Waspada ‘Balas Dendam’ Makan Daging Kurban, Simak Tips Dokter Agar Tetap Sehat di Hari Raya
Selasa, 26 Mei 2026 07:35 WIB
Kabarmalam.com — Perayaan Hari Raya Idul Adha memang menjadi momen yang paling dinantikan bagi para pencinta kuliner Nusantara. Aroma harum bakaran sate, gurihnya kuah gulai, hingga pekatnya bumbu rendang seolah menjadi pemandangan wajib yang menghiasi meja makan hampir di setiap rumah. Namun, di balik kelezatan hidangan tersebut, terdapat alarm kesehatan yang patut kita waspadai agar kegembiraan hari raya tidak berujung pada masalah medis.
Risiko Tersembunyi di Balik Konsumsi Daging Berlebih
Menjelang hari besar tersebut, dr. Aru Ariyanto, SpPD-KGEH, seorang dokter spesialis penyakit dalam sekaligus konsultan gastroenterologi-hepatologi dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, memberikan peringatan keras. Ia menyoroti fenomena ‘lapar mata’ yang sering membuat seseorang mengonsumsi olahan daging secara tidak terkontrol.
Menurut dr. Aru, perubahan pola makan yang sangat drastis selama Lebaran Kurban dapat menjadi pemicu utama munculnya gangguan metabolik. Kondisi ini mencakup lonjakan tekanan darah tinggi (hipertensi), kolesterol tinggi, hingga serangan asam urat yang mendadak. “Yang paling penting adalah jangan berlebihan. Mentang-mentang sedang Idul Adha, jangan sampai kita makan daging secara berlebih. Usahakan pola makan tetap terjaga seperti hari-hari biasa,” tuturnya dalam sebuah diskusi kesehatan di Jakarta.
Siapa yang Paling Berisiko?
Peringatan ini bukan tanpa alasan. dr. Aru menekankan bahwa risiko komplikasi akan jauh lebih tinggi bagi individu yang memang sudah memiliki riwayat penyakit tertentu, seperti diabetes, hipertensi, atau gangguan metabolisme lainnya. Bagi mereka, lonjakan asupan lemak dan protein dalam waktu singkat bisa menjadi bumerang yang membahayakan nyawa.
Tak hanya jumlahnya, cara pengolahan daging juga memegang peranan krusial. Hidangan yang dimasak dengan santan kental, minyak berlebih, atau penggunaan garam yang tinggi sangat berpotensi memicu peningkatan asam urat dan tekanan darah. Ia juga mengkritik kebiasaan makan daging secara maraton dari pagi hingga malam hari.
“Seringkali pola makan jadi tidak beraturan; pagi sate, siang gulai, sore tongseng, dan malamnya rendang. Pola konsumsi yang terus-menerus seperti itu harus dihindari,” tegasnya.
Menjaga Keseimbangan Nutrisi di Hari Raya
Bagi mereka yang menderita gangguan fungsi organ, seperti gagal ginjal, asupan protein yang berlebihan dapat memperberat kinerja organ tubuh tersebut secara signifikan. Sebagai alternatif yang lebih aman bagi kesehatan, dr. Aru menyarankan untuk memilih menu yang lebih ‘ringan’ seperti sop bening atau sate tanpa lemak ketimbang makanan dengan kuah santan yang pekat.
Sebagai panduan praktis, ia mengingatkan masyarakat untuk selalu menerapkan prinsip gizi seimbang dalam setiap piring makan, yang mencakup:
- Karbohidrat: Sebagai sumber energi utama.
- Protein: Dari daging kurban, namun dalam porsi yang wajar.
- Serat: Sangat penting dari sayur-sayuran dan buah-buahan untuk membantu melancarkan pencernaan dan mengikat lemak.
Dengan menerapkan pola makan sehat dan seimbang, kita tetap bisa menikmati hidangan khas Idul Adha tanpa perlu khawatir akan lonjakan gula darah atau kolesterol yang membahayakan kesehatan jangka panjang. Kuncinya adalah moderasi dan tetap bijak dalam memilih menu di hari kemenangan ini.