Sabrina Chairunnisa Jalani Egg Freezing: Menilik Prosedur Medis di Balik Tren ‘Membekukan Waktu’
Selasa, 26 Mei 2026 16:34 WIB
Kabarmalam.com — Langkah berani yang diambil oleh model sekaligus aktris kenamaan, Sabrina Chairunnisa, baru-baru ini menjadi sorotan hangat di jagat maya. Melalui unggahan di akun media sosial pribadinya, Sabrina mengumumkan keputusannya untuk menjalani prosedur egg freezing atau pembekuan sel telur. Keputusan ini tidak hanya sekadar mengikuti tren, namun merupakan bagian dari kampanye pemberdayaan perempuan yang ia usung.
“Tadinya aku agak enggan untuk menceritakan semua ini di media sosial. Namun, aku teringat salah satu visi misi terbesarku dalam bersosial media adalah untuk empowering women,” tutur Sabrina dalam unggahannya. Ia menekankan bahwa melalui perjalanannya ini, ia ingin mengingatkan banyak orang bahwa setiap wanita memiliki linimasa hidup yang berbeda. Terlambat menurut standar sosial bukan berarti terlambat dalam kehidupan yang sebenarnya.
Apa Sebenarnya Prosedur Egg Freezing Itu?
Bagi sebagian orang, istilah egg freezing mungkin masih terdengar asing. Secara medis, prosedur ini bertujuan untuk menyimpan kualitas sel telur di masa subur agar dapat digunakan di masa depan. Dr. M Luky Satria Syahbana Marwali, SpOG, SubspKFER, seorang spesialis obstetri dan ginekologi dari Brawijaya Hospital Antasari, menjelaskan bahwa inti dari prosedur ini adalah stimulasi dan penyimpanan.
Berbeda dengan program bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF) konvensional di mana sel telur langsung dibuahi oleh sperma, dalam egg freezing, sel telur disimpan dalam kondisi ‘lajang’. “Sel telur tersebut diambil dan disimpan di tempat penyimpanan khusus. Jika suatu saat nanti ingin digunakan, sel tersebut akan dicairkan terlebih dahulu sebelum dibuahi dengan sperma menjadi embrio,” jelas dr. Luky kepada tim redaksi.
Proses Medis: Tanpa Bedah dan Minim Rasa Takut
Banyak anggapan keliru yang menyebutkan bahwa pengambilan sel telur memerlukan operasi besar di meja bedah. Faktanya, prosedur ini jauh dari kesan menyeramkan tersebut. Secara teknis, metodenya hampir serupa dengan tahap awal IVF yang mengandalkan manajemen hormon.
Pasien akan melalui fase stimulasi selama kurang lebih 9 hingga 10 hari melalui suntikan hormon harian. Tujuannya adalah untuk memacu pertumbuhan sel telur agar mencapai ukuran yang optimal. Setelah dirasa cukup matang, dokter akan melakukan tindakan yang disebut Ovum Pick-Up (OPU) untuk mengambil sel-sel telur tersebut.
“Setelah didapatkan, sel telur langsung dimasukkan ke dalam kontainer kriogenik khusus untuk dibekukan,” tambah dr. Luky. Menariknya, sel-sel ini bisa bertahan dalam kondisi beku selama bertahun-tahun, selama fasilitas penyimpanannya tetap terjaga dengan baik.
Investasi Jangka Panjang untuk Kesehatan Reproduksi
Keputusan melakukan pembekuan sel telur sering kali dipandang sebagai bentuk asuransi bagi kesehatan reproduksi wanita. Meski memberikan fleksibilitas waktu, dr. Luky mengingatkan bahwa prosedur ini pada akhirnya akan bermuara pada program bayi tabung ketika sang wanita sudah siap secara fisik dan mental untuk menjalani kehamilan.
Kisah Sabrina Chairunnisa ini membuka tabir edukasi bagi banyak wanita Indonesia tentang pentingnya memahami pilihan-pilihan medis yang tersedia untuk menjaga masa depan reproduksi mereka. Bahwa teknologi medis kini hadir untuk memberikan kendali lebih besar atas pilihan hidup seorang perempuan.