sensasi melilit atau mulas yang tidak tertahankan sesaat setelah menenggak segelas susu UHT? Bagi sebagian besar orang, reaksi spontan yang muncul biasanya adalah menaruh curiga pada higienitas produk atau menduga adanya kontaminasi bakteri dari lini produksi pabrik. Namun, benarkah asumsi tersebut?

Menanggapi fenomena yang sering dikeluhkan masyarakat ini, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Dr. Epi Taufik, S.Pt, MVPH., M.Si, memberikan sudut pandang yang mencerahkan. Menurutnya, keluhan sakit perut pasca-konsumsi susu UHT tidak bisa dipukul rata sebagai kesalahan produsen. Dalam sebuah diskusi hangat di kawasan Bintaro, ia menekankan pentingnya menelusuri akar masalah secara kasuistik.

Bukan Selalu Salah Pabrik, Perhatikan Cara Simpan

Profesor Epi menjelaskan bahwa proses pengolahan Ultra High Temperature (UHT) dirancang sedemikian rupa untuk membunuh mikroorganisme berbahaya. Oleh karena itu, penyebab gangguan pencernaan sering kali bukan berasal dari proses sterilisasi di pabrik, melainkan perilaku konsumen dalam menyimpan produk setelah kemasan dibuka.

Baca Juga  Perjuangan Astronaut Artemis II Christina Koch Kembali Belajar Berjalan Usai 10 Hari Menembus Ruang Angkasa

“Kita harus selidiki lebih jauh. Apakah susu yang diminum itu sebenarnya sudah mulai rusak karena terlalu lama dibiarkan terbuka di suhu ruang atau salah penyimpanan?” tutur Prof. Epi. Ia menegaskan bahwa begitu segel kemasan dibuka, proteksi steril pada susu UHT hilang, sehingga bakteri dari lingkungan sekitar bisa dengan mudah masuk dan berkembang biak.

Mengenal Food Infection dan Food Poisoning

Menariknya, susu yang sudah mulai ‘rusak’ secara biologis tidak selalu menunjukkan tanda-tanda fisik yang mencolok. Susu mungkin belum menggumpal, belum berlendir, dan aromanya masih tampak normal, namun kadar bakterinya sudah melampaui ambang batas aman. Di sinilah letak risikonya.

Prof. Epi membedakan dua kondisi medis yang sering terjadi:

  • Food Infection: Terjadi ketika bakteri masuk ke tubuh dalam jumlah tinggi, kemudian berkembang biak di saluran cerna. Biasanya ada masa inkubasi atau jeda waktu sebelum gejala mulas muncul.
  • Food Poisoning: Terjadi jika bakteri di dalam susu sudah menghasilkan toksin atau racun. Jika susu yang mengandung racun ini terminum, reaksi tubuh biasanya sangat cepat, bahkan hanya dalam hitungan menit setelah dikonsumsi.
Baca Juga  Antisipasi Dampak Konflik Geopolitik, BPOM Panggil Industri Farmasi Amankan Stok Obat Nasional

Intoleransi Laktosa: Saat Tubuh Tak Mampu Berkompromi

Selain faktor kontaminasi, ada satu pemicu yang sifatnya sangat personal, yakni intoleransi laktosa. Ini bukanlah sebuah penyakit, melainkan kondisi di mana tubuh kekurangan enzim laktase untuk memecah gula alami (laktosa) dalam susu.

Sisa laktosa yang tidak terurai ini kemudian akan difermentasi oleh bakteri di usus besar. “Proses fermentasi tersebut menghasilkan asam, gas CO2, dan alkohol. Inilah yang memicu perut kembung, begah, hingga rasa perih atau diare,” jelasnya. Jadi, meskipun kualitas susunya sangat baik dan higienis, seseorang tetap bisa mengalami gangguan pencernaan jika tubuhnya memang tidak toleran terhadap laktosa.

Kesimpulan dan Edukasi Konsumen

Sebagai konsumen yang cerdas, kita tidak boleh langsung melakukan generalisasi. Sakit perut setelah minum susu bisa dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari ketidaktoleranan tubuh, susu yang sudah terkontaminasi pasca-buka kemasan, hingga adanya toksin yang terbentuk akibat penyimpanan yang buruk.

Baca Juga  Susu vs Krimer: Mengungkap Rahasia Nutrisi di Balik Secangkir Kopi Favorit Anda

Menjaga keamanan pangan dimulai dari ketelitian kita dalam memperhatikan instruksi penyimpanan pada label produk. Selalu pastikan susu UHT yang sudah dibuka segera dihabiskan atau disimpan dalam lemari pendingin dengan suhu yang tepat untuk menghindari pertumbuhan bakteri patogen.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid