Ikuti Kami
kabarmalam.com

Bukan Sekadar Kurang Gerak, Cara Anda Menghabiskan Waktu Saat Duduk Bisa Menentukan Risiko Demensia

Wahid | kabarmalam.com
Jumat, 29 Mei 2026 08:34 WIB
Bukan Sekadar Kurang Gerak, Cara Anda Menghabiskan Waktu Saat Duduk Bisa Menentukan Risiko Demensia

Kabarmalam.com — Selama ini, gaya hidup sedenter atau kebiasaan duduk terlalu lama kerap dicap sebagai salah satu pemicu utama berbagai masalah kesehatan kronis. Namun, sebuah terobosan riset terbaru memberikan perspektif yang menyegarkan sekaligus krusial. Ternyata, ancaman demensia bukan hanya soal berapa lama kita duduk, melainkan apa yang dilakukan otak kita saat tubuh sedang beristirahat di kursi.

Sebuah studi komprehensif yang dipublikasikan dalam American Journal of Preventive Medicine mengungkapkan temuan menarik yang bisa mengubah cara kita memandang waktu luang. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa beralih dari kebiasaan duduk pasif secara mental ke aktivitas duduk yang lebih aktif dapat menurunkan risiko penurunan fungsi kognitif secara signifikan di masa depan.

Membedakan Duduk Pasif dan Duduk Aktif

Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan “duduk aktif”? Menurut laporan yang dirangkum oleh tim redaksi, aktivitas ini mencakup kegiatan yang memacu kerja otak meskipun tubuh sedang diam. Contohnya seperti membaca buku, menyelesaikan pekerjaan kantor, menulis, atau melakukan hobi yang memerlukan konsentrasi tinggi. Sebaliknya, duduk pasif digambarkan sebagai aktivitas layar yang minim keterlibatan otak, dengan contoh klasik yakni menonton televisi dalam durasi lama tanpa stimulasi pikiran.

Baca Juga  Subsidi Salah Sasaran: Menkes Bongkar Data 10 Persen Orang Kaya Masih Terima Iuran Gratis BPJS Kesehatan

Para ilmuwan dari Institut Karolinska di Swedia melakukan analisis mendalam terhadap data lebih dari 20.000 orang dewasa dalam rentang usia produktif hingga menjelang lansia, yakni 35 hingga 64 tahun. Tak tanggung-tanggung, para peserta ini dipantau selama hampir dua dekade, mulai dari tahun 1997 hingga 2016. Peneliti mengamati kaitan antara gaya hidup, kebiasaan duduk, hingga catatan kesehatan mereka untuk mengidentifikasi munculnya gejala demensia.

Pentingnya Stimulasi Kognitif Saat Tubuh Diam

Dr. Mats Hallgren, peneliti utama di balik studi prestisius ini, menekankan bahwa tidak semua perilaku kurang gerak memberikan dampak buruk yang sama bagi otak. “Meskipun semua posisi duduk hanya mengonsumsi energi fisik yang minimal, dampaknya terhadap kesehatan mental sangat bergantung pada tingkat aktivitas otak kita saat itu,” jelas Hallgren.

Baca Juga  Bukan Sekadar Lauk Murah, Riset Buktikan Tempe Adalah 'Superfood' Pelindung Otak dari Alzheimer

Ia menambahkan bahwa bagaimana kita ‘mempekerjakan’ otak saat duduk merupakan faktor penentu yang krusial bagi kesehatan otak jangka panjang. Temuan ini membuktikan bahwa stimulasi mental yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi prediktor kuat dalam mencegah timbulnya kepikunan dini. Menariknya, mengganti waktu menonton TV dengan aktivitas yang melibatkan pikiran atau aktivitas fisik ringan terbukti mampu menjadi perisai bagi kemampuan memori manusia.

Langkah Kecil untuk Investasi Masa Tua

Meskipun penelitian ini berbasis di Swedia, para ahli optimis bahwa hasilnya dapat digeneralisasi bagi masyarakat global. Hal ini menjadi kabar baik sekaligus pengingat bagi kita semua bahwa strategi pencegahan demensia bisa dimulai dari hal-hal sederhana di rumah.

Baca Juga  Komitmen Hidup Sehat, Gerai Minuman Kekinian Mulai Terapkan Label Nutri-Level demi Tekan Risiko Penyakit

Kita tidak perlu selalu berlari maraton untuk menjaga kesehatan otak. Tetap aktif secara fisik seiring bertambahnya usia memang sangat penting, namun menjaga otak tetap ‘berkeringat’ melalui aktivitas kognitif saat duduk adalah investasi yang tidak kalah berharga. Jadi, saat Anda harus duduk dalam waktu lama, pastikan otak Anda tetap bekerja dan tertantang agar fungsi memori tetap tajam hingga usia senja.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid