Ikuti Kami
kabarmalam.com

Tensi Memanas! Donald Trump Ancam ‘Ledakkan’ Oman Jika Berkoalisi dengan Iran di Selat Hormuz

Husnul | kabarmalam.com
Kamis, 28 Mei 2026 15:34 WIB
Tensi Memanas! Donald Trump Ancam 'Ledakkan' Oman Jika Berkoalisi dengan Iran di Selat Hormuz

Kabarmalam.com — Panggung geopolitik dunia kembali diguncang oleh pernyataan kontroversial Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Kali ini, bidikan retorika keras sang presiden mengarah pada Oman, sebuah negara yang selama ini dikenal karena posisi netralnya di kawasan Timur Tengah. Trump memberikan peringatan keras, bahkan mengancam akan menggunakan kekuatan militer jika Oman terbukti bekerja sama dengan Iran untuk mengontrol jalur vital perdagangan minyak dunia, Selat Hormuz.

Ancaman Militer di Tengah Rapat Kabinet

Dalam sebuah pertemuan kabinet yang berlangsung pada Rabu (27/5) waktu setempat, Trump melontarkan pernyataan yang membuat banyak pihak terbelalak. Ketika ditanya oleh awak media mengenai kemungkinan Oman dan Iran bekerja sama dalam mengawasi lalu lintas perdagangan di Selat Hormuz, Trump memberikan jawaban yang sangat lugas dan intimidatif.

“Tidak akan ada yang mengendalikannya. Itu adalah perairan internasional. Oman harus berperilaku seperti negara-negara lain, atau kita terpaksa harus meledakkan mereka,” tegas Trump sebagaimana dikutip dari laporan Aljazeera. Pernyataan ini segera memicu gelombang spekulasi, mengingat Selat Hormuz merupakan urat nadi energi global yang menangani lebih dari 20 persen pasokan minyak dunia.

Baca Juga  Iran Desak Trump: Pilih Diplomasi 'Pahit' atau Hadapi Operasi Militer yang Mustahil

Klarifikasi Departemen Luar Negeri AS

Awalnya, banyak pengamat yang mengira bahwa Trump mungkin salah ucap—mengingat kemiripan fonetik antara “Oman” dan “Iran” dalam bahasa Inggris. Namun, keraguan tersebut sirna setelah Departemen Luar Negeri AS mengunggah transkrip resmi di media sosial yang secara spesifik menyebutkan nama negara Arab tersebut. Hal ini menandakan bahwa ancaman tersebut memang ditujukan kepada Oman, sekutu lama Washington.

Hingga saat ini, Oman sendiri belum memberikan pernyataan resmi mengenai keinginan untuk bergabung dengan Teheran dalam mengelola selat tersebut. Padahal, secara historis, hubungan antara Amerika Serikat dan Oman telah terjalin sangat erat selama lebih dari dua abad, mencakup kerja sama keamanan hingga perjanjian perdagangan bebas.

Baca Juga  Berpulangnya Sang Penjaga Kedaulatan: Indonesia Berduka Atas Wafatnya Mantan Menhan Ryamizard Ryacudu

Diplomasi ‘Kapal Perang’ dan Kecaman Internasional

Kecaman pun mengalir deras menanggapi gaya bahasa Trump yang dianggap sembrono. Raed Jarrar, Direktur Advokasi di lembaga hak asasi manusia DAWN, tidak ragu menyamakan gaya komunikasi presiden AS tersebut dengan taktik seorang “bos mafia”. Menurutnya, ancaman kekerasan terhadap kedaulatan negara lain merupakan pelanggaran nyata terhadap Piagam PBB.

“Mengancam untuk ‘meledakkan’ sebuah negara hanya karena lokasi geografisnya berada di jalur minyak yang ingin dikuasai Washington adalah logika tanpa hukum. Ini adalah sinyal bahwa konflik Timur Tengah bisa meledak kapan saja hanya karena presiden kehilangan kesabarannya,” ujar Jarrar.

Latar Belakang Konflik dan Signifikansi Selat Hormuz

Ketegangan ini bermula sejak pecahnya konflik terbuka pada 28 Februari lalu, ketika AS dan Israel meluncurkan serangan ke Iran. Sebagai balasan, Teheran mulai menegaskan kedaulatannya atas Selat Hormuz dan menutup jalur tersebut bagi pihak-pihak yang dianggap musuh. Selat ini secara hukum internasional memang melewati perairan teritorial Iran dan Oman.

Baca Juga  Tragedi Bom di Kolombia Jelang Pilpres: 7 Warga Sipil Tewas, Wilayah Cauca Mencekam

Munculnya ancaman terbaru ini menyusul laporan dari media pemerintah Iran mengenai draf Memorandum of Understanding (MOU) yang mengatur pengelolaan bersama selat tersebut oleh Iran dan Oman. Meskipun Gedung Putih menyebut laporan MOU itu sebagai “rekayasa total”, reaksi keras Trump menunjukkan betapa sensitifnya isu kendali atas jalur energi ini bagi stabilitas ekonomi dan politik luar negeri Amerika Serikat.

Kini, dunia menunggu langkah diplomasi selanjutnya dari Muscat. Apakah Oman akan tetap pada posisi netralnya sebagai mediator tradisional, ataukah tekanan dari Washington justru akan mendorong pergeseran peta kekuatan di kawasan tersebut?

Tentang Penulis
Husnul
Husnul